- Home
-
- Luar Negeri
-
- Iran Cabut Batasan Riset N...
Iran Cabut Batasan Riset Nuklir
Jumat, 06 Sep 2019, 01:00 WIBTEHERAN - Presiden Iran, Hassan Rouhani, pada Rabu (4/9) malam memerintahkan pencabutan batasan riset dan pengembangan nuklir dalam langkah untuk mengurangi komitmennya terhadap negara-negara kekuatan dunia anggota permanen Dewan Keamanan PBB plus Jerman (P5+1) atas kesepakatan nuklir 2015.
Langkah Presiden Rouhani tersebut diambil setelah Amerika Serikat (AS) kembali menambah sanksi terhadap Teheran yang menyasar program luar angkasa Iran dan sejumlah pusat penelitian yang berafiliasi dalam program itu.
"Terhitung mulai saat ini, kami mengumumkan langkah ke-3 (bagi pengurangan komitmen kesepakatan nuklir)," kata Presiden Rouhani. "Organisasi energi atom Iran diperintahkan untuk kembali memulai riset dan pengembangan dan meninggalkan semua komitmen yang membatasi riset dan pengembangan nuklir," kata Presiden Rouhani.
Melalui perintah Rouhani itu berarti Iran bisa kembali melakukan riset dan pengembangan segala bidang nuklir termasuk pengembangan mesin sentrifugal terbaru dan apapun yang dibutuhkan untuk pengayaan uranium sebagai bahan baku utama pembuatan senjata nuklir.
Sebelumnya pada Juli lalu, Iran meninggalkan dua komitmen yaitu untuk membatasi cadangan uranium yang diperkaya dibawah 300 kilogram dan membatasi cadangan kadar uranium yang telah diperkaya sebanyak 3,67 persen.
Optimisme Trump
Saat bertemu dengan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, bulan lalu di KTT G7 di Prancis, Presiden Emmanuel Macron meminta agar AS menawarkan insentif ekonomi bagi Teheran dan mencetuskan pertemuan tingkat tinggi antara AS dan Iran, agar Iran mau kembali kembali pada komitmennya seperti diatur dalam kesepakatan 2015.
Menanggapi tawaran itu, Iran mengaku mau memenuhi komitmennya jika mereka mendapatkan jaminan keuntungan senilai 15 miliar dollar AS dari penjualan minyak.
"Kami akan kembali mengimplementasikan penuh kesepakatan nuklir jika ada jaminan 15 miliar dollar AS dalam periode empat bulan," ujar Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, Rabu.
Sementara itu terkait peluang pertemuan tingkat tinggi antara Presiden AS dan Iran, Presiden Rouhani saat berpidato dihadapan parlemen di Teheran pada Selasa (3/9) mengatakan bahwa Iran tak mau melakukan perundingan secara langsung dengan AS dan menyatakan bahwa perundingan terkait kesepakatan nuklir harus dilaksanakan dalam kerangka perundingan P5+1.
Walau begitu, Presiden Trump, pada Rabu menegaskan dirinya masih optimistis untuk melakukan pertemuan dengan Rouhani saat Presiden Iran itu berkunjung ke New York untuk menghadiri Sidang Umum Tahunan Dewan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
"Pasti, semuanya bisa dimungkinkan. Mereka (Iran) ingin memecahkan masalahnya. Kita bisa mencarikan jalan keluar dalam 24 jam," kata Trump ketika ditanya awak media tentang peluang pertemuan tingkat tinggi antara Trump dan Rouhani. ang/AFP/I-1
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: AFP
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.