- Home
-
- Luar Negeri
-
- Studi: Kekebalan Insektisi...
Studi: Kekebalan Insektisida Nyamuk di Asia Meningkatkan Ancaman
Rabu, 11 Jan 2023, 23:59 WIBTOKYO - Penelitian terbaru memperingatkan, nyamuk penular demam berdarah dan virus lainnya telah berevolusi menjadi kebal terhadap insektisida di beberapa bagian Asia. Ini menuntut cara baru untuk mengendalikannya.
Dilansir oleh The Straits Times, otoritas kesehatan biasanya mengaburkan daerah yang dipenuhi nyamuk dengan awan insektisida, dan resistensi telah lama menjadi perhatian, tetapi skala masalahnya tidak dipahami dengan baik.
Ilmuwan Jepang, Shinji Kasai dan tim meneliti nyamuk dari beberapa negara di Asia serta Ghana, dan menemukan serangkaian mutasi telah membuat beberapa nyamuk hampir kebal terhadap bahan kimia populer berbasis piretroid seperti permetrin.
"Di Kamboja, lebih dari 90 persen nyamuk Aedes aegypti memiliki kombinasi mutasi yang menghasilkan tingkat resistensi yang sangat tinggi," kata Kasai kepada AFP.
Dia menemukan, beberapa strain nyamuk memiliki resistensi 1.000 kali lipat, dibandingkan dengan 100 kali lipat yang terlihat sebelumnya. Itu berarti tingkat insektisida yang biasanya membunuh hampir 100 persen nyamuk dalam sampel hanya membunuh sekitar tujuh persen serangga.
Bahkan dosis yang 10 kali lebih kuat membunuh hanya 30 persen nyamuk yang sangat kebal.
"Tingkat resistensi yang kami temukan pada nyamuk di Kamboja dan Vietnam sama sekali berbeda," kata Kasai yang juga menjabat sebagao direktur Departemen Entomologi Medis di Institut Nasional Penyakit Menular Jepang.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia atau (World Health Organization/WHO), nyamuk demam berdarah dapat menginfeksi sekitar 100 hingga 400 juta orang per tahun, meskipun lebih dari 80 persen kasusnya ringan atau tanpa gejala.
Beberapa vaksin demam berdarah telah dikembangkan, dan para peneliti juga menggunakan bakteri yang mensterilkan nyamuk untuk mengatasi virus tersebut.
Tapi belum ada pilihan untuk memberantas demam berdarah, dan nyamuk Aedes aegypti membawa penyakit lain, termasuk zika dan demam kuning.
Resistensi juga terdeteksi pada nyamuk jenis lain, Aedes albopictus, meskipun pada tingkat yang lebih rendah, mungkin karena ini cenderung makan di luar ruangan, sering kali pada hewan, dan mungkin lebih sedikit terpapar insektisida dibandingkan nyamuk Aedes aegypti yang menyukai manusia.
Penelitian menemukan, beberapa perubahan genetik terkait dengan resistensi, termasuk dua yang terjadi di dekat bagian nyamuk yang menjadi sasaran piretroid dan beberapa insektisida lainnya.
Tingkat resistensi berbeda, dengan nyamuk dari Ghana serta sebagian Indonesia dan Taiwan masih relatif rentan terhadap bahan kimia yang ada, terutama pada dosis yang lebih tinggi.
"Tetapi penelitian menunjukkan strategi yang biasa digunakan mungkin tidak lagi efektif," kata peneliti nyamuk di NSW Health Pathology dan University of Sydney, Cameron Webb.
"Ada bukti yang berkembang bahwa mungkin tidak ada tempat untuk formulasi insektisida saat ini dalam mengendalikan populasi hama nyamuk utama," kata Webb kepada AFP.
Dia mengatakan, bahan kimia baru diperlukan, tetapi pihak berwenang dan peneliti juga perlu memikirkan cara lain untuk melindungi masyarakat, termasuk vaksin.
"Kita harus memikirkan tentang merotasi insektisida yang memiliki lokasi target berbeda. Masalahnya adalah kita tidak memiliki begitu banyak jenis yang dapat kita gunakan," tambah Kasai, yang penelitiannya dipublikasikan bulan lalu di jurnal Science Advances.
Pilihan lain termasuk lebih banyak upaya untuk menghapus tempat berkembangbiak nyamuk.
Kapan dan di mana mutasi resistensi muncul masih menjadi misteri, tetapi Kasai sekarang memperluas penelitian di tempat lain di Asia dan memeriksa sampel yang lebih baru dari Kamboja dan Vietnam untuk melihat apakah ada yang berubah dari periode studi 2016-2019.
"Kami khawatir nyamuk dengan mutasi yang kami temukan dalam penelitian ini akan menyebar ke seluruh dunia dalam waktu dekat," ujarnya.
"Sebelum itu, kita harus memikirkan solusinya," tukasnya. SB/ST/and
Redaktur: andes
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Oknum Prajurit TNI Terlibat Penganiayaan di Tangsel akan Dihukum
-
Line-Up Timnas Indonesia vs Tiongkok di Kualifikasi Piala Dunia 2026: Emil Audero Debut, Romeny Starter
-
Nyamuk Tidak Hidup di Islandia, Kok Bisa?
-
GoodKnight Elektrik, Solusi Tidur Nyenyak Anak untuk Tumbuh yang Optimal
-
Petani Tersenyum, Pembeli Girang! Pasar Tani NTT Disambut Meriah
-
Jayapura Awasi Pembayaran Pajak secara Elektronik
Berita Terbaru
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.