Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

RI Harus Fokus Garap Potensi EBT Dalam Negeri Ketimbang Impor

📅 Rabu, 16 Mar 2022, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
RI Harus Fokus Garap Potensi EBT Dalam Negeri Ketimbang Impor Doc: ISTIMEWA
Ket. ESTHER SRI ASTUTI Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro Semarang - Jika sampai impor tenaga surya dilakukan, ini kebangetan. Karena Indonesia punya sumber energi tenaga surya yang melimpah.

JAKARTA - Dua orang terkaya Australia berencana untuk memasok listrik ramah lingkungan ke Singapura dan Indonesia. Proyek ambisius itu ditandai dengan pembangunan ladang surya terbesar di dunia dan pemasangan kabel laut sepanjang 5.000 kilometer.

Rencana mengekspor listrik hijau melalui kabel laut dirintis oleh perusahaan Australia Sun Cable. Kini, dukungan finansial datang dari pengusaha tambang, Andrew Forrest, dan pengusaha software Australia, Mike Cannon-Brookes.

Kedua orang itu mengumumkan bakal menggabungkan modal sebesar 152 juta dollar AS untuk Sun Cable. Tidak jelas seberapa besar kontribusi atau keterlibatan kedua miliarder di dalam proyek yang ditaksir bakal menghabiskan investasi senilai 14,5 miliar dollar AS itu.

Sun Cable menargetkan akan mulai mengekspor listrik dari ladang surya raksasa di Northern Territory pada 2027 mendatang melalui kabel bawah laut sepanjang 5.000 kilometer ke Singapura dan Indonesia.

Dari jumlah yang diekspor tersebut, Indonesia diperkirakan akan mampu menyerap 15 persen kebutuhan energinya dari Sun Cable. Sementara Indonesia, September 2021 silam, memberi izin cepat bagi survei bawah laut karena dijanjikan akan mendapat jatah investasi senilai 2,5 miliar dollar AS.

"Visi Sun Cable adalah menambah kapabilitas Australia untuk menjadi pionir dan eksportir terbesar listrik hijau yang memungkinkan dekarbonisasi. Penambahan modal ini adalah langkah kritis bagi kelangsungan proyek," tulis Andrew Forrest, dalam keterangan persnya baru-baru ini.

Direktur Sun Cable, David Griffin, mengatakan suntikan kapital oleh kedua miliarder akan digunakan untuk membangun proyek pembangkit listrik tenaga surya di Northern Territory, terutama mendukung kemajuan pembangunan sejumlah aset dan fasilitas kunci.

"Kami ingin agar proyek ini bisa membantu memperkuat kapabilitas kawasan Indo-Pasifik untuk mencapai ambisi niremisi dan pertumbuhan ekonomi yang ditopang energi terbarukan," kata Griffin.

Rencana itu termasuk pengadaan lahan seluas 12.000 hektare untuk pembangunan pembangkit surya berkapasitas 20 gigawatt, beserta fasilitas penyimpanan energi sebesar 42 gigawatt/jam. Investasi raksasa itu dinilai akan menguntungkan seiring meningkatnya kebutuhan energi di Asia Tenggara.

Namun pemerintah RI sejauh ini belum mengindikasikan bakal membeli listrik dari Sun Cable. Izin survei yang dikeluarkan September silam hanya berlaku bagi pembangunan kabel bawah laut ke Sungapura melalui wilayah Indonesia. Dukungan pemerintah pun tidak didapat tanpa kompensasi. Sun Cable berjanji akan berinvestasi langsung senilai satu miliar dollar AS untuk perlengkapan dan jasa selama proses konstruksi, serta dana perawatan sebesar 1,5 miliar dollar AS sesudah kabel beroperasi.

Menanggapi rencana ekspor energi Australia itu, Manajer Riset Seknas Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra), Badiul Hadi, menegaskan pemerintah sebaiknya fokus menggunakan sumber energi ramah lingkungan dalam negeri, ketimbang mengimpor energi listrik.

"Jangan sampai semangat menggenjot target energi baru terbarukan (EBT), pemerintah mengabaikan sumber energi ramah lingkungan dalam negeri" tegas Badiul.

Pemerintah, jelasnya, harus fokus saja menjalankan rencana usaha penyediaan tenaga listrik (RUPTL) 2021-2030 dengan mengoptimalkan PLTS Atap dan Terapung guna mendukung bauran energi hijau dan ramah lingkungan.

Apalagi sumber EBT di Indonesia berlimpah, bahkan hingga kini porsi EBT dalam bauran energi nasional baru sebesar 11,7 persen.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Olahraga
Madura United Bersuka Cita ...
Luar Negeri
Toko-toko di Bordeaux bersi...
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.