Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video

Jelajah Sejarah Kota Lumpia

Foto : Istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

Kota Semarang memiliki banyak destinasi wisata, tak hanya Simpang Lima atau Lawang Sewu yang selama ini telah dikenal.

Semarang, yang telah ada sejak abad 6, menjajakan cerita masa lalu terutama pada masa kolonial. Di balik sejarahnya, Bergota, demikian nama kunonya, juga menawarkan narasi-narasi yang saat ini yang bisa dijelajahi.

Kota Lama

Kota Lama adalah blok kawasan yang berada di tepi Sungai Mberok. Masuk dalam administrasi wilayah Tanjung Emas, Kecamatan Semarang Utara, tempat ini menawarkan bangunan-bangunan bersejarah peninggalan zaman VOC yang masih terpelihara dengan baik.

Di Kota Lama terdapat sekitar 105 bangunan kuno yang masih berdiri dengan kokoh dan sebagian terawat dengan baik. Bangunan tersebut umumnya didirikan pada masa VOC yang berkuasa 1602 hingga 1799.

Salah satu ciri bangunan di Kota Lama dan bangunan tua di Semarang detail bangunan yang khas dengan ornamen-ornamen kaca-kaca berwarna-warni pada jendela dan pintu. Ciri khas lain memiliki atap dan pintu serta jendela tinggi dan lebar, beberapa di antaranya memiliki ruang bawah tanah.

Taman Srigunting menjadi titik kumpul untuk memulai penjelajahi Kota Lama Semarang. Di taman ini terdapat Gereja Blenduk yang merupakan salah satu gereja tertua di Jawa Tengah. Gereja Blenduk ini merupakan bangunan gereja berarsitektur indah sehingga menjadi primadona wisatawan untuk berfoto.

Gereja ini dibangun pertama kali oleh bangsa Portugis yang saat itu menduduki Semarang. Awalnya berupa rumah panggung khas arsitektur Jawa. Rumah panggung itu lalu dirombak pada 1787. Pada 1894, arsitek asal Belanda HPA de Wilde dan Westmas menambah dua menara dan merenovasi atapnya menjadi kubah.

Selain Gereja Blenduk, bangunan lain kuno lain adalah Jembatan Berok. Jembatan ini menghubungkan gerbang menuju bangunan Kota Lama. Jembatan Berok berasal dari kata burg berarti jembatan yang dilafalkan menjadi Berok oleh warga setempat.

Bangunan lain yang terkenal adalah Gedung Jiwasraya yang letaknya berseberangan dengan Gereja Blenduk. Ada lagi Gedung Marabunta yang memiliki ornamen seperti berbentuk semut raksasa yang terlihat di atapnya.

Lawang Sewu

Lawang Sewu berada di Simpang Lima Tugu Muda tempat yang menjadi pusat Kota Semarang. Dari Kota Lama, Lawang Sewu letaknya berada di barat daya dengan jarak 2,7 km. Tinggal menyusuri Jl Pemuda, nantinya akan sampai gedung tua ini.

Sewu adalah gedung bersejarah milik PT Kereta Api Indonesia (Persero) yang awalnya digunakan sebagai Kantor Pusat perusahaan kereta api swasta Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM), meski sebenarnya jauh dari stasiun atau rel kereta api

Gedung Lawang Sewu dibangun secara bertahap di atas lahan seluas 18.232 m persegi. Bangunan utama dimulai pada 27 Februari 1904 dan selesai pada Juli 1907. Sedangkan bangunan tambahan dibangun sekitar tahun 1916 dan selesai tahun 1918.

Disebut lawang sewu atau seribu pintu karena memilliki banyak pintu kayu yang jumlahnya mencapai 928 buah. Tiket Masuknya sebesar 10 ribu rupiah 30 ribu rupiah untuk tiket masuk ke ruang bawah tanahnya.

Simpang Lima

Cara menikmati suasana malam terbaik di kota Semarang adalah di Simpang Lima. Pada malam hari alun-alun yang menjadi titik pertemuan lima jalan, yaitu Jl Pandanaran, Jl Gajah Mada, Jl KH Ahmad Dahlan, Jl A Yani, dan Jl Pahlawan itu seolah bermandikan cahaya dan menjadi tempat berkumpul warga.

Simpang Lima dengan alun-alun luas dikelilingi oleh mal. Di antara mal di Semarang yang dapat ditempuh dengan jalan kaki saja adalah Plaza Simpang Lima, Ciputra Mall, dan Entertainment Plaza.

Di tempat tersebut juga tersedia titik-titik foto yang sebagai penanda wisatawan pernah berada di sana. Selain itu, bisa mencoba mobil kayuh berhiaskan lampu kelap-kelip dengan tarif 20 ribu rupiah. Jika tidak mau capek, bisa berkeliling dengan delman dengan tarif 30 ribu rupiah.

Kelenteng Sam Poo Kong

Kelenteng Sam Poo Kong beralamat di Jl Simongan No 129, Kelurahan Bongsari, Kecamatan Semarang Barat. Bangunan yang didirikan pada 1724 ini merupakan bekas persinggahan Laksamana Tiongkok beragama Islam yang bernama Zheng He/Cheng Ho.

Kelenteng ini disebut juga Gedung Batu karena bentuknya merupakan gua batu besar yang berada di sebuah bukit batu. Untuk mengenang Cheng Ho, masyarakat Indonesia keturunan Tionghoa membangun sebuah kelenteng tersebut.

