Tak Hanya El Nino, Beras Mahal Karena Rapuhnya Adaptasi Iklim Pertanian
📅 Selasa, 05 Mar 2024, 13:32 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/Rahmad
Angga Dwiartama, Institut Teknologi Bandung
Sejak akhir tahun lalu, banyak masyarakat Indonesia kelimpungan karena harga beras naik begitu tinggi, bahkan sampai ke titik termahal sepanjang sejarah.
Ironisnya, kenaikan harga membuat petani kesulitan mengakses beras untuk konsumsi sehari-hari. Mereka lantas berduyun-duyun mengantre beras murah.
Pemerintah mengklaim harga beras naik karena anomali cuaca El Nino dan perbedaan temperatur permukaan air laut, Indian Ocean Dipole (IOD), 2023 yang menyebabkan gagal panen padi di banyak tempat. Anomali yang memicu cuaca ekstrem tersebut membuat produksi padi Indonesia pada 2023 turun sebesar 0,65 juta ton atau 2,05% lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
Situasi di atas menunjukkan betapa rapuhnya padi Indonesia terhadap cuaca ekstrem. Di masa depan, kerentanan bisa lebih tinggi karena El Nino dapat terjadi lebih sering dan parah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pemerintah perlu mengantisipasi risiko ini sesegera mungkin untuk meredam kenaikan harga beras.
Naik-turun harga beras karena El Nino
Peneliti dari International Rice Research Institute Filipina, David Dawe, menyatakan kenaikan drastis harga beras global selalu terkait dengan kejadian El Nino atau La Nina.
Sebaiknya Anda baca juga:
Setahun sebelum Krisis Finansial Asia 1998, misalnya, petani di Indonesia menghadapi tantangan yang menurut mereka lebih membekas: kekeringan panjang tahun 1997. Ini menyebabkan kegagalan panen dan menaikkan harga beras di pasaran.
Kejadian serupa terjadi lagi di tahun 2002, 2009, dan 2015, meskipun dampaknya terhadap kondisi ekonomi relatif lebih rendah.
Tahun 2023 ditengarai menjadi salah satu kejadian El Nino terburuk dalam sejarah dalam kaitannya dengan kenaikan temperatur global. Berbagai studi menyiratkan bahwa perubahan iklim menjadi faktor pendorong meningkatnya intensitas dan tingkat keparahan El Niño di beberapa dasawarsa ke belakang.
Perubahan cuaca sebenarnya bisa terjadi kapanpun, dan petani maupun sistem pertanian masih bisa beradaptasi. Akan tetapi, di dalam kondisi cuaca ekstrem seperti yang terjadi beberapa tahun belakangan ini, kerentanan sistem pertanian padi kita semakin tampak.
El Nino dan kerentanan pertanian kita
Pakar ilmu lingkungan dari University of East Anglia di Inggris, William Neil Adger, mengemukakan ada tiga faktor yang menentukan kerentanan suatu sistem terhadap perubahan lingkungan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!