Target Asian Games Terlalu Rendah
Rabu, 07 Okt 2026, 06:47 WIBJAKARTA - Asian Games Aichi-Nagoya 2026 telah berakhir, tetapi pekerjaan besar pembinaan prestasi olahraga Indonesia justru baru dimulai. Perolehan 39 medali yang membawa Merah Putih finis di peringkat ke-16 tidak cukup dibaca sebagai keberhasilan karena melampaui target.
Hasil tersebut harus menjadi titik balik untuk membenahi sistem pembinaan olahraga secara menyeluruh menuju Olimpiade Los Angeles 2028 dan Asian Games 2030 di Doha.
Indonesia menutup persaingan dengan lima medali emas, 11 perak, dan 23 perunggu. Capaian itu memang melewati target awal empat emas. Namun, angka tersebut sekaligus memperlihatkan masih lebarnya jarak Indonesia dengan negara-negara Asia, bahkan Asean yang telah memiliki sistem pembinaan lebih konsisten.
Selain itu, target yang dicanangkan terlalu rendah. Ini mau enaknya saja, target empat emas. Rombongan kontingen terlalu bongsor, dengan target 4 emas. Target harus tinggi, biar ada upaya mencapai. Kalau target terlalu rendah, memperlihatkan tak mau bertanggung jawab dengan besaran jumlah atlet (432) dan ofisial (148). Ini jelas pemborosan keuangan saja.
Pakar Manajemen Prestasi Olahraga Djoko Pekik Irianto mengapresiasi perjuangan atlet, tetapi minta pemerintah dan federasi tidak terjebak pada keberhasilan jangka pendek. Menurutnya, target multievent harus disusun sejak jauh hari dan menjadi bagian dari program pembinaan empat tahunan.
âIndonesia sudah punya ide, cita-cita, gagasan bahwa Olympic Sport menjadi prioritas upaya pembinaan yang dirancang dalam sebuah Desain Besar Olahraga Nasional. Tahun 2044 target peringkat lima Olimpiade,â ujar Djoko.
Karena itu, target Asian Games 2030 seharusnya sudah dirumuskan sekarang, termasuk jumlah medali dan posisi klasemen yang ingin dicapai. Target tersebut kemudian harus diterjemahkan ke dalam program latihan, kompetisi, pencarian bakat, pembinaan atlet muda hingga dukungan anggaran yang berkesinambungan.
Persoalan anggaran menjadi salah satu catatan penting. Djoko menilai kepastian pendanaan yang terlalu dekat dengan pelaksanaan pertandingan dapat mengganggu persiapan atlet. Padahal, performa pada ajang multievent tidak bisa dibangun secara instan.
Perbandingan dengan prestasi sebelumnya juga menunjukkan perlunya evaluasi. Ketika menjadi tuan rumah Asian Games 2018, Indonesia mampu finis di peringkat keempat dengan 31 emas. Di Hangzhou 2022, Indonesia mengoleksi tujuh emas. Di Aichi-Nagoya, jumlah emas hanya lima.
Pengamat olahraga nasional Tubagus Adi menilai evaluasi harus dilakukan terhadap seluruh cabang olahraga, terutama yang gagal menyumbangkan medali. Dengan 432 atlet dari 35 cabang olahraga, menurut dia, target empat emas menunjukkan ekspektasi yang masih rendah dibandingkan sumber daya yang dikerahkan.
Bulu tangkis, angkat besi, panjat tebing dan panahan memang masih menjadi tumpuan. Namun, munculnya kontribusi dari teqball melalui medali perak, serta potensi wushu, soft tennis dan cabang lainnya, menunjukkan terdapat ruang untuk memperluas basis prestasi.
Evaluasi juga harus menyentuh tata kelola organisasi. Dualisme kepengurusan di sejumlah cabang olahraga mengganggu kesinambungan pembinaan.Kepentingan atlet harus ditempatkan di atas tarik-menarik organisasi.
Aichi-Nagoya semestinya tidak sekadar dikenang dari lima emas. Ajang ini harus menjadi cermin untuk mengukur apakah target, anggaran, program latihan, kualitas atlet dan tata kelola sudah berjalan dalam satu sistem. Jika evaluasi hanya berhenti pada pencapaian target, Indonesia berisiko mengulang pola lama: puas karena melampaui target rendah, tetapi tertinggal ketika standar persaingan dunia terus meningkat. ben/G-1
- perolehan medali indonesia
Redaktur: Aloysius Widiyatmaka
Penulis: Benny Mudesta Putra
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.