Warga Tiongkok Tak Sabar Rayakan Imlek di Kampung Halaman

Sabtu, 21 Jan 2023, 16:00 WIB

SHANGHAI - Di kereta yang penuh sesak, pemilik pabrik Wang Chunfeng termasuk di antara jutaan orang Tiongkok yang ingin menebus waktu yang hilang pada Tahun Baru Imlek ini setelah bertahun-tahun terpisah dari keluarga akibat pandemi.

Akhir pekan ini, Tiongkok akan menyambut Tahun Kelinci, memulai "Festival Musim Semi" dan pertemuan keluarga tahunan yang paling penting.

Ket. Foto: Tiongkok akhir pekan ini akan menyambut Tahun Baru Imlek, memulai "Festival Musim Semi" dan bertemu keluarga. — Sumber: AFP/Hector RETAMAL

Pada Jumat (19/1), penumpang di sebuah stasiun di Shanghai berkerumun di gerbong menuju pusat kota Wuhan, tempat kasus pertama Covid-19 dilaporkan pada 2019.

"Besok kita akan mengadakan reuni besar-besaran," kata Wang yang berusia sekitar 40 tahun, bersemangat.

Anggota keluarganya yang lain telah melakukan perjalanan ke kampung halamanan beberapa hari sebelumnya.

"Ini pertama kalinya dalam tiga tahun kita semua akan bersama," tambahnya.

Akhir dari kebijakan nol-Covid di Tiongkok telah menandai kembalinya kehidupan normal, bahkan ketika jumlah kasus telah melonjak secara nasional.

Pemimpin Xi Jinping minggu ini menyatakan "prihatin" tentang situasi virus di daerah pedesaan karena jutaan orang pergi dari kota-kota yang terkena dampak parah ke pedesaan, di mana fasilitas medis kekurangan staf dan dana.

Tetapi banyak penumpang kereta merayakannya.

"Kami tidak sabar untuk melihat orang tua kami," kata Li (35) yang bepergian dengan anak dan suaminya untuk memberi kejutan kepada kerabat mereka.

"Untuk memastikan mendapat tiket, saya menyetel jam weker saya pada jam 5 pagi selama seminggu."

Mendapatkan tiket "jauh lebih sulit daripada tahun lalu", kata suaminya.

Pasangan yang menjalankan sebuah restoran di dekat Shanghai itu terpaksa melakukan perjalanan enam jam dengan kursi yang berjauhan satu sama lain.

Keduanya mengatakan kerabat mereka baru saja sembuh dari Covid.

Kebijakan Baru, Kebiasaan Lama

Setelah virus muncul di Wuhan, 11 juta warganya menghabiskan Imlek 2020 dalam penguncian yang memutus mereka dari dunia luar selama 76 hari.

Banyak kota lain di provinsi Hubei mengikuti.

Selama tiga tahun berikutnya, serangkaian pembatasan dan berbagai persyaratan pengujian membuat perjalanan keliling Tiongkok menjadi sangat sulit.

Sejak pemerintah tiba-tiba melonggarkan kebijakan nol-Covid pada awal Desember, Tiongkok mengalami ledakan perjalanan domestik.

Dengan ruang yang sempit di kereta, penumpang menggantung tas kecil di kursi masing-masing, sementara koper hitam besar menghalangi koridor di atas gerbong.

Seorang wanita muda bertopi kuning menonton serial TV di ponselnya, dengan Ransel di pangkuannya, koper dan tas olahraga di bawah kakinya. Sementara seorang pria yang lebih tua mendengkur dengan puas di kursinya.

Di seberang, seorang gadis berswafoto, tampaknya senang melakukan perjalanan itu.

Semua pelancong yang berbicara dengan AFP di atas kereta mengatakan pernah tertular virus dan telah pulih.

Tapi kebiasaan lama sulit dihilangkan. Seorang musafir mengenakan setelan hazmat lengkap, yang lainnya menutupi wajah mereka dengan pelindung plastik.

