Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Cape Verde, Pusat Perdagangan Portugis di Pesisir Barat Afrika

📅 Senin, 29 Jan 2024, 06:10 WIB | Oleh:
Cape Verde, Pusat Perdagangan Portugis di Pesisir Barat Afrika Doc: afp/ JOHN WESSELS

Penjajahan di Kepulauan Cape Verde yang berada di Samudra Atlantik dimulai pada 1462. Lokasi yang cukup terpencil digunakan sebagai pangkalan pasokan bagi kapal-kapal yang berlayar ke dan dari wilayah Portugis di Hindia Timur dan Brasil.

Salah satu koloni Portugis adalah Cape Verde. Terletak sekitar 500 kilometer di lepas pantai Afrika Barat, gugusan pulau Cape Verde diberi nama sesuai dengan tanjung paling barat di benua Afrika. Ada sembilan pulau berpenghuni dari 11 pulau yang ada saat ini, ibu kotanya adalah Praia yang berada di Pulau Santiago.

Kondisi alam Cape Verde berbeda dengan pulau-pulau Atlantik lainnya. Kepulauan ini dilanda angin kering dan curah hujan tidak teratur, yang membuat kehidupan sangat rawan bencana.

Kemungkinan besar Cape Verde sebelumnya telah dikenal oleh para pelaut zaman dahulu seperti bangsa Fenisia dan para pelaut Islam serta orang Afrika. Namun, baru pada abad ke-15, ada orang yang menaruh minat serius untuk menghuni pulau-pulau tersebut.

Dua pelaut Genoa, yang berlayar di bawah bendera Portugis, menemukan kepulauan ini pada 1460. Nama mereka adalah Antonio dan Bartolomeo da Noli. Kerajaan Portugis sangat ingin mendapatkan akses langsung ke emas di Afrika barat. Kepulauan Cape Verde dinilai menyediakan sarana yang berguna bagi mereka untuk berlayar menyusuri pantai dan menghindari negara-negara Islam di Afrika utara yang bermaksud memonopoli perdagangan Afrika.

Pangeran Henry sang Navigator (alias Infante Dom Henrique, 1394-1460) telah mensponsori ekspedisi penemuan yang mengarah pada penjajahan Portugis di Madeira (1420) dan Azores (1439). Pulau-pulau ini terbukti berguna sebagai batu loncatan bagi para pelaut yang ingin melakukan ekspedisi penemuan lebih jauh ke selatan.

Pada 1462, giliran Cape Verde yang ditambahkan ke aset maritim dan pertanian Portugis. Awalnya pulau-pulau tersebut diberikan kepada Pangeran Fernando, keponakan dan pewaris Pangeran Henry. Tetapi pada 1495, pulau-pulau tersebut kembali ke kendali penuh raja, yang saat itu menjabat sebagai Raja Manuel I dari Portugis yang memerintah 1495-1521.

Meskipun lautan di Afrika barat saat itu merupakan wilayah yang di monopoli Portugis, terdapat beberapa perselisihan dengan Spanyol mengenai kepulauan Atlantik. Hal ini terutama mengenai siapa yang seharusnya memiliki Kepulauan Canary dan Cape Verde.

Perjanjian Alcáçovas-Toledo yang dilakukan antara 1479-1480 menetapkan bahwa Kepulauan Canary yang lebih dekat dengan Eropa adalah wilayah kekuasaan Spanyol. Sementara itu Portugis menguasai Cape Verde, Azores, dan Madeira.

Seperti halnya penjajahan Portugis di Azores dan Madeira, kerajaan membagi pulau-pulau tersebut dan memberikan kapten (donatarias) sebagai bagian dari sistem feodalisme untuk mendorong para bangsawan mendanai pembangunan mereka.

Kapten pertama Santiago adalah Antonio da Noli. Setiap kapten diberi tanggung jawab untuk menetap dan mengembangkan wilayah mereka dengan imbalan hak finansial dan peradilan. Oleh karena itu, kapten pada gilirannya membagikan sebagian tanah milik mereka kepada pengikutnya untuk pembangunan, sebidang tanah yang dikenal sebagaisemarias. Dalam banyak kasus, jabatan kapten menjadi jabatan turun-temurun.

Para pemukim Kepulauan Cape Verde sebagian besar merupakan campuran orang Portugis terutama dari Azores dan wilayah Algarve di Portugis. Orang-orang yang tidak diinginkan dari Portugis seperti orang yang dideportasi dan sejumlah orang Italia dan Prancis juga hadir. Belakangan para pemukim Inggris dan Afrika juga datang.

Seperti halnya penjajahan Portugis di Madeira dan Azores, penanaman tebu dilakukan dengan harapan yang tinggi. Namun, kekeringan di pulau-pulau tersebut membatasi hasil panen. Selain itu kekeringan dan kelaparan tidak jarang terjadi karena curah hujan yang sangat tidak teratur.

Perkebunan tebu menggunakan pekerja dari budak dari Afrika. Mereka bekerja di perkebunan termasuk terlibat dalam mengolah gula di pabrik. Hasilnya dijual lalu dikapalkan ke benua Amerika.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
Keren, Unika Atma Jaya Masu...
Megapolitan
Mau Tawuran, Dua Pemuda Baw...
Megapolitan
Perum Bulog Lebak-Pandeglan...

BPJS Kesehatan Edukasi Polda Kepri Terkait Program JKN

1.5 jam yang lalu | Bambang Wijanarko

Daerah
BPJS Kesehatan Edukasi Pold...
Rona
6 Drama Korea Baru yang Waj...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.