Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Bank Indonesia Turut Merevisi Turun Ekonomi Global

📅 Jumat, 24 Jun 2022, 00:35 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Bank Indonesia Turut Merevisi Turun Ekonomi Global Doc: ANTARA/NYOMAN HENDRA WIBOWO
Ket. Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global dari yang sebelumnya 3,4 persen menjadi hanya tiga persen pada tahun 2022, kemudian sedikit meningkat menjadi sebesar 3,3 persen pada tahun 2023. Revisi itu karena perekonomian global terus diwarnai dengan meningkatnya inflasi di tengah pertumbuhan yang diperkirakan lebih rendah dari proyeksi sebelumnya.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, dalam konferensi pers saat menyampaikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI bulan Juni 2022 di Jakarta, Kamis (23/6), mengatakan berlanjutnya ketegangan geopolitik Russia dan Ukraina yang disertai dengan pengenaan sanksi yang lebih luas dan kebijakan nol Covid-19 di Tiongkok menahan perbaikan gangguan rantai pasokan.

"Gangguan dari sisi suplai tersebut disertai dengan meluasnya kebijakan proteksionisme terutama pangan oleh berbagai negara, sehingga mendorong tingginya harga komoditas global yang berdampak pada peningkatan tekanan inflasi global," papar Perry.

Beberapa negara seperti Amerika Serikat (AS), merespons lonjakan inflasi tersebut dengan menempuh pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif sehingga berpotensi menahan pemulihan perekonomian global dan mendorong peningkatan risiko stagflasi.

"Pertumbuhan ekonomi berbagai negara, seperti AS, Eropa, Jepang, Tiongkok, dan India diprakirakan lebih rendah dari proyeksi sebelumnya," kata Perry.

Seiring dengan itu, otoritas moneter itu memperkirakan volume perdagangan dunia akan lebih rendah dari perkiraan sebelumnya. Perkembangan tersebut berdampak pada ketidakpastian pasar keuangan global yang masih akan tetap tinggi sehingga mendorong terbatasnya aliran modal asing dan menekan nilai tukar di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia.

Alarm Krisis

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudisthira, mengatakan dengan perkembangan global yang dikhawatirkan mengarah ke resesi ekonomi maka pemerintah sebaiknya segera melakukan berbagai kebijakan antisipatif.

"Kami mencermati imbas kontraksi ekonomi di negara maju yang sebenarnya sudah masuk pada resesi teknikal akan berimbas terhadap kinerja ekspor, tekanan modal keluar dan pelemahan nilai tukar rupiah. Alarm krisis harus dinyalakan diseluruh level pemerintahan," kata Bhima.

Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), jelasnya, perlu melakukan beberapa hal dalam jangka pendek seperti melakukan stres test terhadap perbankan, asuransi, dan lembaga keuangan lain terutama berkaitan dengan dampak resesi di AS, keluarnya modal asing, dan kenaikan suku bunga yang eksesif (Fed rate naik > empat kali setahun).

Harmonisasi kebijakan antara fiskal dan moneter serta industri jasa keuangan harus sejalan sehingga sektor keuangan maupun sektor riil dalam negeri mampu menahan tekanan dari eksternal atau dari global.

"Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia serta Otoritas Jasa Keuangan sebagai pemain kunci harus mengoptimalkan perannya agar kondisi dalam negeri tetap stabil dan terukur," pungkas Bhima.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Rona
Penyanyi Legendaris Peabo B...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Kesempatan Emas: UEA Buka 500 Lowongan untuk Pekerja Migran Indonesia

Kesempatan Emas: UEA Buka 500 Lowongan untuk Pekerja Migran Indonesia

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.