Riset Harus Terintegrasi dari Hulu Hingga Hilir

Kamis, 24 Okt 2019, 01:00 WIB

JAKARTA - Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/BRIN), Bambang Brodjonegoro akan mendorong terwujudnya integrasi riset dari hulu sampai hilir. Dengan demikian hasil riset benar-benar dapat dikomersialisasikan dan menjadi jawaban bagi masalah pembangunan nasional.


"Integrasi itu dari hulu sampai hilir, kalau kita sudah punya ide bagus di hulunya di riset dasarnya dan itu berpotensi sampai produk, ya itu harus kita upayakan nyambung terus jangan kemudian putus di tengah jalan hanya karena tidak ada yang berminat untuk membuatnya jadi inovasi dan jadi produk," kata Bambang, usai serah terima jabatan dengan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi periode 2014-2019, Mohamad Nasir di Jakarta, Rabu (23/10).

Ket. Foto: — Sumber: ANTARA/WAHYU PUTRO A


Selain itu, kata dia, diperlukan integrasi dari segi multidisiplin ilmu untuk menghasilkan riset yang berkualitas, lebih terarah, dan fokus. "Bagaimana pun ilmu itu banyak dan kadang-kadang bisa saja riset yang berkualitas dari ilmu yang single tapi banyak sekali riset yang sangat baik apalagi riset yang menjawab masalah pembangunan itu sifatnya multidisiplin, mengharuskan para peneliti dari berbagai 'background' ilmu berbeda untuk berinteraksi, itu yang ingin kita dorong, jangan sampai riset itu kepentingan individu si peneliti atau perguruan tinggi tapi untuk menjawab agenda pembangunan bangsa," paparnya.


Menurut Bambang, ke depan harus ada rencana riset yang terintegrasi dalam artian hulu sampai hilir.
Sebab, lanjutnya, kadang-kadang ada ide baik di sisi hulu atau di bagian riset, tetapi tidak berlanjut karena peneliti hanya sampai riset dasar atau paling jauh riset terapan, sehingga ada rantai yang terputus dan hasil riset itu tidak dikembangkan lebih jauh menjadi inovasi atau produk yang bisa masuk pasar.


Dia ingin rantai dari melakukan riset hingga hilirisasi dan komersialisasi hasil riset tidak terputus. "Kita ingin rantai putus itu tidak terjadi lagi di masa depan, kita harus membuat rantai yang benar-benar tersambung satu sama lain dari hulunya dari basic research, terapannya, invensi, inovasi bahkan kalau bisa sampai ke program. Hanya dengan itu Indonesia bisa maju," tuturnya. Bambang mengatakan sasaran ke depan selain penguatan sumber daya manusia unggul Indonesia, juga inovasi-inovasi berdaya saing tinggi dapat bermunculan dari karya anak bangsa.


Siapkan BRIN
Dalam kesempatan tersebut, Bambang juga mengatakan bahwa pihaknya segera menyiapkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sesuai amanat UU tentang Sistem Penelitian. Badan ini harus dibentuk sehingga riset-riset yang ada di Indonesia terutama di organisasi pemerintah lebih terorganisasi.


Sementara terkait pendidikan tinggi, mantan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas itu mengatakan bahwa pendidikan tinggi, tidak di kementeriannya, tapi kembali ke Kemendikbud. "Itu bukan ristek tapi kembali ke asalnya. Cuma sekarang harus bikin yang baru Badan Riset dan Inovasi Nasional," katanya. ruf/fdl/E-3

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Muhamad Ma'rup, Muhamad Umar Fadloli

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.