Peringatan Dini Disesuaikan Karakter Gempa

Rabu, 28 Jul 2021, 06:54 WIB

JAKARTA - Pengembangan sistem peringatan dini Indonesia, yang dikenal sebagai Indonesian Tsunami Early Warning System (Ina TEWS) perlu disesuaikan dengan karakter gempa, tsunami, serta kondisi geografis wilayah yang sangat bervariasi.

Ket. Foto: Danny Hilman Natawidjaja — Sumber: Istimewa

Pernyataan tersebut disampaikan Danny Hilman Natawidjaja yang baru saja dikukuhkan sebagai profesor riset oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, di Jakarta, Selasa (27/7). "Desain TEWS harus rinci dan spesifik untuk tiap wilayah. TEWS yang efektif harus mempunyai desain teknologi berdasarkan kajian sains, tidak asal comot dan pasang," kataDanny Hilman saat membacakan naskah orasi profesor Risetnya.

Dalam makalah berjudul "Riset Sesar Aktif Indonesia dan Peranannya dalam Mitigasi Bencana Gempa dan Tsunami" dia juga menyampaikan bahwa untuk peta bahaya seismik (seismic hazard) juga perlu dibuat. Danny memberi contoh, tsunami akibat pergerakan sesar di bawah laut juga dapat dibuatkan peta bahaya tsunaminya atau tsunami hazard map.

Menurut Danny, peta bahaya tsunami diperlukan untuk kepentingan jalur evakuasi dalam sistem peringatan dini dan untuk mitigasi tsunami dalam pengelolaan tata ruang serta desain konstruksi tahan tsunami. "Tanpa pengetahuan sesar aktif di bawah laut yang memadai, peta bahaya tsunami tidak bisa dibuat dengan baik," ujar peneliti ilmu kebumian itu.

Potensi Bencana

Selain itu, Danny mengatakan mitigasi bencana membutuhkan pengetahuan sebaik-baiknya tentang karakteristik dan potensi sumber bencana alam itu sendiri. Jadi, mitigasi harus bersanding dengan riset dasar dan riset terapannya, seperti membuat peta-peta bahaya (hazard) dan risiko (risk).

"Program mitigasi bencana harus berbasis serta sejalan dengan sains dan riset," tuturnya.
Danny sendiri telah mengembangkan riset sesar aktif sumber gempa sejak awal tahun 90-an di wilayah Sumatera. Kemudian diteruskan ke Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, Papua, dan Maluku.


Hasil riset memperlihatkan bahwa hampir seluruh wilayah Indonesia terancam bencana gempa dan tsunami. Hasil riset juga dapat merinci bahwa sistem sesar aktif sumber gempa Indonesia berbeda-beda karakteristik dan jenis potensi bahayanya dari satu wilayah ke wilayah lainnya.

Maka, karakter dan potensi sumber gempa/tsunami yang spesifik untuk setiap wilayah membutuhkan penanganan mitigasi dengan desain spesifik sesuai dengan kondisi sumber bencananya. Dalam pandangan Danny, desain tersebut termasuk materi pendidikan kebencanaan untuk masyarakat. Juga, desain program untuk menyiapkan masyarakat tangguh. Lalu, desain sistem pemantauan peringatan dininya sehingga tidak bisa asal-asalan.

"Itu merupakan konsep mitigasi berbasis sains dan riset. Dalam usaha mitigasi terpadu, riset, dan pendidikan kebencanaan harus menjadi prioritas," tandasnya. Danny menuturkan, data sumber gempa hasil riset sesar aktif sudah dipakai sebagai input untuk membuat peta-peta seismic hazard Indonesia yang dipublikasikan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat tahun 2010 dan 2017.

Peta tersebut kemudian dipakai untuk membuat Standar Nasional Indonesia Peraturan Konstruksi Tahan Gempa. Namun, itu belum mencakup mitigasi bahaya karena pergerakan di jalur sesar dan bahaya ikutannya. Ags/ant/G-1

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Agus Supriyatna

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.