Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Pertimbangkan Hubungannya dengan AS, Vietnam Ragu-ragu untuk Bergabung dengan BRICS

📅 Sabtu, 04 Jan 2025, 01:20 WIB | Oleh:
Pertimbangkan Hubungannya dengan AS, Vietnam Ragu-ragu untuk Bergabung dengan BRICS Doc: AFP/Maxim Shemetov
Ket. Para pejabat menghadiri sesi pleno dalam format penjangkauan/BRICS Plus di KTT BRICS, di Kazan, Russia, beberapa waktu lalu.

HANOI - Para mengatakan penundaan Vietnam yang mencolok dalam daftar mitra kelompok BRICS (Brasil, Russia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan), menandakan tindakan penyeimbangan yang hati-hati, saat Hanoi mempertimbangkan hubungan ekonominya yang berkembang dengan Washington dibandingkan manfaat bergabung dengan blok yang sering dianggap sebagai penangkal pengaruh global yang dipimpin Amerika Serikat (AS).

Dikutip dari South Tiongkok Morning Post, Kementerian Luar Negeri Russia mengatakan dalam pernyataan tertulis yang dirilis pada hari Jumat (3/1) bahwa sembilan negara akan secara resmi bergabung dengan BRICS sebagai negara mitra pada tanggal 1 Januari, sesuai dengan kesepakatan yang dicapai selama KTT BRICS yang diadakan di Kazan, Russia pada bulan Oktober.

Indonesia, Malaysia, dan Thailand termasuk di antara negara mitra yang dikonfirmasi yang diumumkan dalam pernyataan tersebut.

Pada KTT di Kazan, 13 negara diundang untuk menjadi mitra blok tersebut, yang berarti mereka berada di jalur menuju keanggotaan penuh. Sembilan negara menerima undangan tersebut, sementara Aljazair, Nigeria, Turki, dan Vietnam tidak secara resmi menanggapi hingga akhir tahun 2024.

Jaga Keseimbangan

Ahli di Pusat Studi Keamanan Asia-Pasifik di Hawaii, Alexander Vuving, mengatakan, hal itu mencerminkan Hanoi berusaha menjaga keseimbangan antara penguatan hubungan dengan AS dan potensi manfaat dari bergabung dengan blok yang dianggap sebagai penyeimbang AS. 

"Keraguan Vietnam disebabkan dari hubungan yang rumit Hanoi dengan Amerika Serikat," katanya. 

Sementara itu, Pakar Hubungan Internasional Universitas Brawijaya (UB), Malang, Adhi Cahya Fahadayna, mengatakan, Indonesia perlu mencontoh Vietnam yang menunda langkahnya karena mempertimbangkan terpilihnya kembali Trump sebagai Presiden AS, yang kemungkinan besar akan membawa perubahan signifikan dalam kebijakan luar negeri AS terhadap Tiongkok dan BRICS. 

"Negara-negara di kawasan Asia-Pasifik perlu berhati-hati dalam menavigasi dinamika ini untuk menghindari dampak negatif dari kebijakan agresif AS. Kebijakan yang lebih ofensif dan reaktif dapat memicu ketegangan yang lebih besar, baik dalam hubungan bilateral maupun dalam konteks geopolitik yang lebih luas,” kata Adhi.

Adhi mengatakan negara-negara di kawasan Asia-Pasifik, termasuk Vietnam, kemungkinan akan sangat berhati-hati dalam menavigasi hubungan mereka dengan AS dan Tiongkok. Mengingat kebijakan ofensif Trump, negara-negara ini mungkin akan berusaha untuk tidak menjadi sasaran kebijakan agresif AS.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Megapolitan
DKI Perluas Pelatihan Kerja...
Nasional
DPR Minta Kepala BGN Baru F...
Nasional
Huntara di Langkahan roboh ...
Nasional
Atap bangunan sekolah SDN d...
Ekonomi
Nilai tukar rupiah terendah...

Operasi uji emisi kendaraan di Tangerang

48 menit yang lalu | Wahyu AP

Megapolitan
Operasi uji emisi kendaraan...
Megapolitan
Pemkot Jakut Vaksinasi Ribu...
Ekonomi
Industri sepatu rumahan kua...

Pelaksanaan program penghapusan bentor

53 menit yang lalu | Wahyu AP

Nasional
Pelaksanaan program penghap...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.