Harga Pangan Dunia Terus Naik, Beras Segera Menyusul

Selasa, 14 Jun 2022, 00:04 WIB

» Indeks harga pangan FAO, pekan lalu, menunjukkan harga beras internasional merangkak naik untuk bulan kelima berturut-turut.

» Kenaikan harga beras akan berdampak buruk bagi Asia sebagai konsumen terbesar.

Ket. Foto: — Sumber: Sumber: World Economic Forum - KJ/ONES/AND

JAKARTA - Harga bahan pangan dalam beberapa bulan terakhir terus melonjak. Para pengamat mengatakan beras yang menjadi makanan pokok di sebagian besar Asia bisa menyusul. Harga beberapa komoditas makanan, mulai dari gandum dan biji-bijian lainnya hingga daging dan minyak telah melonjak. Kenaikan itu didorong beberapa faktor, mulai biaya pupuk dan energi yang naik tahun lalu dan terakhir perang Russia-Ukraina.

Data terbaru yang dirilis indeks harga pangan organisasi pangan dunia FAO, pekan lalu, menunjukkan harga beras internasional merangkak naik untuk bulan kelima berturut-turut dan mencapai level tertinggi dalam 12 bulan terakhir. "Yang pasti, produksi beras masih melimpah. Tetapi, kenaikan harga gandum dan biaya pertanian yang umumnya lebih tinggi akan membuat harga beras layak untuk dipantau selanjutnya," kata para ahli.

"Kita perlu memantau harga beras ke depan, karena kenaikan harga gandum dapat menyebabkan beberapa substitusi terhadap beras meningkatkan permintaan dan menurunkan stok yang ada," kata Kepala Ekonom Bank Nomura, Sonal Varma.

Lebih lanjut, dia mengatakan langkah proteksionis sebenarnya memperburuk tekanan harga di tingkat global. Begitu pula dengan biaya pakan dan pupuk untuk pertanian sudah meningkat dan harga energi menambah biaya pengiriman. "Jadi, ada risiko karena kita melihat lebih banyak proteksionisme dari negara-negara," kata Varma.

Namun demikian, dia menyatakan bahwa risiko terhadap beras masih rendah karena persediaan beras global cukup dan panen di India diperkirakan akan baik pada musim panas ini.

Menurut laporan Reuters yang mengutip seorang pejabat pemerintah Thailand, pada akhir Mei, menyebutkan Thailand dan Vietnam sedang dalam pembicaraan mengenai kesepakatan untuk meningkatkan harga ekspor beras mereka. Empat eksportir mengatakan kepada Reuters bahwa pedagang beras telah membeli lebih banyak beras India dalam dua minggu terakhir.

"Saat ini, saya akan jauh lebih khawatir dengan India yang memberlakukan larangan ekspor beras dalam beberapa minggu mendatang karena mereka memikirkan setelah gandum dan gula," kata peneliti senior di Institut Penelitian Kebijakan Pangan Internasional, David Laborde, kepada CNBC.

Menurut Forum Ekonomi Dunia, India dan Tiongkok sebagai produsen beras teratas dunia, menyumbang lebih dari setengah dari total global. Vietnam terbesar kelima, sementara Thailand di tempat keenam.

India memberlakukan larangan ekspor gandum pada Mei, dengan pertimbangan keamanan pangan, kemudian memberlakukan pembatasan gula hanya beberapa hari setelah larangan gandum.

Laborde mengatakan bahwa kenaikan harga akan jauh lebih baik daripada larangan ekspor apa pun. "Kita harus benar-benar membedakan antara kenaikan harga yang mengompensasi biaya yang lebih tinggi dan akan menguntungkan petani (dan membantu mereka berproduksi), daripada larangan ekspor yang mendorong harga di pasar dunia, tetapi mendorong harga turun di pasar domestik," katanya.

Bagian Besar

Perwakilan regional untuk Asia Selatan di International Rice Research Institute, Nafees Meah, menambahkan bahwa biaya energi yang telah meningkat secara global merupakan bagian besar dari biaya produksi beras. "Namun, ada argumen mengatakan jika pasar menunjukkan kenaikan harga, mengapa petani tidak diuntungkan?" kata Nafees kepada CNBC "Squawk Box Asia."

Kenaikan harga beras akan berdampak buruk bagi banyak orang di Asia, yang merupakan konsumen bahan pokok terbesar. "Di kawasan Asia Tenggara Pasifik, negara-negara seperti Timor Leste, Laos, Kamboja, dan Indonesia, yang populasinya sangat besar, banyak di antaranya rawan pangan yang sangat terpengaruh jika harga terus berlanjut, untuk bangkit dan bertahan di level yang sangat tinggi ini," kata Nafees.

Direktur Pelaksana dan Kepala Strategi Investasi untuk RBC Wealth Management, Frederique Carrier, mengatakan indeks harga pangan PBB menunjukkan harga sekarang 75 persen di atas tingkat prapandemi. "Kekurangan tenaga kerja terkait pandemi dan invasi Russia ke Ukraina telah memperburuk situasi dengan membatasi pasokan makanan dan mendorong harga energi lebih jauh lagi," tulisnya dalam laporan bulan Juni.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

Menteri Ekraf Apresiasi Pameran SBY Art Community Jadi Ruang Kolaborasi Global

Rumah Harimau Sumatera Ikut Hangus Dilalap Kebakaran Hutan

Aturan Baru Tarif Pengantaran Barang dan Makanan Ojol Digodok Kemkomdigi, Tak Adopsi Skema 92:8, Fokus bagi Hasil Adil

LG UltraGear Native 1000Hz Segera Hadir di Indonesia

Impor Udang Vaname 120 Ton Lewat Kawasan Berikat, KKP Minta Industri Utamakan Produksi Lokal

D'Masiv Bikin Album Full Berbahasa Inggris, Beri Warna Baru bagi Massivers

Tapak Tumbuh Hadir di JIA Curated 2026, Ubah Jejak Bumi Menjadi Pengalaman Spasial

Waspada! Modus Paket Umrah di Bawah Rp26 Juta, Kemenhaj Ingatkan Jemaah Indikasi Penipuan

Dopamine Land Hadir di Jakarta, Tawarkan Pengalaman Hiburan Multisensori

Festival Pacu Jalur 2026 di Kuansing Dibuka Plt Gubernur Riau, Ini Jadwal Lengkapnya!

FLONA 2026 Digelar di Lapangan Banteng, Pamerkan Kekayaan Flora-Fauna Nusantara

PLN Berhasil Pulihkan Keseluruhan Sistem Kelistrikan Flores Pasca Gempa M7,7

Pertamina Tambah Fasilitas Dermaga Jetty di Terminal BBM Manggis Bali, Amankan Pasokan BBM Bali-Nusra

PT KAI dan KCIC Gelar Program EduTrain bagi 81 Anak Panti Asuhan

Gubernur Pramono Lantik 7 Pejabat Eselon II DKI Jakarta, Ini Daftar Nama dan Jabatannya

Satu Dekade EMOS Perkuat Ekosistem Kesehatan Digital Indonesia

Pemkot Kembali Gelar Bandung Great Sale 2026

Bank Mandiri Perkuat Sinergi dengan Garuda Indonesia lewat GATF 2026, Bidik Transaksi Travel Nasabah

Pemkot Bandung Upayakan Akses Air Bersih bagi Warga Cihanja

Bareskrim Polri Ungkap 5 Kasus Perdagangan Orang dengan Modus Pengantin Pesanan

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.