Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Ribuan Pelajar Iran Diduga Diracun, Upaya Baru Pembungkaman Perempuan?

📅 Sabtu, 11 Mar 2023, 12:15 WIB | Oleh: Tim Penulis
Ribuan Pelajar Iran Diduga Diracun, Upaya Baru Pembungkaman Perempuan? Doc: ncr-iran
Ket. Sejumlah pelajar wanita di Iran.

Shireen Daft, Macquarie University

Dunia internasional semakin menyoroti bertambahnya jumlah pelajar perempuan di Iran yang jatuh sakit selama beberapa bulan ke belakang, diduga akibat serangan kimia. Meski sumber-sumber menyebutkan angka yang berbeda-beda, per 7 Maret banyak laporan mencatat ada lebih dari 1.000 kasus keracunan. Ini terjadi di setidaknya 58 sekolah di 10 provinsi Iran.

Kasus-kasus paling awal dilaporkan di Kota Qom pada bulan November lalu. Jumlah kasusnya kemudian semakin bertambah, dengan 26 sekolah melaporkan gelombang insiden keracunan hanya dalam seminggu ke belakang.

Para murid mengeluhkan gejala pernapasan, mual, pusing dan rasa lelah. Beberapa dari mereka sampai masuk rumah sakit. Para orang tua pun memutuskan merumahkan dulu anak perempuan mereka demi terhindar dari serangan-serangan ini.

Keresahan publik yang meningkat disertai perhatian dunia internasional membuat Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, secara publik mengutuk serangan-serangan tersebut sebagai "kejahatan besar yang tidak bisa dimaafkan". Ia menjanjikan investigasi dan hukuman secepatnya bagi mereka yang bertanggung jawab.

Hal ini menyusul pernyataan yang kontradiktif dari para pejabat pemerintah selama beberapa bulan ke belakang, penahanan seorang jurnalis pada akhir pekan lalu yang menyelidiki isu tersebut, serta laporan akan penggunaan gas air mata untuk membubarkan massa demonstrasi di Tehran pada Hari Minggu yang memprotes rangkaian serangan racun ini.

Banyak pihak menganggap serangan-serangan ini sebagai balasan terhadap gelombang protes yang tengah berlangsung di Iran sejak kematian Mahsa Amini pada bulan September. Berbagai pelajar, sebagian besar mahasiswa dan murid perempuan, ada di garda terdepan dalam rangkaian demonstrasi tersebut.

Hingga 7 Maret, belum ada bukti langsung terkait siapa pelaku di balik insiden-insiden di atas, maupun metode serangannya. Salah satu kesulitan dan tantangan dalam membuktikannya adalah sangat terbatasnya kebebasan pers di Iran. Dunia internasional pun mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk turun tangan melakukan investigasi independen.

Ada beberapa pihak yang mempertanyakan apakah ini benar-benar serangan kimia. Mereka justru berspekulasi bahwa ini bukti adanya penyakit psikogenik (bersumber dari kondisi psikologis) yang terjadi secara massal.

Hal ini memang pernah terjadi sebelumnya - dalam suatu investigasi dugaan peracunan murid perempuan di Afganistan pada 2012-2016, PBB menyimpulkan bahwa penyebabnya kemungkinan besar adalah penyakit psikogenik massal, setelah mereka gagal menemukan jajak racun atau gas kimia.

Meski demikian, realitasnya adalah zat-zat beracun sangat cepat memudar, terutama nitrogen dioksida. Salah satu laporan pemerintah di Iran mengindikasikan bahwa zat ini bisa jadi berperan dalam rangkaian insiden yang tengah berlangsung. Ada juga beberapa laporan saksi mata, meski belum terkonfirmasi, yang melihat adanya objek-objek mencurigakan yang dilemparkan ke halaman-halaman sekolah.

Ancaman Global Pendidikan Perempuan

Aasan lain mengapa peracunan yang disengaja terhadap para pelajar perempuan Iran ini kredibel adalah karakternya yang senada dengan tren global. Meski pendidikan, termasuk pendidikan perempuan, itu cukup dihargai di Iran, pelajar perempuan di seluruh dunia seringkali menjadi target serangan.

Suatu laporan dari Koalisi Global untuk Perlindungan Pendidikan dari Serangan meninjau serangan-serangan terhadap pendidikan perempuan selama 2014 hingga 2018 di daerah-daerah konflik dan instabilitas. Temuannya, pelajar maupun guru perempuan telah secara langsung menjadi sasaran serangan di setidaknya 18 negara. Ini termasuk Afganistan, Kamerun, Republik Afrika Tengah, Kolombia, Republik Demokratik Kongo, Mesir, India, Irak, Libia, Mali, Myanmar, Nigeria, Pakistan, Filipina, Sudan Selatan, Suriah, Venezuela, dan Yaman.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
Keren, Unika Atma Jaya Masu...
Megapolitan
Mau Tawuran, Dua Pemuda Baw...
Megapolitan
Perum Bulog Lebak-Pandeglan...

BPJS Kesehatan Edukasi Polda Kepri Terkait Program JKN

1.5 jam yang lalu | Bambang Wijanarko

Daerah
BPJS Kesehatan Edukasi Pold...
Rona
6 Drama Korea Baru yang Waj...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.