Sekarang tempat ini dijadikan tempat peringatan dan pemujaan atau bersembahyang serta tempat untuk berziarah. Untuk keperluan tersebut, di dalam gua batu itu diletakkan sebuah altar serta patung-patung Sam Po Tay Djien.

Meskipun Laksamana Cheng Ho adalah seorang Muslim, tetapi masyarakat menganggapnya sebagai dewa. Hal ini dapat dimaklumi mengingat agama Konghucu atau Taoisme menganggap orang yang sudah meninggal dapat memberikan pertolongan.

Pantai Tirang

Pantai di Semarang memang tidak seindah Kabupatan Jepara yang berada di timur laut kota itu. Namun demikian, ada salah satu pantai andalan masyarakat untuk melihat luasnya Laut Jawa, yaitu Pantai Tirang yang terletak di Desa Tugurejo, Kecamatan Tugu, atau berada di sebelah utara Bandara Ahma Yani.

Dalam sejarahnya, Pantai Tirang dulunya terdapat sebuah pulau kecil yang disebut Pulau Tirang. Pulau tersebut menjadi ikon Kota Semarang karena terdapat beberapa fauna dan flora di dalamnya. Namun karena abrasi yang sangat hebat, pulau tersebut menghilang dan kini hanya menyisakan garis pantai yang kini disebut dengan Pantai Tirang.

Pada sore hari pantai berpasir hitam ini menjanjikan keindahan sunset terutama saat matahari berada di belahan bumi utara. Seperti di Pantai Kuta, Bali di sini juga pengunjung dapat melihat lalu lalang pesawat, dan juga ikan-ikan kecil yang berada di bibir pantai. Untuk masuk ke pantai tiring dikenakan tiket 5.000 rupiah. Fasilitas yang tersedia berupa area parkir, warung, serta gazebo.

Kampung Pelangi

Yang menyukai foto-foto dengan latar objek warna-warni bisa datang ke Kampung Wonosari Kelurahan Randusari, Kecamatan Semarang Selatan. Kampung yang dulunya kumuh itu, kini telah bersolek dan mampu memikat wisawatan yang melewati jalan Dr Sutomo, tempat kampung Pelangi berdiri di perbukitan yang dipisahkan oleh sungai. Hadirnya Kampung Pelangi terinpirasi oleh Kampung Jodipan yang berada di Kota Malang menurut inisiator yaitu Slamet Widodo. Melihat pontensi Jodipan masyarakat bersama Pemkot Semarang menyulap kampung wonosari menjadi kampung pelangi.

Baca Juga :
Glamping di Ciwidey

Butuh biaya besar untuk menyulap kampung kumuh dengan 325 rumah tersebut menjadi tempat wisata seperti sekarang. Hasilnya tidak mengecewakan, karena wisatawan yang datang turut memberi sumbangan bagi roda ekonomi warga.

Oleh wisatawan kampung ini menjadi menjadi titik foto, dengan hiasan lampion, payung, bangku tentunya berwarna-warni. Ada gambar wayang, kupu-kupu, macan, ular. Untuk masuk ke Kampung Pelangi ada lima jembatan yang bisa dilalui di setiap jembatan dilengkapi payung warna-warni yang unik.

Lokasinya Kampung Pelangi cukup strategis ata hanya berjarak sekitar 200 meter dari Lawang Sewu dan Rumah Sakit Dr Kariadi. Saat ini parkir mobil atau motor di sepanjang pinggir jalan Dr Sutomo dengan tarif mobil lima ribu rupiah dan motor dua ribu rupiah.

Jalan Pandanaran

Jika sedang berada di Kawasan Simpang Lima, Semarang, dan ingin menuju Tugu Muda, akan melewati sebuah jalan yang diberi nama Jalan Pandanaran. Jalan yang berada di tengah-tengah Kota Semarang ini dikenal sebagai sentra oleh-oleh khas Semarang, seperti lumpia, bandeng presto, dan wingko babat dapat ditemui dengan mudah.

Salah satu penjual lumpia di Jalan Pandanaran adalah lumpia Mbak Lien. Yang spesial dari lumpia Mbak Lien adalah isinya yang ditambahi racikan daging ayam kampung. Selain itu, terdapat tiga macam isi lumpia, yaitu lumpia isi udang, isi ayam, dan lumpia isi campuran antara keduanya.

Selain lumpia, oleh-oleh khas Semarang yang juga banyak dijual di Jalan Pandanaran adalah bandeng presto. Bandeng presto adalah ikan bandeng berduri lunak karena dimasak menggunakan uap air betegangan tinggi. Di sini terdapat dua toko besar paling terkenal yang menjual kuliner bandeng presto, yaitu toko berlabel Bandeng Presto "yang pertama sejak tahun 1977" dan Bandeng Juwana.

Harga bandeng presto di Jalan Pandanaran sangat bervariasi, misalnya saja ditoko Bandeng Juwana, bandeng rasa teriyaki dibanderol dengan harga 30 ribu rupiah per ekor atau bandeng dalam sangkar yang terdiri dari 3-4 ekor ikan dijual dengan 95 ribu rupiah per kilogram.

(hay/S-2)
Redaktur : Sriyono

Komentar

Komentar
()

Top