Seorang wanita mendisinfeksi lantai gerbong secara berkala. Pengumuman rutin menyiarkan pesan yang menekankan bahwa epidemi belum berakhir.

Ding Qiongxia, seorang pekerja manajemen properti dari Wuhan yang bekerja di Shanghai pulang untuk pertama kalinya dalam dua tahun.

"Meskipun kita sudah terbuka, saya masih khawatir. Setiap orang perlu mengambil tindakan untuk melindungi diri mereka sendiri," katanya kepada AFP.

"Bagi orang tua dan lansia yang belum terkena Covid, kita tetap harus berhati-hati terhadap mereka. Kita tetap mengkhawatirkan mereka."

Tang Shufeng tidak perlu diingatkan. Dia mengatakan kepada AFP bahwa kakeknya baru saja meninggal karena virus tersebut.

Pria berusia 34 tahun yang bekerja di sebuah perusahaan pelayaran mengatakan sedang mengunjungi neneknya yang tinggal sekitar 50 kilometer dari Wuhan.

"Nenek saya tidak sehat sama sekali, karena Covid," keluhnya sambil mengatakan bahwa dia "sangat khawatir". "Orang tua saya ingin kami kembali tetapi mereka khawatir Covid kembali bersama kami."

"Ini sangat bertentangan."

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: AFP

Berita Terbaru

Tim Gabungan Kendalikan Titik Api di TPSA Ciniru Kuningan

Iran Ancam Anggap Musuh Siapa Pun yang Ikut Blokade Ekonomi AS

Kanada Balas Tarif Trump, Siap Bidik Baja hingga Elektronik AS

Tragedi Shalat Jumat di Nigeria: Masjid Diserbu Geng Motor, 60 Jemaah Raib Diculik

Modus Baru, Penipu di Kamboja Jual Jasa 'Anti-Banned' untuk Kuras Data Medsos

Bangladesh Punya Presiden Baru Setelah Pemilu Sengit 35 Tahun Terakhir

Simbol Hubungan Akrab, Sultan Brunei-Anwar Ibrahim Gelar Pertemuan di Istana Nurul Iman

LG Borong 17 Penghargaan IDEA 2026, Perkuat Prestasi Triple Crown di Ajang Desain Global

Trump Sumringah, Mahkamah Agung AS Izinkan Kembali Pembangunan Ballroom Gedung Putih

Uniqlo Fall/Winter 2026 Hadirkan Gaya Urban Fleksibel, Temani Aktivitas dari Kerja hingga Traveling

Terisolasi Usai Gempa M 7,7! Kemen ESDM Beberkan Kondisi Listrik dan BBM di Manggarai!

Ramaikan GBK, Lebih dari 5.000 Peserta Tumpah Ruah di BrookFarm Almond Run 2026

Siap Duduk Satu Meja? Pertemuan Putin dan Donald Trump di KTT APEC Tinggal Menunggu Waktu!

Mencekam! Lahan Gambut Pinggir Jalan Tol Mendadak Terbakar, Petugas Bertarung Tengah Malam!

Harga Bahan Pokok Lebak Merangkak Naik, Ada Apa dengan Pasar?

Tinggalkan Cara Lama! UMKM Papua Dipaksa Naik Kelas Lewat Jurus Digital BI!

Ekspedisi Patriot Gebrak di Kawasan Transmigrasi Simeulue, Budi Daya Ikan Dibidik Jadi Mesin Ekonomi

Omzet UMKM di KKI 2026 Tembus Rp144,2 Miliar, Produk Lokal Makin Menggigit

TP PKK dan Pemkab Banjar Buka Akses Layanan Operasi Bibir Sumbing Berkelanjutan

Bangkit dari Cedera Langsung Juara Dunia! Keajaiban An Se-young Hancurkan Mimpi Rekor Akane!

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.