Koran-jakarta.com || Kamis, 05 Agu 2021, 09:27 WIB

Pemanfaatan Energi Surya Jadi Andalan Turunkan GRK

  • BUMN
  • PLN
  • Energi Baru Terbarukan
  • ESDM
  • EBT
  • PLTS

JAKARTA - Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Cirata telah mencapai tahap financial close pada 2 Agustus lalu dan akan segera memulai tahap konstruksi. PLTS Terapung pertama di Indonesia ini diharapkan dapat beroperasi sesuai dengan target Commercial Operation Date (COD) pada November 2022. PLTS ini menjadi andalan turunkan Gas Rumah Kaca (GRK)

Pemanfaatan Energi Surya Jadi Andalan Turunkan GRK

Ket.

Doc: ISTIMEWA Pemanfaatan Energi Surya Jadi Andalan Turunkan GRK

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dadan Kusdiana, berharap proyek PLTS Terapung Cirata dapat dikawal agar beroperasi sesuai target COD.

"Kami berharap agar penyelesaian proyek PLTS Terapung Cirata ini, yang merupakan proyek pertama di Indonesia dan terbesar di Asia Tenggara, dapat di kawal agar beroperasi sesuai dengan target COD," tutur Dadan, di Jakarta, Rabu (4/8).

Dia mengapresiasi PT PLN (Persero) dan PT Pembangkitan Jawa Bali Masdar Solar Energi (PMSE) yang telah berhasil menyelesaikan tahap financial close proyek PLTS Terapung Cirata berkapasitas 145 MWac (mega watt AC).

Jadi Prioritas

Dadan mengatakan penyediaan energi bersih melalui pemanfaatan EBT, khususnya energi surya, menjadi salah satu prioritas untuk mencapai target penurunan GRK sebesar 29 persen dengan usaha sendiri dan 41 persen dengan bantuan internasional di tahun 2030, serta pencapaian net zero emission pada 2060 atau lebih cepat.

"Penyediaan energi bersih melalui pemanfaatan EBT khususnya energi surya menjadi salah satu prioritas untuk dapat mencapai tujuan tersebut, mengingat potensi surya di Indonesia berlimpah, masa pembangunan yang cepat, dan harganya yang telah kompetitif," ujar Dadan.

Di samping potensinya yang melimpah, tambah dia, harga jual listrik PLTS saat ini juga semakin kompetitif. Harga jual listrik dari PLTS Terapung Cirata 145 MWac yang hanya sebesar 5,81 cent dollar AS per kWh (kilo watt hour) telah menjadi benchmark bagi pengembangan PLTS di Indonesia.

"Berdasarkan market sounding yang dilakukan oleh PLN, pengembangan PLTS Terapung di beberapa lokasi menunjukkan penawaran harga di bawah 4 sen dollar AS per kWh," jelas Dadan.

Dadan meminta PLN agar dapat mendorong pengembangan EBT, termasuk PLTS, yang memiliki potensi PLTS terapung yang besar di PLTA eksisting dan waduk.

"Mengingat Indonesia memiliki potensi PLTS terapung di PLTA eksisting sebesar 12 GW di 28 lokasi dan di waduk atau danau dengan potensi sekitar 28 GW di 375 lokasi," tandasnya.

Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Pahala Nugraha Mansury dalam Deklarasi Financial Close PLTS Terapung Cirata secara daring kemarin ingin agar PLTS Terapung Cirata dapat menjadi percontohan untuk pengembangan pembangkit EBT di daerah lain. Pahala juga berharap dapat terjadi transfer teknologi dalam pengembangan EBT.

Tim Redaksi:
E
M

Like, Comment, or Share:


Artikel Terkait