Sejuta Spesies Bakal Punah karena Ulah Manusia

Sabtu, 27 Apr 2019, 01:00 WIB

PARIS - Lebih dari sejuta spesies diperkirakan menghadapi kepunahan karena pengaruh manusia. Informasi itu terangkum dalam draft laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang juga menjabarkan bagaimana umat manusia telah merusak sumber daya alam yang jadi tempat tinggal bagi kelangsungan hidup margasatwa.

"Hilangnya udara bersih, air layak minum, hutan penyerap CO2, serangga penyerbuk, ikan kaya protein, dan hutan bakau penghalang badai, secara amat cepat, tidak kalah ancamannya daripada perubahan iklim," demikian bunyi draft laporan PBB yang rencananya akan dipublikasikan 6 Mei mendatang.

Ket. Foto: — Sumber: istimewa

Hilangnya keanekaragaman hayati erat kaitannya dengan pemanasan global, menurut laporan untuk pemangku kebijakan setebal 44 halaman, yang diringkas dari laporan penilaian sains PBB terkait keadaan alam setebal 1.800 halaman. Ringkasan laporan itu akan dibagikan pada 130 delegasi negara yang akan bertemu di Paris, Prancis, mulai 29 April.

"Kita perlu menyadari bahwa perubahan iklim dan hilangnya alam sama pentingnya, tidak hanya untuk lingkungan, tetapi juga sebagai masalah pembangunan dan ekonomi," kata Robert Watson, ketua badan yang diamanatkan PBB untuk menyusun laporan itu, Jumat (26/4).

"Cara kita menghasilkan makanan dan energi telah melanggar tatanan aturan yang kita dapat dari alam," imbuh dia, seraya menambahkan bahwa hanya perubahan transformatif yang dapat membendung kerusakan.

Deforestasi dan pertanian, termasuk produksi ternak, menyumbang sekitar seperempat dari emisi gas rumah kaca, dan juga telah mendatangkan malapetaka pada ekosistem alami.

Platform Kebijakan-Ilmu Pengetahuan Antarpemerintah tentang Layanan Keanekaragaman Hayati dan Ekosistem (IPBES) juga memperingatkan terjadinya percepatan atas kepunahan spesies global. "Laju kepunahan sudah puluhan hingga ratusan kali lebih tinggi daripada rata-rata, selama 10 juta tahun terakhir," lapor IPBES. "Setengah juta hingga sejuta spesies diproyeksikan terancam punah, dan banyak kepunahan itu terjadi dalam beberapa dekade," imbuh mereka.

Sedang Terjadi

Sejumlah pakar berpendapat bahwa peristiwa kepunahan massal saat ini sedang berlangsung. Mereka mengatakan bahwa Bumi saat ini adalah rumah bagi sekitar delapan juta spesies yang berbeda, dimana mayoritas dari mereka adalah serangga.

Seperempat dari spesies hewan dan tumbuhan yang telah dipetakan, saat ini sudah dibudidayakan untuk dikonsumsi atau bahkan diracuni hingga punah.

Menurut Rebecca Shaw, kepala ilmuwan WWF, yang sebelumnya anggota badan ilmiah PBB untuk iklim dan keanekaragaman hayati, jika kita ingin memiliki planet berkelanjutan yang menyediakan layanan kepada masyarakat di seluruh dunia, maka kita perlu mengubah tren haluan ini dalam sepuluh tahun ke depan. "Ini sama halnya seperti kita perlu melakukan perubahan dengan iklim," kata Shaw.

Penyebab langsung dari hilangnya spesies, menurut urutan kepentingannya, adalah menyusutnya habitat dan perubahan penggunaan lahan, perburuan makanan atau perdagangan ilegal bagian tubuh, perubahan iklim, polusi, dan masuknya spesies asing seperti tikus, nyamuk dan ular yang menumpang perjalanan kapal atau pesawat.

"Ada juga dua pendorong besar yang secara tidak langsung menyebabkan hilangnya keanekaragaman hayati dan perubahan iklim, yaitu meningkatnya populasi manusia di dunia dan kemampuan mereka untuk mengkonsumsi," papar Watson.

Temuan lain dalam laporan ini yang juga berperan dalam kepunahan spesies secara massal yaitu tiga perempat permukaan daratan, 40 persen lingkungan laut, dan 50 persen perairan pedalaman di seluruh dunia telah "diubah" secara drastis. ang/AFP/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

Berita Terbaru

Gebrakan Baru Pemungutan Suara Makin Canggih! Pemkab Bangka Tengah Kaji Pilkades dengan Sistem E-Voting

Bulog Kejar Target! Serapan Gabah Nasional Kini Sudah Tembus 91 Persen

Karhutla Makin Mengkhawatirkan! Satu Pleton Brimob Dikerahkan ke Bengkayang

Infantino Didesak Mundur, Presiden European Leagues: Tak Ada Masa Depan di FIFA

Heboh Rekening Aktivis Pati Dibekukan, Yusril Beri Penegasan Mengejutkan

Bouaddi Gabung Manchester City, Jadi Pemain Muda Termahal dalam Sejarah Premier League

Tragedi Mengerikan! Kebakaran Rumah Sakit di Pakistan Tewaskan 14 Bayi

Viral Rizky Ridho Dicoret dari Skuad Timnas, PSSI Beri Klarifikasi Tegas

Di tengah Spekulasi Liar, Trump Sebut Kunjungan Mendadak Direktur CIA ke Russia Hanya Agenda Semi-Rutin

The Nun 3, Ed dan Lorraine Warren Dikabarkan Muncul untuk Wujudkan Semesta Conjuring

Muncul Isu Penutupan Kedutaan AS di Russia Saat Direktur CIA Mendadak ke Moskow dan Putin Tandatangani Dekret Rahasia

Kebijakan Moneter Dituntut Beri Dampak Nyata ke UMKM

Tanda-tanda Kuat Musim ke-3 'Lioness' di Paramount+ akan Berakhir Menggantung dan Berlanjut ke Season 4

KFC Tiongkok Luncurkan Edisi Terbatas Burger Ayam Oreo

Pemkot Tangerang Alokasikan Rp2,1 Triliun Wujudkan Kota Sehat

Malinau Tingkatkan Kolaborasi Lintas Sektor Percepat Eliminasi TBC

Di Wealth Xpo 2026, CIMB Niaga Kenalkan Preferred BOSS, Solusi Terintegrasi bagi Pengusaha dalam Mengembangkan Bisnis dan Mengelola Kekayaan

Panas dan Keringat di Balik Helm Bisa Picu Ketombe, Ini Cara Mengatasinya

BPJS Ketenagakerjaan dan PPKD Jaktim Kolaborasi Tingkatkan Keterampilan Usaha Penerima Manfaat

Shopee 9.9 Hadirkan Promo hingga Rp999 Ribu, Gandeng Naykilla dan Tenxi

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.