Tumpukan Utang Terus Menghantui Pelemahan Rupiah
📅 Selasa, 11 Jun 2024, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: Sumber: Bank Indonesia - KJ/ONES
JAKARTA - Rupiah semakin sulit keluar dari tekanan terhadap dollar Amerika Serikat (AS) bukan hanya karena sentimen suku bunga global yang tinggi yang diperkirakan berlangsung lama, tetapi juga karena fundamental dari internal yaitu tumpukan utang.
Jumlah utang yang disampaikan pemerintah sebesar 8.338 triliun rupiah ternyata hanya merupakan akumulasi dari penarikan pembiayaan selama ini untuk menutupi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) setiap tahun. Belum memperhitungkan utang BUMN yang juga diperkirakan sekitar 8.000 triliun rupiah juga, ditambah utang pensiun dan BPJS sekitar 4.000 triliun rupiah, sehingga totalnya mencapai 20 ribu triliun rupiah.
Utang yang sangat besar itu menjadi penyebab rupiah terus tertekan, karena devisa yang masuk tidak mampu memenuhi permintaan valuta asing (valas) untuk membayar utang, baik angsuran maupun bunganya.
Pengamat ekonomi dari Universitas Muhamamadiyah Yogyakarta (UMY), Achmad Maruf, mengatakan neraca utang pemerintah adalah sesuatu yang sulit dipahami oleh publik secara luas.
"Fakta di lapangan, utang pemerintah jauh lebih besar daripada yang diakui. Sebab, jika terjadi sesuatu pada BUMN, misalnya, mau tidak mau pemerintah yang harus membayarnya. Setiap tahun, pemerintah juga masih terus memberi modal penyertaan untuk menjaga keuangan BUMN," kata Maruf.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dengan ada kesalahan menempatkan prioritas belanja publik berdampak pada utang yang menggunung termasuk utang BUMN, sehingga tidak sebanding dengan peningkatan kapasitas bayar pemerintah.
"Inilah yang membuat rupiah saat ini tertekan hebat karena produktivitas ekspor maupun dalam negeri tidak meningkat, padahal utang melesat," kata Maruf.
Jumlah utang pemerintah yang diakui belum sampai ambang batas UU yakni 40 persen Produk Domestik Bruto (PDB) dan diklaim masih sehat dengan membandingkan utang negara-negara maju yang lebih dari 100 persen dari PDB.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Pembanding itu tidak tepat, sebab AS dan Jepang itu juga pemberi utang dalam jumlah besar. Mereka juga eksportir besar, sehingga pendapatan mereka dalam dollar itu jauh lebih besar dari kita yang hanya bergantung pada ekspor komoditas mentah," terang Maruf.
Dalam situasi seperti itu, pemerintah banyak memaksakan belanja yang tidak prioritas sehingga banyak pos belanja publik yang semestinya diprioritaskan, justru tidak terpenuhi karena alasan keterbatasan fiskal. "APBN yang tidak kredibel karena utang menggunung, tapi produktivitas tidak meningkat membuat kedaulatan termasuk kedaulatan rupiah, terus tertekan," tandas Maruf.
Genjot Produktivitas
Pada kesempatan terpisah, Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti, mengaku utang jumbo menjadi salah satu pemicu melemahnya nilai tukar rupiah.
"Penyebab nilai tukar terdepresiasi karena supply dollar AS terbatas, sementara permintaan dollar AS lebih besar, misalnya untuk bayar utang, kebutuhan impor, dan lain sebagainya," jelas Esther.
Ia pun mendorong agar pemerintah lebih transparan melaporkan utangnya agar bisa diawasi publik dan bisa diukur kemampuan negara membayar utang. Bagaimanapun, utang yang besar berdampak pada APBN.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!