Apa Itu Trombosis Sinus Vena Serebral?
Rabu, 25 Jan 2023, 06:55 WIBTrombosis sinus vena serebral (cerebral venous sinus thrombosis/CVST) terjadi ketika bekuan darah terbentuk di sinus vena otak. Ini mencegah darah mengalir keluar dari otak. Akibatnya, sel darah dapat pecah dan mengeluarkan darah ke jaringan otak, sehingga menimbulkan perdarahan.
Rangkaian peristiwa ini tak semata-mata merupakan bagian dari stroke yang dapat terjadi pada orang dewasa dan anak-anak, namun juga bisa terjadi bahkan pada bayi baru lahir dan bayi dalam kandungan.
Stroke dapat merusak otak dan sistem saraf pusat. Stroke serius dan membutuhkan perhatian medis segera.
Adapun CVST adalah bentuk stroke yang langka dan menurut lamanhopkinsmedicine-org, bisa mempengaruhi sekitar 5 orang dalam 1 juta setiap tahun. Sedangkan risiko stroke jenis ini pada bayi baru lahir paling besar selama bulan pertama. Secara keseluruhan, sekitar 3 dari 300.000 anak dan remaja hingga usia 18 tahun akan mengalami stroke.
Anak-anak dan orang dewasa memiliki faktor risiko CVST yang berbeda. Faktor risiko untuk anak-anak dan bayi meliputi (1) masalah dengan cara darah mereka membentuk gumpalan, (2) anemia sel sabit, (3) anemia hemolitik kronis, (4) beta-thalassemia mayor, (5) penyakit jantung, baik bawaan maupun bukan bawaan, (6) kekurangan zat besi, (7) infeksi tertentu, (8) dehidrasi, (9) cedera kepala, serta (10) untuk bayi baru lahir, ibu yang mengalami infeksi tertentu atau riwayat infertilitas.
Sedangkan faktor risiko untuk orang dewasa meliputi (1) kehamilan dan beberapa pekan pertama setelah melahirkan, (2) masalah dengan pembekuan darah, misalnya, sindrom antifosfolipid, defisiensi protein C dan S, defisiensi antitrombin III, antikoagulan lupus, atau mutasi faktor V Leiden, (3) kanker, (4) penyakit pembuluh darah kolagen seperti lupus, granulomatosis Wegener, dan sindrom Behcet, (5) kegemukan, (6) tekanan darah rendah di otak (hipotensi intrakranial), dan (7) penyakit radang usus seperti penyakit Crohn atau kolitis ulserativa.
Gejala trombosis sinus vena serebral dapat bervariasi, tergantung pada lokasi trombus. Sedangkan gejala fisik yang mungkin terjadi antara lain sakit kepala, penglihatan kabur, pingsan atau kehilangan kesadaran, kehilangan kontrol atas gerakan di bagian tubuh, kejang, dan koma.
Sedangkankomplikasi trombosis sinus vena meliputi (a) gangguan bicara, (b) kesulitan menggerakkan bagian tubuh, (c) masalah dengan penglihatan, (d) sakit kepala, (e) peningkatan tekanan cairan di dalam tengkorak, (f) tekanan pada saraf, (g) kerusakan otak, (h) keterlambatan perkembangan, serta (i) kematian.
Bagaimana Pencegahannya?
Menurut lamanhopkinsmedicine-org, pencegahan CVST bisa dilakukan dengan banyak hal seperti dengan menjalani gaya hidup sehat bagi jantung seperti makan makanan rendah lemak, termasuk banyak buah dan sayuran, berolahraga setiap hari, menghindari asap rokok, serta mengontrol kondisi kesehatan kronis.
Anda juga bisa hidup dengan trombosis sinus vena serebral secara normal jika sudah pernah menderitanya. Apa yang perlu Anda lakukan untuk pulih dan tetap sehat setelah CVST akan bergantung pada bagaimana stroke mempengaruhi otak Anda. Setiap orang bisa mendapatkan keuntungan dari diet sehat dan olahraga.
Anda mungkin juga perlu berpartisipasi dalam program rehabilitasi khusus atau terapi fisik, jika Anda kehilangan beberapa gerakan atau kemampuan berbicara.
Sementara kemungkinan efek stroke lainnya, seperti sakit kepala atau perubahan penglihatan, dapat ditangani oleh spesialis.
Jika Anda pernah mengalami stroke jenis ini, Anda mungkin perlu menghindari jenis obat tertentu, seperti kontrasepsi oral karena hal ini dapat meningkatkan risiko pembekuan darah.
Trombosis sinus vena serebral (CVST) sendiri terjadi ketika bekuan darah terbentuk di sinus vena otak. Jika Anda memiliki trombosis sinus vena serebral maka Anda perlu sigap untuk menanggapinya dengan cepat jika terasa gejala seperti sakit kepala, penglihatan kabur, pingsan, kehilangan kendali atas bagian tubuh Anda, dan kejang.
Jika Anda mengalami gejala di atas, mintalah seseorang untuk segera membawa Anda ke ruang gawat darurat untuk meminta bantuan. Minumlah obat-obatan Anda sesuai resep, dan tanyakan kepada penyedia kesehatan Anda untuk memastikan bahwa tidak ada obat-obatan Anda yang meningkatkan risiko Anda terkena CVST.
langkah berikutnya yaitu mendidik orang yang Anda cintai tentang gejala CVST sehingga mereka dapat bersiap dalam keadaan darurat.
Kemudian jalani gaya hidup sehat yang mencakup makan makanan rendah lemak yang sebagian besar terdiri dari buah-buahan dan sayuran, daging dan protein rendah lemak, produk susu rendah lemak, dan biji-bijian berserat utuh, roti, sereal, dan pasta.
Dan jangan lupa agar berolahragalah setiap hari serta hindari merokok. SB/I-1
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Hindari Demensia! Jenis Tidur Ini Penting untuk Kesehatan Otak
-
Pengunjung Kebun Raya Bogor Melonjak 40 Persen saat Lebaran
-
Mensos-Perguruan Tinggi Tandatangani MoU Pengentasan Kemiskinan di Jawa Barat
-
Cuaca Jakarta Hari Ini: Pagi hingga Siang Berawan Tebal, Sore Hujan Ringan
-
6 Cara Menjaga Kesehatan Otak Agar Terhindar dari Demensia di Masa Tua
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.