Pasar Obligasi Indonesia Dibayangi Sejumlah Risiko

Rabu, 18 Jan 2023, 09:09 WIB

JAKARTA - Pasar obligasi di dalam negeri dibayangai sejumlah risiko tahun ini mulai dari dampak geopolitik dan pendekatan kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Fed hingga dinamika politik di dalam negeri jelang Pemilu 2024.

Director & Chief Investment Officer PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), Ezra Nazula, mengingatkan untuk mewaspadai risiko yang ada pada pasar obligasi Indonesia sepanjang 2023. Ketidakpastian di pasar global akibat berlanjutnya perang Russia dan Ukraina bisa berdampak terhadap pasar obligasi Indonesia.

Ket. Foto: — Sumber: istimewa

Kemudian, juga perlu mewaspadai kebijakan the Fed dan bank sentral dunia lainnya yang berpotensi kembali hawkish atau agresif apabila data ekonomi masih kuat di atas konsensus. Selain itu, tekanan politik yang berpotensi timbul di dalam negeri menjelang Pemilu 2024.

"Kami memperkirakan imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun bisa kembali ke kisaran 6,50 persen hingga 6,75 persen," ujar Ezra dalam webinar bertajuk 2023 Market Outlook : Seeds of Opportunity secara daring di Jakarta, Selasa (17/1).

Dia juga memaparkan tiga katalis utama pasar obligasi Indonesia selama tahun 2023, diantaranya, pertama, membaiknya indikator makroekonomi seperti defisit fiskal di bawah target pemerintah sebesar 3 persen bisa mendukung kenaikan rating Indonesia.

Kedua, menguatnya permintaan domestik, terutama dari investor perbankan, asuransi, dana pensiun, dan investor ritel diperkirakan masih akan kuat untuk menopang pasar. Ketiga, skenario dibukanya kembali ekonomi China diperkirakan akan membantu meningkatkan sentimen positif ke pasar global.

Kinerja Positif

Dia menjelaskan pasar obligasi Indonesia mencatatkan kinerja positif 3,5 persen pada tahun 2022, artinya lebih baik dibandingkan pasar lain di kawasan Asia, seperti Hong Kong (-8,6 persen), Filipina (-6,0 persen), Singapura (-5,1 persen), dan Thailand (-4,0 persen).

Dia mengatakan kurva imbal hasil pasar obligasi Indonesia menunjukkan pola bearish flattening selama 2022, yang mana obligasi dengan tenor paling pendek (2 tahun) mengalami kenaikan imbal hasil paling signifikan sebesar 181 basis poin (bps).

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.