NU Minta Tak Ada Lagi Sentimen Identitas dan Primordial

Kamis, 05 Jan 2023, 08:01 WIB

JAKARTA - Ketua Umum PBNU KH. Yahya Cholil Staquf mengingatkan agar semua pihak tidak baper (bawa perasaan) dalam kontestasi Pemilihan Umum (Pemilu) 2024.

"Jadi kami harap pemilu ke depan lebih rileks, pemilu tidak pakai baper-baperan, dan tak pakai halalkan darahnya orang," kata KH. Yahya Cholil Staquf usai menerima kunjungan Ketua dan Anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI yang bersilaturahim ke Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di Jakarta, Rabu (4/1).

Ket. Foto: Ketua Umum PBNU KH. Yahya Cholil Staquf bersilaturahim ke Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di Jakarta, Rabu (4/1). — Sumber: istimewa

Seharusnya penyelenggaraan pemilu, kata dia, lebih rileks dalam mencari jalan masa depan bangsa yang lebih baik untuk semua orang.

Ia menyampaikan untuk Nahdlatul Ulama (NU) sendiri, satu-satunya kepentingan NU dalam politik Indonesia adalah keselamatan bangsa dan negara. "Ini sudah menjadi keputusan institusional resmi hasil muktamar yang harus diikuti seluruh warga Nahdlatul Ulama," kata dia.

Menurut dia, terkait dengan itu, maka PBNU ingin melaksanakan strategi yang lebih nyata untuk memberi sumbangan konstruktif di dalam dinamika politik yang lebih baik untuk mewujudkan satu keadaan yang lebih baik dalam perpolitikan Indonesia.

"Kami dalam hal ini adalah mengupayakan terwujudnya suatu tradisi demokrasi yang lebih rasional dan berakhlak. Rasional itu artinya ya tidak usah main sentimen-sentimen identitas dan tidak usah main sentimen primordial," ucapnya.

Turunkan Ketegangan

Menurut KH. Yahya, penyelenggaraan pemilu dan pemilihan kepala daerah digelar serentak pada 2024 dapat menurunkan ketegangan antar kompetitor di pemilu. "Maka sebetulnya kami juga setuju dan ikut mendukung gagasan pemilu serentak ini untuk mengurangi ketegangan di antara para kompetitor yang terlibat dalam pemilu," kata KH. Yahya.

Menurutnya, ketegangan menurun karena mengurangi potensi persaingan yang memang membuat peserta pemilu langsung berhadap-hadapan. Penyelenggaraan dua pemilu tersebut tentunya dapat membuat peserta pemilu saling bertukar koalisi dalam mendukung kandidat baik pusat maupun daerah. "Itu karena nanti akan terjadi konfigurasi yang saling bertukar, di berbagai tingkatan pemilu dan juga di daerah yang berbeda-beda. Sehingga antara satu pihak dengan pihak yang lain ini tidak ada pertarungan yang absolut," kata KH. Yahya.

"Mungkin di satu sisi mereka bisa berhadap-hadapan sebagai pihak yang berbeda, tapi di tempat lain di pemilu daerah bisa tergabung dalam satu koalisi dan sebagainya," ucap KH. Yahya.

KH. Yahya mengatakan kerja sama KPU dengan PBNU direncanakan fokusnya lebih banyak pada pendidikan politik bagi warga. "Ditambah kerja sama yang lebih luas, termasuk bila KPU butuh Banser, ya nanti kami sediakan," katanya.

KPU mengunjungi PBNU untuk membangun dukungan demi kesuksesan penyelenggaraan Pemilu 2024. "Seperti diketahui NU punya perwakilan-perwakilan, pengurus cabang NU di berbagai negara, di situ ada pemilih kita, silaturahim, kerja sama, dan dukungan PBNU kepada KPU menjadi sesuatu yang strategis dalam rangka layanan KPU kepada pemilih," kata Ketua KPU RI Hasyim Asy'ari.

Ia mengatakan tokoh dan kader NU banyak menjadi pimpinan dan aktivis parpol, bahkan kepala daerah. Kondisi tersebut akan memberikan dampak positif bagi KPU dalam memberikan layanan kepada para pemilih dan peserta pemilu. "Dengan demikian untuk layanan KPU menjadi penting. Kader NU itu ada di mana-mana," ujarnya.

Redaktur: Sriyono

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.