Italia Menyimpan Ratusan Koleksi Etnografis Indonesia, Haruskah Kita Repatriasi?
📅 Kamis, 17 Okt 2024, 15:50 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: The Conversation/Purnawibawa
Ahmad Ginanjar Purnawibawa, Universitas Pendidikan Ganesha
Rakyat Indonesia tengah merasakan euforia kepulangan 288 benda budaya Indonesia dari Belanda, menyusul 472 benda budaya yang lebih dulu dipulangkan pada 2023-hasil repatriasi koleksi Museum Nusantara Delft.
Repatriasi merupakan kembalinya benda seni atau budaya ke negara pemilik asal kebudayaan. Contoh paling mudah dari proses repatriasi ini adalah kembalinya benda-benda budaya yang diambil oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda saat masa penjajahan ke Indonesia. Benda-benda budaya ini dapat dikembalikan karena adanya permintaan dari pemerintah negara pemilik, atau 'kemurahan hati' dari eks penjajah untuk mengembalikan benda budaya tersebut.
Namun, panjangnya sejarah antara Indonesia dan Belanda sering kali membuat kita mengira bahwa benda budaya Indonesia di luar negeri hanya ada di Belanda.
Padahal, banyak objek budaya Indonesia yang juga tersebar di berbagai museum etnografi terutama di Amerika Utara, dan Eropa, termasuk museum-museum di Italia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ketika penulis berkunjung ke Museum Paleobotani dan Etnobotani di Napoli, Italia, misalnya, terdapat koleksi perahu kecil, perangkap ikan dan jaring milik suku Sakai dan suku Bonai. Koleksi tersebut dikumpulkan antropolog Dario Novellino di tahun 1992 ketika berkunjung ke Riau, Sumatra.
Di sisi lain Italia, tepatnya di Museum Antropologi dan Etnologi Firenze, tersimpan ratusan koleksi Nias, Batak, dan Mentawai dalam lemari-lemari kaca yang tebal. Pada 1886, Elio Modigliani, seorang antropolog dari Firenze, berkunjung ke beberapa desa di Nias Selatan dan mengumpulkan berbagai koleksi fauna (yang dikirim ke Genoa) serta koleksi etnografi dengan melakukan barter.
Koleksi-koleksi etnografi yang ada di berbagai museum di Italia ini bukanlah koleksi yang 'fenomenal.' Namun, koleksi ini merekam dengan detail cara hidup masyarakat suku Sakai, suku Bonai dan suku Nias, sehingga mewakili potret suku asli Indonesia, yang justru jarang ditemukan di museum-museum dalam negeri.
Sebaiknya Anda baca juga:
Rekam sejarah yang terlupakan
Koleksi di museum-museum di Italia merupakan benda sehari-hari yang digunakan oleh masyarakat pada masa lalu seperti piring, gelas bambu, perhiasan, perlengkapan perang dan patung leluhur.
Ini justru merupakan koleksi penting. Sebab, setelah tergusur dari lingkungan asli mereka dan tinggal di barak-barak penampungan, suku Sakai terpaksa beradaptasi dengan cara hidup yang sama sekali berbeda. Tidak ada lagi aktivitas memancing, berenang, dan menjaring ikan dengan perahu kecil bagi anak-anak Sakai.
Saat ini, sebagian besar dari orang Sakai terdislokasi dan dipaksa hidup permanen. Mereka meninggalkan kehidupan semi-nomaden dan berburu yang merupakan tradisi turun temurun. Ini justru banyak memberikan dampak negatif bagi generasi muda Sakai.
Nasib serupa dialami lebih awal oleh masyarakat asli Nias selatan. Gencarnya misi-misi keagamaan yang dimulai sejak 1865 membuat masyarakat Nias meninggalkan kebiasaan lama. Puncaknya adalah peristiwa Fangesa Sebua (Pertobatan Besar) pada 1916-1930, ketika hampir seluruh orang asli Nias berpindah memeluk agama Nasrani yang kemudian diikuti dengan pemusnahan ikon-ikon agama lama, seperti patung-patung leluhur dari kayu dan pelarangan aktivitas pembuatan patung leluhur.
Tak heran, dalam penelitian lapangan saya di Nias Selatan tahun ini, ketika saya menunjukkan beberapa foto benda-benda Nias yang ada di Museum Antropologi dan Etnologi Firenze, banyak anak muda bahkan orang tua yang sudah tidak mengenali benda-benda etnografis tersebut. Situasi ini cukup memprihatinkan, mengingat koleksi etnografis merupakan pengikat akar budaya dan rasa identitas kolektif yang berasal dari tradisi leluhur.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!