Merayakan Natal secara Tradisional
Sabtu, 28 Des 2019, 01:00 WIBNatal menjadi momen yang ditunggu-tunggu oleh umat Kristiani setiap tahunnya. Perayaan Natal yang berdekatan dengan tahun baru juga selalu dirayakan dengan sangat meriah. Bukan hanya pohon dan hiasan Natal saja, berbagai kota di Indonesia merayakan Natal dengan sangat unik.
Natal bukan sekadar memaknai hakekatnya saja, melainkan juga unsur kegembiraan dalam menyongsong kelahiran Yesus Kristus. Berikut beberapa kota di Indonesia yang merayakan Natal dengan kekhasan dan keunikan tersendiri.
1. Wayang Kulit di Yogyakarta
Yogyakarta adalah salah satu kota seni dan tradisi di Indonesia. Untuk itu tidak salah di setiap perayaan keagamaan dirayakan dengan seni tradisional. Saat perayaan Natal pastor ataupun romo memimpin ibadah Natal dengan menggunakan bahasa Jawa kromo inggil. Bukan hanya itu saja, biasanya pastor atau romo juga memilih menggunakan pakaian khas Yogyakarta seperti beskap ataupun blangkon.
Bukan hanya itu saja biasanya gelaran wayang kulit juga meramaikan Natal. Biasanya wayang kulit ini memiliki jalan cerita dengan tema "Kelahiran Yesus Kristus". Selain wayang kulit, tradisi lain yang ada di Yogyakarta adalah saling berkunjung ke rumah sanak keluarga selayaknya saat Lebaran.
2. Ngejot dan Penjor di Bali
Walaupun kebanyakan masyarakat Bali beragam Hindu bukan berarti perayaan Natal dilakukan dengan tidak meriah. Di Bali saat menjelang Natal banyak gereja yang bersolek dengan hiasan Penjor khas Bali.
Selain Penjor masih ada tradisi Ngejot selama perayaan Natal. Ngejot adalah tradisi berbagi biasanya warga Nasrani memasak makanan khas Bali dan membagikan makanan tersebut ke tetangga yang beragama Hindu. Dua kebiasaan ini tentu saja bisa menjaga toleransi umat beragama karena mengajarkan saling menghargai.
3. Meriam Bambu di Flores
Petasan selalu hadir di tiap perayaan-perayaan besar mulai dari Lebaran, tahun baru, sampai Natal. Malam Natal di Flores juga diramaikan dengan suara dentuman meriam yang mirip dengan petasan. Berdasarkan budaya Manggarai dan Flores dentuman dipergunakan sebagai pemberitahuan untuk sebuah kemalangan.
Namun saat ini dentuman meriam di malam Natal mengungkapkan kegembiraan atas kelahiran Yesus Kristus. Selain meriam bambu, Natal juga dirayakan dengan kompetisi membuat Kandang Natal.
4. Kunci Taon di Manado
Biasanya perayaan Natal baru mulai dirayakan pada 24 Desember, namun di Manado ada yang berbeda. Natal di Manado dirayakan lebih dahulu. Sejak 1 Desember ibadah pra-Natal sudah dilaksanakan di gereja-gereja.
Selain ibadah Natal, perayaan ini juga dihiasi dengan tradisi ziarah ke makam para kerabat, dan makan bersama di sana. Tak jarang warga Manado memberikan hiasan lampu hias di makam para kerabatnya.
Puncak dari perayaan Natal di Manado biasanya jatuh di minggu pertama Januari. Tradisi yang disebut dengan kunci taon akan menjadi penutup perayaan Natal di Manado. Biasanya di tradisi kunci taon ini warga melakukan pawai keliling dengan berbagai kostum yang lucu.
5. Rabo-rabo di Jakarta
Mungkin Anda yang tinggal di orang Portugis, setelah selesai ibadah di gereja beberapa orang akan saling berkunjung ke rumah tetangga sambil diiringi musik. Di pengujung acara setiap orang akan diberikan bedak warna-warni.
Biasanya setiap orang mukanya akan dipenuhi dengan bedak warna-warni. Bedak ini menyimbolkan bentuk penebusan dosa dan saling memaafkan di pengujung tahun yang akan berlalu.
6. Marbinda di Sumatera Utara
Masyarakat Batak di Sumatera Utara merayakan Natal dengan tradisi Marbinda. Tradisi menyembelih hewan bersama-sama di hari Natal ini lah yang membuat Natal di Sumatera Utara terasa spesial. Biasanya hewan yang disembelih adalah hasil kesepakatan menabung bersama antara beberapa orang.
Pada hari-H warga Batak yang tinggal di Sumatera Utara ini akan melakukan 'marhobas' yang artinya memotong dan membagikan daging hewan yang sudah disembelih.
7. Bakar Batu di Papua
Perayaan unik lainnya ada di Papua, warga yang selesai beribadah Natal biasanya akan melakukan tradisi bakar batu. Bakar batu ini adalah cara orang Papua untuk memasak saat Natal.
Jadi batu yang dibakar ini akan menjadi alat masak saat Natal.Jakarta juga belum mengetahui perayaan Natal Rabo-rabo. Perayaan Natal ini berlangsung di Kampung Tugu, Cilincing, Jakarta Utara.
Rabo-rabo disebut-sebut sebagai tradisi yang sudah dilakukan sejak ratusan tahun lalu. Tradisi ini berasal dari peninggalan Batu ini akan dimasukan ke dalam lubang dan bahan-bahan makanan juga akan dimasukan ke dalamnya. Tradisi bakar batu ini menjadi ajang ungkapan rasa syukur dan kebersamaan warga Papua.
8. Lettoan dan Lovely December di Toraja
Acara tahunan Lovely December di Toraja ini juga menjadi rangkaian acara perayaan Natal. Festival tahunan ini adalah festival budaya dan pariwisata yang diadakan di Toraja. Biasanya festival ini dibuka dengan pemotongan kerbau belang pada awal Desember, kemudian dimeriahkan juga dengan berbagai lomba. Festival tahunan ini ditutup dengan prosesi Lettoan. Prosesi ini adalah proses mengarak babi sebagai simbol tiga dimensi kehidupan manusia.
9. Lonceng dan Sirine, Ambon
Mulai awal Desember Anda sudah bisa merasakan suasana Natal yang sangat kental di Ambon. Bukan hanya hiasan di dalam rumah saja, tempat umum pun juga banyak yang menghadirkan hiasan Natal. Salah satu kegiatan hari besar Natal yang selalu dilakukan setiap tahun di Ambon adalah membunyikan lonceng gereja dan sirine. Keduanya dibunyikan secara serempak pada malam Natal.
10. Van Vare, Larantuka
Di Larantuka, Flores Timur ada sebuah pertunjukan musik dari orkestra serta paduan suara dari Keuskupan Larantuka yang disebut dengan Van Vare.
Tradisi ini dilakukan sebagai sebuah bentuk "membangunkan" orang-orang dari kebiasaan melakukan dosa. Mereka diingatkan melalui musik, lagu, serta syair, agar kembali ke jalan yang benar dan kembali suci di hari Natal. Perayaan Natal yang ada di berbagai daerah ini, sama seperti perayaan keagaman lainnya di Indonesia, Natal di berbagai daerah ini juga diikuti dengan perayaan berbau tradisi tradisional. pur/R-1
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Tim Koran Jakarta
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.