Penyebab Bencana Hidrometeorologi Bukan Hanya Cuaca Ekstrem
📅 Kamis, 29 Des 2022, 00:03 WIB | Oleh: Muhamad Ma'rup
Doc: ANTARA/MUHAMMAD BAGUS KHOIRUNAS
JAKARTA - Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Iklim dan Atmosfer, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Didi Setiadi, menyebut bencana hidrometeorologi bukan hanya disebabkan cuaca ekstrem. Adapun faktor penyebab lain yaitu kondisi lingkungan, kondisi demografi, dan kemampuan penanggulangan bencana.
"Penyebab kejadian bencana tidak hanya satu, tapi komplikasi semuanya," ujar Didi dalam Diskusi Bisaan Bangga secara virtual, Rabu (28/12).
Dia menambahkan, Indonesia selain rawan bencana geologi juga rawan terhadap bencana hidrometeorologi. Bencana hidrometeorologi adalah bencana yang diakibatkan oleh aktivitas cuaca, seperti siklus hidrologi, curah hujan, temperatur, angin dan kelembapan. Bentuk bencana hidrometeorologi berupa kekeringan, banjir, badai, kebakaran hutan, longsor, angin puyuh, gelombang dingin, hingga gelombang panas.
Indonesia merupakan wilayah energi tinggi sehingga dalam prosesnya terjadi dinamika yang bisa memicu cuaca ekstrem yang sulit diprediksi. "Kondisi wilayah Indonesia itu cenderung terjadinya kondisi ekstrem terutama hujan karena kita penghasil hujan terbesar di dunia," jelasnya.
Laboratorium Iklim
Sebaiknya Anda baca juga:
Didi mengungkapkan Indonesia kerap disebut laboratorium iklim. Menurutnya, kondisi iklim yang terjadi di Indonesia berpengaruh terhadap iklim global, begitu juga sebaliknya Indonesia menjadi paling terdampak akibat perubahan iklim global.
Dia menambahkan, Indonesia menjadi kunci dalam mengatasi masalah iklim global. Menurutnya, semua pihak harus mulai meningkatkan kemampuan pengelolaan risiko bencana sebagai langkah mitigasi dampak buruk perubahan iklim.
"Pengelolaan risiko bencana tanggung jawab semua pihak. Pemerintah wajib melindungi warganya dengan cara mengelola risiko bencana dengan memperkecil dampak bencana. Masyarakat serta dunia usaha juga harus ikut berperan," katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Didi menekankan, dalam pengelolaan risiko bencana terdapat proses pengkajian dan pengendalian. Pengkajian dilakukan jauh sebelum terjadi bencana dengan analisis estimasi dan evaluasi risiko.
Sedangkan dalam proses pengendalian mencakup pencegahan dan penanganan pasca bencana. Menurutnya, proses tersebut harus dilakukan untuk meminimalisir dampak dari bencana. "Seluruh kegiatan perlu dilakukan dan tujuannya berusaha mengurangi risiko tersebut sekecil mungkin," tandasnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!