Perlambatan Perdagangan Global Bakal Memburuk pada 2023
📅 Kamis, 15 Des 2022, 05:38 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: ISTIMEWA
»Fokus menjaga dan meningkatkan neraca perdagangan agar tetap surplus terutama sektor nonmigas.
» Jika harga energi kembali turun maka inflasi global bisa menurun dan meningkatkan kembali permintaan.
JAKARTA - Kondisi perlambatan perdagangan global yang sedang berlangsung saat ini diperkirakan akan semakin memburuk pada 2023 mendatang. Konferensi PBB mengenai Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) baru-baru ini menyatakan proyeksi kondisi makin memburuk karena diliputi ketidakpastian.
"Sementara prospek perdagangan global tetap tidak pasti, faktor negatif tampaknya lebih besar daripada tren positif," kata UNCTAD dalam pembaruan perdagangan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Lembaga itu memperkirakan nilai perdagangan global akan menurun pada kuartal keempat tahun ini, baik untuk barang maupun jasa-jasa, setelah terlihat lebih tangguh selama paruh kedua 2022.
Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Univeristas Gadjah Mada, Eddy Junarsin, mengatakan prospek ekonomi global pada 2023 diperkirakan memburuk karena risiko resesi dan tingkat inflasi tinggi serta diikuti ketidakpastian ekonomi tinggi yang disebabkan oleh volatilitas keuangan global.
"Harapannya resesi global tidak terjadi. Mudah-mudahan koordinasi global lebih baik sehingga pemulihan menjadi lebih cepat," kata Eddy.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dia menyebutkan rata-rata inflasi negara global mencapai 9,2 persen dan diharapkan bisa melunak di bawah angka tersebut. Saat ini, kata Eddy, tingkat inflasi negara Eropa akibat dampak perang Russia dan Ukraina mencapai 10 persen, sedangkan Amerika Serikat (AS) mencapai 7,1 persen.
"Negara maju seperti AS tingkat inflasinya sampai 9 persen. Sekarang 7,1 persen. Turun 1 hingga 2,5 persen saja mereka sangat senang. Eropa sekarang 10 persen. Indonesia sekitar 5,42 inflasinya, lebih moderat daripada negara maju," ujarnya.
Mengenai resesi, Eddy menyampaikan bahwa negara di dunia termasuk Indonesia sudah mengalaminya di awal pandemi di mana pertumbuhan hampir seluruh negara negatif. "Bila krisis sudah lewat, selalu ada efek samping. Biasanya yang akan terjadi adalah peredaran uang yang lebih banyak, akan terjadi inflasi dan agak melonjak, seberapa lama kondisi ini terjadi, itu yang perlu diatur," pungkasnya.
Menghadapi ancaman tahun depan, Manajer Riset Seknas Fitra, Badiul Hadi, mengatakan pemerintah harus fokus menjaga dan meningkatkan kinerja neraca perdagangan agar tetap surplus terutama sektor nonmigas. "Tentu dengan tetap menjaga produktivitas dalam negeri," ungkapnya.
Selain itu, juga perlu memperkuat diversifikasi produk ekspor nonmigas, untuk meningkatan neraca perdagangan Indonesia.
Penting juga menyusun rencana strategis jangka menengah menyikapi kondisi perdaganga global yang tidak menentu. Misalnya, BPS mencatat neraca perdagangan Indonesia pada September 2022 surplus 4,99 miliar dollar AS. Walaupun surplus, namun turun dibanding Agustus 2022 yang surplus 5,71 miliar dollar AS.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!