Sampah Jadi Energi, KLH Siap Hubungkan Produk Daerah dengan Industri Besar
Minggu, 04 Okt 2026, 12:55 WIBJakarta - Menteri Lingkungan Hidup (LH) Moh Jumhur Hidayat menyatakan pemerintah siap menghubungkan energi hijau yang dihasilkan dari pengolahan sampah di daerah dengan industri besar sebagai sumber energi alternatif.
Dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Minggu (4/10), Menteri LH/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) mengatakan langkah tersebut dilakukan untuk memastikan produk olahan sampah memiliki pembeli yang jelas sehingga pengelolaan sampah di daerah dapat berlangsung secara berkelanjutan.
"Pemerintah akan mendorong kalau ada kesulitan soal pembeli dan sebagainya, nanti kami akan coba komunikasi. Karena sebaliknya, dari pihak pembeli juga sudah menghubungi kami (KLH). Mereka mencari di mana ada produk-produk yang seperti ini, tolong diberitahu untuk bisa dia peroleh," kata Jumhur.
Hal itu disampaikan Jumhur seusai meninjau Pusat Olah Sampah Setempat (TOSS) Center Gema Santi di Kabupaten Klungkung, Bali, Sabtu (3/10).
Menurut dia, pemanfaatan bahan bakar dari hasil pengolahan sampah dapat menjadi solusi bagi industri padat energi untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, seperti batu bara dan gas bumi.
Namun, pengembangan energi dari sampah masih menghadapi tantangan, terutama dalam mempertemukan produk olahan sampah daerah dengan pembeli. Karena itu, KLH/BPLH tidak hanya mendorong pemerintah daerah mengolah sampah, tetapi juga siap menjadi penghubung antara penghasil energi hijau di daerah dan industri berskala nasional.
Jumhur mengatakan pemanfaatan biomassa organik juga tidak sekadar memberikan alternatif terhadap energi fosil, tetapi membuka peluang bagi perusahaan untuk mendapatkan pengakuan atas upaya penurunan emisi.
Menurut dia, langkah tersebut penting bagi sektor industri dalam memenuhi target Net Zero Emission (NZE), sekaligus meningkatkan daya saing dan kredibilitas perusahaan di pasar global.
Terkait jarak antara wilayah pengolah sampah dan pusat industri, Jumhur menilai persoalan tersebut dapat diatasi melalui perhitungan bisnis yang matang.
Salah satu strategi yang dapat dilakukan, kata dia, ialah menggabungkan pengolahan sampah dari beberapa kabupaten agar volume produksi menjadi lebih besar dan biaya per unit lebih rendah sehingga produk tersebut semakin menarik bagi pelaku industri.
"Misal mengerjakan pengolahan sampah yang menghasilkan 1.000 ton dengan menghasilkan 100 ton bisa jadi tenaga kerja manusianya sama jumlahnya tapi hasilnya lebih banyak yang 1.000 ton. Artinya per unit, biaya yang dikeluarkan atau cost-nya lebih rendah. Biasanya orang bisnis akan berpandangan seperti itu," jelas Jumhur.
KLH/BPLH berharap keterhubungan antara pengelolaan sampah dan pasar energi dapat menciptakan manfaat bagi seluruh pihak, mulai dari pemerintah daerah, pengelola sampah, hingga industri sebagai pembeli.
Keberhasilan pengolahan sampah di Klungkung juga diharapkan dapat menjadi model percontohan nasional sehingga daerah lain dapat mengembangkan pengolahan sampah menjadi sumber energi sekaligus menjaga kebersihan dan kualitas lingkungan.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Peneliti BRIN Ungkap Potensi Pohon Aren Jadi Sumber Bioetanol Nasional, Mudah Diolah dan Berkelanjutan
-
Pembangunan Jembatan Armco di Tombolopao Gowa
-
Hasil Luar Biasa Terus Diperlihatkan Como, Kali Ini Parma Jadi Korban
-
Dedi Mulyadi Bikin Aturan Baru, Knalpot Brong Diganti Gratis di Pos Polisi bagi Pengendara Kurang Mampu
-
KAI Access Gangguan, Reservasi Online Terdampak - Calon Penumpang Terpaksa Antri ke Loket
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.