Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video
Laporan Bank Dunia I Investasi Jadi Mesin Kuat Penciptaan Lapangan Kerja

Lapangan Kerja untuk Kelas Menengah Masih Kurang

Foto : Sumber: BPS – Litbang KJ/and - KJ/ONES
A   A   A   Pengaturan Font

» Ekonom Indef: Dorong investasi ke sektor industri padat karya guna mengatasi lonjakan pengangguran.

» Jika investasi lebih cenderung ke sektor padat modal, teknologi informasi dan jasa keuangan maka penyerapan tenaga kerja tak akan maksimal.

JAKARTA - Bank Dunia dalam laporan Indonesia Economic Prospects (IEP) bertajuk Boosting The Recovery merekomendasikan empat pilar reformasi untuk menciptakan lapangan pekerjaan di Indonesia akibat dampak pandemi Covid-19.

Kepala Perwakilan Bank Dunia Untuk Indonesia dan Timor Leste Satu Kahkonen di dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (17/6) menyatakan rencana reformasi untuk menciptakan pekerjaan dapat dibangun di atas empat pilar. Pertama, penciptakan lapangan pekerjaan di masa krisis harus melakukan retensi terhadap pelatihan dan upskilling hingga pemulihan ekonomi dapat berjalan dengan baik.

Kedua adalah fokus pada penciptaan lapangan kerja kelas menengah agar tercipta tingkat produktivitas, pendapatan dan manfaat sosial yang lebih tinggi. Selama ini, Indonesia sudah menciptakan banyak lapangan pekerjaan yang penting untuk pengentasan kemiskinan namun pekerjaan kelas menengah masih kurang.

"Investasi dan perdagangan ini akan menjadi mesin yang sangat kuat untuk penciptaan pekerjaan kelas menengah," kata Kahkonen.

Upaya pemerintah melalui Undang-Undang Cipta Kerja dinilai sebagai langkah penting untuk mengatasi permasalahan dalam investasi dan tenaga kerja. Sebab itu, dia mengingatkan agar fokusnya sekarang adalah implementasi yang efektif dan reformasi yang komplementer sehingga mampu menjawab segala tantangan dan menyiasati hambatan perdagangan yang dihadapi Indonesia.

Pilar ketiga kata Kahkonen adalah melengkapi angkatan kerja dengan keterampilan yakni salah satunya dilakukan melalui pembelajaran dan edukasi.

Sementara itu, Ekonom Utama Bank Dunia untuk Indonesia, Habib Rab menjelaskan peningkatan produktivitas saja tidak cukup, keterampilan para calon tenaga kerja juga harus dikembangkan.

Habib menuturkan pengembangan keterampilan terhadap calon tenaga kerja dapat dilakukan melalui pengelolaan sistem pendidikan yang baik. "Itu bisa menghasilkan talenta-talenta atau angkatan kerja yang memiliki keterampilan sesuai standar industri," kata Habib.

Pilar terakhir yang tak kalah penting adalah memberi peran yang lebih luas pada perempuan sebagai angkatan kerja, sehingga mempersempit kesenjangan antara laki-laki dan perempuan.

"Kita mengestimasikan Indonesia bisa meningkatkan lapangan kerja itu sebesar 59 persen pada 2025 dan akan ada peningkatan pertumbuhan signifikan dengan adanya partisipasi perempuan," jelasnya.

Padat Karya

Menanggapi rekomendai Bank Dunia tersebut, Direktur Eksekutif Indef, Tauhid Ahmad meminta pemerintah untuk mendorong investasi ke sektor industri padat karya guna mengatasi lonjakan pengangguran karena pandemi.

"Jika investasi lebih cenderung ke sektor capital intensive (padat modal), teknologi informasi atau jasa keuangan maka penyerapan tenaga kerja tak akan maksimal karena investasi seperti itu diutamakan pendekatan keahlian dan pendidikan," kata Tauhid.

Dia berharap pemerintah memperbanyak program yang banyak menyerap tenaga kerja seperti proyek yang sifatnya multiyears atau jangka panjang bukan hanya untuk sementara waktu.

Ia pun mengusulkan agar pemerintah menaikkan anggaran untuk belanja modal . Saat ini anggaran belanja modal hanya sekitar 15 persen atau 300-an trilliun rupiah total dari APBN, mestinya di atas 20 persen atau 500-600 trilliun rupiah per tahunnya. Dia juga mengimbau pemerintah untuk memperbanyak pendidikan vokasi agar kebutuhan industri dengan suplai tenaga kerja berkompeten saling terhubung.

Sementara itu, Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang Esther Sri Astuti mengatakan pemerintah sebenarnya sudah melaksanakan rekomendasi bank dunia itu, namun pelaksanaannya tidak berjalan mulus. n ers/E-9

(ers/E-9)
Redaktur : Vitto Budi
Penulis : Fredrikus Wolgabrink Sabini

Komentar

Komentar
()

Top