Ketua KPK Malaysia Mundur

Sabtu, 07 Mar 2020, 06:00 WIB

KUALA LUMPUR - Ketua komisi pemberantasan korupsi Malaysia yang memimpin penyelidikan kasus megakorupsi di institusi keuangan milik negara, 1Malaysia Development Berhad (1MDB), Latheefa Koya, pada Jumat (6/3) menyatakan mundur dari jabatannya.

Latheefa mundur setelah berakhirnya pemerintahan reformis pimpinan mantan Perdana Menteri Mahathir Mohamad dan kembali berkuasanya partai yang pernah yang tersangkut korupsi.

Ket. Foto: Latheefa Koya Ketua komisi pemberantasan korupsi Malaysia — Sumber: istimewa

Latheefa, seorang tokoh aktivis hak asasi manusia yang jadi ketua KPK Malaysia sejak Juni, mengatakan ia telah memberi tahu PM Malaysia saat ini, Muhyiddin Yassin, bahwa ia telah mengajukan surat pengunduran diri sejak awal pekan ini dan ia pun menyatakan mundur tanpa ada tekanan.

"Pengunduran diri saya merupakan putusan saya sendiri. Spekulasi bahwa ada tekanan itu sama sekali tak berdasar. Tujuan saya untuk mundur adalah agar saya bisa kembali praktik sebagai pembela hak asasi manusia," kata Latheefa. "Saya telah mengabari PM soal pengunduran diri saya dan soal upaya-upaya untuk memulihkan dana 1MDB yang dicuri dan ada di luar negeri. Dia (PM Muhyiddin) menyatakan memahami langkah yang saya ambil," imbuh perempuan berusia 47 tahun itu.

Sebelum Latheefa, pekan lalu Jaksa Agung Malaysia, Tommy Thomas, yang menuntut dakwaan korupsi pada mantan PM Najib Razak terkait megaskandal 1MDB, juga mengundurkan diri.

Megaskandal 1MDB

Dana miliaran dollar AS dicuri dari 1MDB dan dihabiskan untuk membeli apa saja, mulai dari kapal pesiar supermewah hingga karya seni mahal, dalam penipuan yang diduga melibatkan Najib dan kroni-kroninya.

Koalisi Najib, yang telah memerintah Malaysia selama enam dekade, tak lagi berkuasa sejak 2018 akibat sebagian besar karena megaskandal 1MDB ini, dan kini Najib tengah diadili karena tindak pidana korupsi.

Sejauh ini bekas pemerintahan pimpinan Mahathir sudah mulai memulihkan uang dari luar negeri yang diduga dijarah dari dana 1MDB tersebut.

Aliansi Pakatan Harapan yang berhasil memenangkan pemilihan umum pada 2018 dan menyingkirkan koalisi penguasa, beberapa waktu lalu bubar karena pertikaian politik internal dan pertikaian ini berujung dengan mundurnya PM Mahathir.

Mahathir, 94 tahun, sempat berupaya untuk kembali jadi PM Malaysia, namun ia secara tak terduga kalah oleh mantan Menteri Dalam Negeri Muhyiddin Yassin.

Muhyiddin sendiri adalah ketua koalisi yang didominasi partai mayoritas Melayu Muslim yaitu Parti Islam SeMalaysia dan Organisasi Nasional Melayu Bersatu (United Malays National Organisation/UMNO).

UMNO) dulu diketuai Najib dan kini ada kekhawatiran persidangan terhadap Najib dan yang lainnya yang terkait dengan megaskandal 1MDB bisa terpengaruh karena berkuasanya kembali koalisi tersebut.SB/AFP/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.