Di Pasukan yang Pernah Malang Melintang di Timor Timur Ini, Letjen Dudung Pernah Jadi Komandan Peleton

Minggu, 27 Jun 2021, 14:30 WIB

JAKARTA - Di Pasukan yang pernah malang melintang di Timor Timur ini,Letjen Dudung pernah jadi Komandan Peleton. Pasukan yang dimaksud adalahBatalyon Infanteri Raider Khusus 744/Satya Yudha Bhakti atau Yonif Raider Sus 744/SYB.

Yonif Raider Sus 744/SYB ini bukan Yonif biasa. Tapi Yonif dari pasukan elite pertempuran infanteri yang berada dibawah kendali Kodam IX/Udayana. Pasukan ini dibentuk pada 24 Januari 1978 di Timor Timur.

Ket. Foto: Letjen Dudung dan prajurit TNI saat bertugas di Timor Timur. — Sumber: Istimewa

Saat itu Timor Timur masih menjadi bagian dari Indonesia. Ketika dibentuk, pasukanini bermarkas di Lospalos, Timor Timur. Sekarang ini markas komando Yonif Raider Sus 744/SYB berada di Dusun Tofi, Desa Wedomu, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, NTT.

Sementara Letjen Dudung yang dimaksud adalah Letjen Dudung Abdurachman, Pangkostrad yang baru. Seperti diketahui, Letjen Dudung baru saja resmi menyandang pangkat Letjen atau jenderal bintang tiga. Letjen Dudung menjadi Pangkostrad menggantikan Letjen Eko Margiyono yang digeser menjadi Kasum TNI.

Nah, dilihat dari jejak karirnya, Letjen Dudung ini pernah pula ditugaskan diYonif Raider Sus 744/SYB. Bahkan ia mengawali karirnya sejak lulus dari Akademi Militer (Akmil) di pasukan tersebut. Seperti diketahui, Letjen Dudung merupakan lulusan Akmil tahun 1988.

Begitu lulus dari Akmil, Letjen Dudung yang ketika itu berpangkat Letda langsung ditempatkan di Yonif Raider Sus 744/SYB. Jabatan pertama yang dipegangnya adalah sebagai Komandan Peleton III Kompi B Yonif 744/Satya Yudha Bakti dari tahun 1989 sampai 1992.

Di Yonif 744/Satya Yudha Bakti juga Letjen Dudung pernah jadi Komandan Peleton II Kompi B Yonif 744/Satya Yudha Bakti dari 1992 sampai 1993. Dan menjadi Komandan Peleton I Kompi B Yonif 744/Satya Yudha Bakti dari tahun1993 sampai 1994.

Ada satu cerita menarik tentang Yonif 744/Satya Yudha Bakti saat masih malang melintang di Timor Timur. Cerita menarik tentang kisah pasukan tersebut saat bertempur melawan pasukan Fretelin, hingga berhasil menewaskan Nikolau Lobato, Presiden Fretilin kala itu.

Saat itu, bulan Januari 1979. Didapat informasi jika ada pergerakan pasukan Fretelin. AdalahKomandan Tim Nanggala-28, Kapten Inf Prabowo Subianto yang melaporkan info itu kepada Danyonif 744/Satya Yudha Bhakti saat itu Mayor Inf Yunus Yosfiah.

Sebagai catatan, Yunus Yosfiah juga prajurit baret merah. Ia terakhir pensiun dengan pangkat Letjen. Maka setelah mendapat informasi penting itu Komandan Sektor Tengah, Kolonel Inf. Adolf Sahala Rajagukguk langsung memerintahkan pasukan TNI untuk melakukan pengepungan.

Beberapa tim pasukan pun dikirim antara lain, Tim Nanggala-28 (Kopassus) pimpinan Prabowo Subianto yang bergerak di sisi utara. LaluYonif 700/Linud dan Yonif 401/Raider di sisi timur dan Yonif 744/Satya Yudha Bhakti sebagai ujung tombak serangan.

Sampai kemudian kontak tembak pun terjadi dengan sengitnya. Peleton I Kompi B Yonif 744 yang dipimpin Sersan Maudobe merangsek ke posisi musuh. Banyak musuh yang berhasil ditewaskan.

Akhirnya, kelompok Fretelin kocar kacir. Saat kondisi sudah dirasa kondusif dilakukan pembersihan. Dan, di antara mayat-mayat anggota Fretelin yang berhasil ditembak, satu mayat dikenali sebagai Nikolau Lobato, Presiden Fretilin saat itu.

Menurut info, adalah Sersan Maudobe dari Kompi B Yonif 744 yang berhasil menembak buruan TNI yang paling dicari saat itu. Mayat Nikolau Lobato berhasil dikenali oleh Prajurit Dua Gutteres, seorang tamtama pembawa radio.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Agus Supriyatna

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.