RI Harus Jaga Asean Terhindar dari Krisis Pangan dan Energi
Senin, 30 Jan 2023, 00:03 WIBJAKARTA - Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) dalam sambutannya pada acara "Kick Off Keketuaan Asean Indonesia 2023" di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, Minggu (29/1), mengatakan Indonesia telah menjalankan Presidensi G20 dengan baik pada 2022. Pada 2023, Indonesia menjadi Ketua Asean di tengah situasi global yang sangat tidak mudah.
"Krisis ekonomi, krisis energi, krisis pangan, semua, perang, semua sedang terjadi," kata Presiden.
Sebab itu, Jokowi yakin Asean masih penting dan masih relevan bagi rakyat, kawasan, dan semua. Asean, kata Kepala Negara, akan terus berkontribusi bagi kawasan Indo- Pasifik dan menjaga pertumbuhan ekonomi di kawasan.
"Asean akan terus berkontribusi bagi perdamaian dan stabilitas di Indo-Pasifik. Asean akan terus dapat menjaga pertumbuhan ekonomi dan Asean matters epicetrum of growth," kata Jokowi.
Indonesia telah memulai tanggung jawab sebagai Ketua Asean 2023 sejak Presiden Jokowi menerima palu tanda penyerahan keketuaan dari Kamboja pada KTT ke-40 dan ke-41 Asean di Phnom Penh, Kamboja, 14 November 2022 lalu.
Beberapa Duta Besar (Dubes) negara sahabat yang hadir pada kesempatan itu menegaskan dukungan mereka kepada Indonesia sebagai Ketua Asean.
Dubes Belanda untuk Indonesia, Lambert Grijns, menyebut peran ketua tersebut penting untuk stabilitas dan kemakmuran regional, sehingga Indonesia memikul tanggung jawab untuk membimbing Asean melalui periode yang dinilai cukup menantang saat ini.
"Saya sangat yakin Indonesia sebagai salah satu negara anggota terpenting, mungkin yang lebih berpengaruh bisa memenuhi peran ini," kata Grijns.
Dia menilai ada dua elemen penting yang harus dimajukan Indonesia selama masa Keketuaan di Asean, yaitu perdamaian di Myanmar serta integrasi ekonomi.
Sentralitas Kawasan
Ketua Departemen Politik Pemerintahan dan Hubungan Internasional, Universitas Brawijaya, Malang, Aswin Ariyanto Azis, mengatakan fokus dan prioritas Indonesia dalam memimpin Asean adalah mengembalikan sentralitas kawasan tersebut di tengah rivalitas Tiongkok dan Amerika Serikat (AS).
"Indonesia harus menjaga stabilitas keamanan regional Asia Tenggara demi kondusifitas tekanan ekonomi global seperti krisis inflasi global, pangan dan energi," kata Aswin.
Dihubungi terpisah, peneliti ekonomi Core, Yusuf Rendi Manilet, mengatakan dalam beragam konteks peran Asean ini menjadi lebih penting terutama dalam beberapa tahun terakhir.
Asean menjadi salah satu region yang pertumbuhan ekonominya cepat. Indonesia misalnya bisa tumbuh di kisaran lima persen, saat banyak negara tidak mampu mencapai level tersebut. Selain itu, peran Singapura dan Thailand yang strategis patut dicontoh sebagai negara yang mampu mendorong pariwisatanya untuk memajukan perekonomian mereka.
"Setelah pandemi, saya kira peran Asean menjadi lebih penting terutama dalam mendorong bagaimana negara-negara anggotanya untuk bisa pulih dan tumbuh lebih tinggi," kata Rendi.
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Misi Artemis II Berakhir, NASA Siaga Sambut 4 Astronot di Samudra Pasifik
-
Liga Champions: Arsenal Bertahan di Tengah Tekanan, Tahan Sporting dan Melaju ke Semifinal
-
Musrenbang Usulkan Angkutan Antarpulau
-
Konflik Timur Tengah dapat Picu Ambisi Energi Nuklir di Asia Tenggara
-
Cleveland Cavaliers Gilas Dallas Mavericks dengan Skor 138-105
-
Gaji ke-13 ASN Disinyalir Cair Juni 2026, Ini Komponen dan Rinciannya
-
Bantuan logistik untuk penyintas gempa di Pulau Batang Dua
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.