Kisah Kakeknya Gus Dur Dirikan Pesantren di Sarang Preman dan Pelacuran
Kamis, 19 Nov 2020, 13:18 WIBBicara tentang KH Abdurrahman Wahid atau akrab dipanggil Gus Dur memang tak ada habisnya. Selalu banyak cerita menarik tentang Presiden keempat RI ini yang meninggal di akhir Desember 2009. Gus Dur dari silsilah keluarganya memang bukan orang sembarangan.
Ia bisa dikatakan darah birunya NU. Ayahnya, Wahid Hasyim mantan Menteri Agama di era Soekarno. Dua kakeknya baik dari pihak ibu maupun dari ayahnya, adalah ulama besar yang sangat dihormati kalangan nahdliyyin.
Kakek Gus Dur dari garis ayahnya tak lain adalah KH Hasyim Asy'ari, ulama besar, pendiri Nahdlatul Ulama. Sementara kakek dari garis ibu, KH Bisri Syansuri juga kiai besar yang dihormati warga NU. Nah, artikel ini tak akan mengulas soal Gus Dur. Tapi hendak sedikit mengulik jejak kisah kakek Gus Dur, KH Hasyim Asy'ari, pendiri NU.
Dalam buku Biografi Gus Dur: The Authorized Biography of Abdurahman Wahid yang ditulis Greg Barton, dikisahkan setelah berguru ke ulama besar baik di Tanah Air dan di Tanah Suci, Mekkah, Hasyim Asy'ari kemudian coba ingin mendirikan pesantren. Ia pun kembali ke Jombang, kampung halamannya. Di sana, ia merintis pendirian sebuah pesantren.
Desa Tebuireng, jadi pilihan Hasyim Asy'ari sebagai lokasi pesantren yang akan didirikannya. Tentu saja, banyak yang kaget, ketika Hasyim memilih Desa Tebuireng. Teman-temannya coba menasehati Kiai Hasyim agar jangan mendirikan pesantren di Tebuireng.
Alasannya memang masuk akal. Desa Tebuireng ketika itu, dikenal sebagai desa hitam. Desa yang jadi tempat atau sarang para preman dan pelacuran. Tapi Kiai Hasyim tetap memilih Tebuireng.
Alasan Kiai Hasyim kenapa pilih Tebuireng, karena katanya pesantren itu harus punya peran dalam mengubah masyarakat yang ada di sekitarnya. Baginya ini tantangan untuk mengubah Tebuireng yang sarang preman dan pelacuran menjadi desa penuh kebajikan.
Pilihan Kiai Hasyim tidak salah. Kini pesantren Tebuireng, menjadi salah satu pesantren besar. Pesantren terkemuka di Tanah Air. Desa Tebuireng pun tak lagi dipandang miring, sebagai sarang preman dan pelacuran. Tapi telah berubah jadi desanya para santri. ags/N-3
Redaktur: Marcellus Widiarto
Penulis: Agus Supriyatna
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.