5 Lingkungan Toxic yang Masih Langgengkan Diskriminasi Berat Badan
Selasa, 17 Jan 2023, 10:23 WIBMeskipun diskriminasi ras sekarang ilegal, diskriminasi berat badan yang termasuk weight bias masih dianggap hal yang biasa secara sosial. Walau tak banyak dibicarakan, Insider melaporkan weight bias dialami oleh sekitar 40 persen orang dewasa.
Weight bias atau fatphobia merupakan prasangka, stereotip, dan diskriminasi terhadap seseorang karena berat badan mereka.
Banyak dari mereka yang diperlakukan tidak adil hanya karena memiliki berat badan atau bentuk tubuh yang tidak ideal. Padahal, diskriminasi berat dikaitkan dengan peningkatan kemungkinan kematian hampir 60 persen.
Tidak semua orang mengalami stigma berat badan dengan cara yang sama, tingkat keparahannya dapat bervariasi tergantung pada identitas atau hubungan Anda. Bahkan jika Anda tidak mengalami stigma berat badan di satu aspek kehidupan Anda, Anda mungkin mengalaminya di aspek lain.
Berikut lima circle atau lingkungan di mana orang sering mengalami weight bias, seperti dirangkum dari Insider:
1. Lingkup pertemanan dan keluarga
Salah satu cara stigma berat badan yang menyakitkan muncul adalah sebagai komentar antara teman dan anggota keluarga, baik yang diniatkan atau tidak. Misalnya, seorang teman mungkin mengeluh kepada Anda tentang betapa tidak bahagianya mereka dengan tubuhnya meskipun tubuhnya jauh lebih kecil dari Anda.
Psikoterapis dan pendiri praktik terapi Body Love Therapy, Emily Capelli menyebut komentar seperti itu menyiratkan bahwa tubuh yang lebih besar atau berat badan yang lebih tinggi itu memalukan.
"Subteksnya adalah, 'Saya tidak ingin terlihat seperti Anda,'" kata Capelli.
2. Tempat kerja
Banyak tempat kerja yang masih melanggengkan weight bias termasuk diskriminasi berdasarkan berat badan yang tentunya menyebabkan sejumlah ketidakadilan.
Wakil Direktur Rudd Center for Food Policy & Health, Rebecca Puhl menunjukkan, orang-orang berbadan lebih besar lebih sulit mendapatkan pekerjaan atau dipromosikan. Mereka juga lebih berpotensi untuk diberhentikan daripada pekerja yang memiliki postur tubuh lebih kurus.
3. Fasilitas kesehatan
Penelitian yang dikutip Insider, telah menunjukkan bahwa dokter cenderung mempercayai stereotip orang bertubuh besar sebagai pemalas dan tidak mengikuti nasihat medis, seperti pola hidup sehat.
Phul mengatakan tak sedikit pasien dengan tubuh besar sering merasa stigmatisasi oleh dokter mereka, sampai-sampai mereka menghindari atau menunda perawatan medis.
Dalam kasus lain, dokter mungkin melewatkan diagnosis penting karena bias berat badan. Misalnya, beberapa orang dengan tubuh besar telah melaporkan bahwa dokter tidak mengetahui tanda-tanda kanker karena awalnya mereka menghubungkan gejala yang diderita pasien dengan berat badan orang tersebut.
4. Sekolah
Insider mencatat intimidasi berbasis berat badan adalah salah satu jenis intimidasi yang paling umum dialami anak-anak di sekolah. Hal itu termasuk membuat komentar menggoda tentang ukuran badan seseorang.
Penelitian telah menunjukkan bahwa bahkan di perguruan tinggi, siswa menilai individu bertubuh besar kurang berhasil secara akademis daripada rekan mereka yang lebih kurus.
5. Toko
Ada alasan mengapa seseorang dengan berat badan berlebih kesulitan mencari pakaian atau bahkan furnitur. Banyak toko pakaian tidak menjual barang-barang yang dapat dikenakan oleh orang bertubuh besar. Demikian pula, orang bertubuh besar mungkin sulit menemukan kursi atau meja yang memenuhi standar nyaman mereka.
Jenis bias di mana-mana ini disebut stigma bobot yang dilembagakan. Meskipun stigma ini tidak mengarah pada Anda secara pribadi, itu tetap berbahaya karena turut melanggengkan stigma tersebut.
"Anda mendapat pesan nonverbal bahwa ada yang salah dengan diri Anda, ada yang salah dengan tubuh Anda, tubuh Anda terlalu besar untuk berada di sini," kata Psikoterapis dan pendiri Body-Positive Therapy, Zoë Bisbing.
Redaktur: Fiter Bagus
Penulis: Suliana
Berita Terkait:
-
EU Sebut Konflik Timur Tengah Ganggu Stabilitas Pasar Energi
-
Komentar Kevin Diks Soal John Herdman: Perbandingan dengan Shin Tae-yong dan Patrick Kluivert.
-
27,6% Perempuan Indonesia Insecure soal Gigi
-
Perang Iran Hari ke-35 : Apa Saja yang Terjadi?
-
Pemkab Magetan Tancap Gas! Sirkuit Suryo Dikebut Masuk Tahap II
-
IKWI Perkuat Identitas dan Legalitas Organisasi
-
Bupati Banyumas Dorong Kepala Sekolah Melek Digital dan Inovatif
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.