Penduduk Bumi Akan Bisa Melihat Komet Hijau dengan Mata Telanjang

Senin, 09 Jan 2023, 00:00 WIB

PARIS - Para astronom mengatakan untuk pertama kalinya dalam 50.000 tahun sebuah komet yang baru ditemukan akan melewati Bumi dan Matahari dalam beberapa minggu mendatang. Saat melesat, benda langit itu dilaporkan bisa dilihat dengan mata telanjang.

Dikutip dari The Straits Times, baru-baru ini komet itu disebut C/2022 E3 (ZTF) setelah Zwicky Transient Facility, yang pertama kali melihatnya melewati Jupiter pada Maret 2022.

Ket. Foto: KOMET C/2022 E3 I Komet C/2022 E3 (ZTF) akan tampak paling dekat dengan Matahari pada Kamis (12/1) dan lewat paling dekat dengan Bumi pada 1 Februari 2023. — Sumber: ISTIMEWA

Setelah melakukan perjalanan dari jangkauan es tata surya, komet akan datang paling dekat ke Matahari pada 12 Januari dan melewati Bumi dalam jarak terdekat pada 1 Februari.

Ini akan mudah dikenali dengan teropong yang baik dan bahkan mungkin dengan mata telanjang, asalkan langit tidak terlalu diterangi oleh lampu kota atau bulan.

"Komet itu akan menjadi paling terang ketika paling dekat dengan Bumi," kata Thomas Prince, pakar fisika di Institut Teknologi California, yang bekerja di Zwicky Transient Facility, kepada AFP.

Menurut astrofisikawan di Observatorium Paris, Nicolas Biver, komet terbuat dari es dan debu serta memancarkan aura kehijauan, dan diperkirakan memiliki diameter sekitar satu kilometer.

Itu membuatnya jauh lebih kecil daripada Neowise, komet terakhir yang terlihat dengan mata telanjang, yang melewati Bumi pada Maret 2020, dan Hale-Bopp, yang melintas pada 1997 dengan diameter sekitar 60 km yang berpotensi mengakhiri hidup.

"Tapi lintasan terbaru akan datang lebih dekat ke Bumi, yang mungkin menggantikan fakta bahwa itu tidak terlalu besar," kata Biver.

Jadi Paling Terang

Sementara komet akan menjadi paling terang saat melewati Bumi pada awal Februari, bulan purnama dapat mempersulit pengamatan. Untuk belahan Bumi utara, Biver menyarankan, minggu terakhir bulan Januari, ketika komet melintas di antara konstelasi Ursa Minor dan Ursa Major.

Biver mengatakan bulan baru selama akhir pekan 21-22 Januari menawarkan peluang bagus bagi pengamat bintang. "Kami juga bisa mendapatkan kejutan yang menyenangkan dan objeknya bisa dua kali lebih terang dari yang diharapkan," tambah Biver.

Lebih jauh, Prince mengatakan kesempatan lain untuk menemukan komet di langit akan datang pada 10 Februari, saat melintas di dekat Mars. "Komet telah menghabiskan sebagian besar hidupnya setidaknya 2.500 kali lebih jauh dari Bumi dari Matahari," katanya.

Biver mengatakan komet itu diyakini berasal dari Awan Oort, teori bola luas yang mengelilingi tata surya yang merupakan rumah bagi benda-benda es misterius. Terakhir kali komet melewati Bumi adalah selama periode Paleolitik Muda, ketika Neanderthal masih menjelajahi planet ini.

Prince mengatakan, kunjungan komet berikutnya ke tata surya bagian dalam diharapkan dalam 50.000 tahun lagi.

Namun Biver mengatakan, ada kemungkinan bahwa setelah kunjungan ini, komet tersebut akan "terlontar secara permanen dari tata surya".

Di antara mereka yang mengamati dengan cermat adalah James Webb Space Telescope. "Namun, itu tidak akan mengambil gambar, melainkan mempelajari komposisi komet," kata Biver.

"Semakin dekat komet ke Bumi, semakin mudah bagi teleskop untuk mengukur komposisinya saat Matahari mendidih dari lapisan terluarnya" kata Prince.

"Lintasan langka ini akan memberi kita informasi tentang penghuni tata surya kita jauh di luar planet yang paling jauh", tambahnya.

Seperti diketahui, komet merupakan benda angkasa yang mirip asteroid, tetapi hampir seluruhnya terbentuk dari gas (karbon dioksida, metana, air) dan debu yang membeku. Komet sering juga disebut dengan bintang berekor. Komet memiliki orbit atau lintasan yang berbentuk elips, lebih lonjong dan panjang daripada orbit planet.

Komet terdiri dari kelompok sisa dari pembakaran dan gas yang membeku pada saat berada jauh dari Matahari. Saat mendekati Matahari, sebagian bahan penyusun komet menguap membentuk kepala gas dan ekor.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

Pemprov DKI Boyong 23 UMKM Binaan ke Pameran CISMEF 2026 di Guangzhou Tiongkok

Mau Tahu Rahasia Kecantikan Kulit dan Rambut Korea, Saksikan di BXc 2 pada 27 Agustus Mendatang

Aplikasi GoPay Hadirkan Fitur DBL Indonesia, Meriahkan Kompetisi Basket Pelajar se-Indonesia

Wujud Kepedulian BUMN, TelkomGroup Salurkan Bantuan Rp1,3 Miliar untuk Korban Gempa NTT

Resmikan Jaksinema Pasar Rumput, Wagub Rano Minta Bioskop Mini Rp15 Ribu di Tiap Rusun

Debt Collector Paksa Masuk ke Dalam Mobil, Piting Leher dan Ancam Pengemudi

TNI-Polri Bongkar Arena Judi Sabung Ayam di Gowa, Tidak Ada Orang di Lokasi

Dinsos Tanjungpinang Buka Ruang Bagi Warga untuk Perubahan Desil

Sudah 2 Hari Juanda Belum Ditemukan Akibat Terseret Arus saat Kemping di Pantai

DPR Sebut RUU Perampasan Aset Disusun dengan Hati-hati

Atasi Kebakaran Gambut di Kalimantan Barat, Wamen LH Diaz Hendropriyono Dorong Swasta Bangun Sekat Kanal

Resmikan RS Toto Tentrem, Gubernur Pramono Dorong Penguatan Layanan Stem Cell Jakarta

Apakah Rambut Botak Bisa Tumbuh Lagi? Kenali Tandanya

Sukhoi TNI AU Tergelincir di Lanud Hasanuddin Hingga Area Rumput Dekat Jalan Makassar-Maros

LRT Jakarta Pasang Tarif Promo Rp5.000! Rute Velodrome-Manggarai Siap Diresmikan

Cetak Sejarah di Paris! AG.AL Juara Club Champion EWC 2026, Kantongi Hadiah Rp110 Miliar

Paket Pernikahan Elegan di Pusat Jakarta! Mangkuluhur ARTOTEL Suites Buka Harga Mulai Rp25 Juta

Agrowisata Petik Anggur Kini Jadi Tren Wisata Baru di Kepulauan Riau

Mendagri: Korban Gempa NTT Bisa Cetak Ulang Dokumen KTP, KK, hingga BPKB Secara Gratis

BMKG: 6.409 Gempa Bumi Susulan Guncang Flores

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.