Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Desakan untuk Tinggalkan Energi Fosil Makin Menguat

📅 Selasa, 06 Sep 2022, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Desakan untuk Tinggalkan Energi Fosil Makin Menguat Doc: Sumber: Kementerian ESDM - KJ/ONES/AND

» Pemerintah harus meminta produsen otomotif memproduksi massal mobil listrik.

» Minyak akan langka, mahal, dan bisa jadi bahan bakar tercela dan terlarang.

JAKARTA - Desakan untuk meninggalkan energi fosil yang kotor semakin menguat setelah pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) akhir pekan lalu. Menguatnya desakan itu karena untuk memenuhinya sangat bergantung pada impor, sehingga harganya sangat rentan dan fluktuatif. Selain itu, energi fosil juga memicu polusi udara yang pada akhirnya memicu perubahan iklim dan berujung bencana.

Desakan datang dari berbagai kalangan, mulai dari pemerhati lingkungan, akademisi, hingga para buruh.

Kepala Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Tata Mustasya, mengatakan kenaikan harga minyak adalah momentum bagi pemerintah untuk mengakselerasi transisi energi. Sebab, harga BBM yang tinggi ini bisa bertahan lama bahkan menjadi keseimbangan baru. "Kita harus berebut BBM dengan harga tinggi dengan konsumen di negara-negara maju yang pendapatan riilnya sepuluh kali konsumen di Indonesia," jelas Tata.

Dia juga sepakat untuk lebih akselaratif mendorong transisi energi di sektor otomotif sebagai salah satu sektor penyumbang emisi karbon dan memicu jebolnya subsidi yang telah dianggarkan di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Pemerintah, jelasnya, harus meminta produsen otomotif untuk segera memproduksi massal mobil listrik agar harga dan spare part-nya lebih terjangkau. Bukan sebaliknya, memberi insentif fiskal dengan pembebasan Pajak Pertambahan Nilai atas Barang Mewah (PPnBM) mobil yang justru memicu konsumsi BBM bersubsidi melonjak yang memicu kuotanya lebih cepat habis.

Tata menegaskan jika terus mengabaikan krisis iklim, ongkosnya akan semakin mahal. Biaya sangat besar dikeluarkan untuk menangani berbagai dampak krisis iklim, seperti bencana hidrometeorologi yang intens dan masif, kenaikan permukaan air laut, dan kerugian di sektor pertanian.

Begitu pula dengan risiko kehilangan produk domestik bruto (PDB) sebesar 40 persen berarti hilangnya lapangan kerja, naiknya angka kemiskinan, dan ketidakstabilan sosial politik.

Dihubungi pada kesempatan lain, Pakar Ekonomi dari Universitas Airlangga Surabaya, Muhammad Madyan, mengatakan pemerintah perlu menekan perubahan iklim yang dipicu oleh emisi karbon karena ancamannya tidak bisa dianggap sepele.

"Perubahan iklim dapat membawa bencana bagi manusia, seperti mencairnya es di Antartika, banjir bandang di Kalimantan, dan kebakaran hutan yang terjadi di mana-mana," kata Madyan.

Sementara itu, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, berharap pemerintah bisa menyiapkan energi alternatif lain sebagai pengganti BBM dengan harga terjangkau.

"Mempersiapkan energi alternatif yang lebih murah sehingga masyarakat mempunyai pilihan sehingga harga BBM akan turun," kata Said.

Tambah Beban Negara

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Daerah
Kemendikdasmen Kawal SPMB R...
Olahraga
Emma Navarro Tampil Memukau
Kejutan Besar, Ekuador Lolos ke 32 Besar Usai Taklukkan Jerman 2-1 pada Laga Terakhir Grup E

Kejutan Besar, Ekuador Lolos ke 32 Besar Usai Taklukkan Jerman 2-1 pada Laga Terakhir Grup E

26 Jun 2026
Pilihan Pembaca
# 2
Masa Depan Bursa Dipertaruhkan
📅 Kamis, 25-Jun-2026
# 2
Masa Depan Bursa Dipertaruhkan
📅 Kamis, 25-Jun-2026
Masa Depan Bursa Dipertaruhkan
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.