IMF Memperingatkan Konsekuensi Besar Jika AS Gagal Bayar Utang
Selasa, 07 Feb 2023, 00:19 WIBWASHINGTON DC -Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF), Kristalina Georgieva, pada Minggu (5/2), memperingatkan, konsumen Amerika serta ekonomi dunia akan mengalami kerugian yang signifikan jika sampai Amerika Serikat (AS) gagal bayar utang.
Georgieva mengatakan, inflasi AS yang mencapai level tertinggi selama empat dekade pada tahun lalu, tidak akan ada apa-apanya dibandingkan dengan penderitaan yang akan ditimbulkan oleh gagal bayar.
"Akan sangat merugikan konsumen AS jika AS gagal bayar, yang akan mendorong kenaikan suku bunga," katanya dalam acara "60 Menit" CBS.
"Dan jika orang tidak menyukai inflasi hari ini, mereka sama sekali tidak akan menyukai apa yang mungkin terjadi besok," ungkap dia.
Dilansir oleh Bloomberg, pernyataan tersebut menguatkan peringatan tentang risiko kehancuran pasar jika Kongres AS gagal menyelesaikan kebuntuan antara Partai Republik dan Presiden Joe Biden mengenai peningkatan plafon utang.
"Guncangan global seperti pandemi Covid-19 dan perang di Ukraina telah mengajari kita untuk lebih berpikiran terbuka, bahwa hal yang tidak terpikirkan dapat terjadi," kata Georgieva.
"Dan inilah mengapa sangat penting bagi semua orang yang berkepentingan untuk menanggapi percakapan ini dengan sangat serius," tegasnya.
Georgieva berharap bahwa kekhawatiran tersebut tidak akan terjadi. "Jika Anda melihat sejarah, biasanya setelah banyak maju-mundur, ditemukan solusi," ujarnya.
Dengan Partai Republik berusaha mendapatkan janji pemotongan anggaran federal dengan imbalan pencabutan batas utang, Biden dan Ketua DPR, Kevin McCarthy, pada minggu lalu mengadakan pertemuan awal di Gedung Putih tanpa berhasil menyelesaikan perselisihan tersebut.
Secara hukum, utang pemerintah federal tidak boleh melebihi 31,4 triliun dolar AS, batas yang telah dicapai pada 19 Januari. Departemen Keuangan mengatakan, AS dapat bertahan setidaknya hingga awal Juni dengan menggunakan manuver akuntansi khusus.
Georgieva memperingatkan bahwa 60 persen negara berpenghasilan rendah berada pada atau mendekati krisis utang, dan menegaskan kembali seruannya agar Tiongkok, kreditur terbesar negara berkembang, untuk bekerja sama dalam pembicaraan restrukturisasi utang multipartai.
"Tiongkokharus mengubah kebijakannya karena negara berpenghasilan rendah tidak dapat membayar. Ini adalah saat restrukturisasi utang menjadi prioritas utama," katanya.
Menurut Georgieva, forum kreditur, dari pemberi pinjaman tradisional hingga peserta baru seperti Tiongkokdan India, akan bertemu di India bulan ini. Tiongkok akan diwakili oleh menteri keuangan dan gubernur bank sentral.
Georgieva juga mengatakan, IMF memiliki peran di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa ekonomi global menjadi lebih terfragmentasi.
"Saya benar-benar mempertimbangkan untuk menjadikan ekonomi terintegrasi sebagai prioritas utama kami hari ini," katanya, sambil mencatat bahwa bagian dari upaya itu adalah membuat dampak globalisasi lebih adil.
Redaktur: Marcellus Widiarto
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Kemenekraf Cegah Kebocoran Ekonomi Sektor Perfilman Akibat Pembajakan, Bagaimana Solusinya?
-
Polda Metro Jaya Gelar Operasi Pekat Jaya 2026 Jelang Ramadan
-
Kronologi Anggota Pasukan Bela Diri Jepang Masuk Tanpa Izin ke Kedubes China
-
Korban Banjir Jakarta Cukup Bawa Badan! Gubernur Pramono Gratiskan Seluruh Biaya Rumah Sakit
-
1.000 Personel akan Dikerahkan untuk Menjaga Pasokan Selama Ramadhan di Babel
-
IMF akan Pangkas Perkiraan Pertumbuhan Global Akibat Perang Timur Tengah
-
Pertamina Pastikan Distribusi BBM untuk Arus Balik Lebaran di Sumut Aman
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.