Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Bank Dunia: Utang Publik Diprediksi Turun di Mayoritas Negara Pasifik

📅 Rabu, 09 Agu 2023, 00:02 WIB | Oleh:
Bank Dunia: Utang Publik Diprediksi Turun di Mayoritas Negara Pasifik Doc: DANIEL SLIM/AFP
Ket. Kantor Pusat Bank Dunia di Washington DC, AS.

WELLINGTON - Utang publik di sebagian besar negara Pasifik diperkirakan akan turun dalam 12 bulan ke depan, karena negara-negara bergerak ke arah pelepasan stimulus Covid-19 secara bertahap dan situasi fiskal membaik, menurut laporan Bank Dunia yang dirilis, Selasa (8/8).

"Sejalan dengan upaya konsolidasi fiskal, utang publik diproyeksikan menurun selama 2023-2024 di seluruh Pasifik (kecuali di Kepulauan Solomon dan Negara Federasi Mikronesia)," kata laporan Pembaruan Ekonomi Pasifik, Selasa (8/8).

Seperti dikutip dari Antara, utang telah melonjak di wilayah tersebut sejak 2019, karena ekonomi yang bergantung pada pariwisata terpukul oleh penutupan perbatasan Covid-19, perdagangan dirugikan oleh tantangan logistik, dan peristiwa cuaca yang menyebabkan kerusakan.

Negara-negara mengambil lebih banyak utang untuk mengimplementasikan paket dukungan dan stimulus. Hal ini terutama terlihat di negara-negara yang bergantung pada turis, seperti Fiji, Palau, dan Vanuatu.

Bank Dunia sebelumnya mengatakan enam negara Pasifik, yaitu Kiribati, Republik Kepulauan Marshall, Negara Federasi Mikronesia (FSM), Samoa, Tonga, dan Tuvalu - berisiko tinggi mengalami kesulitan utang.

Defisit Fiskal Melebar

Namun, laporan Selasa menambahkan ketika defisit fiskal melebar di Kepulauan Solomon dan FSM, pemerintah diperkirakan akan meningkatkan pinjaman untuk memenuhi kesenjangan pembiayaan - meningkatkan utang publik.

Laporan menyebutkan dalam hal hasil ekonomi, sebagian besar negara Pasifik, kecuali Palau, Samoa, dan Kepulauan Solomon - diproyeksikan mencapai tingkat produk domestik bruto prapandemi pada tahun 2024.

"Sebaliknya, beberapa negara dengan pendapatan izin penangkapan ikan merupakan penyumbang pendapatan yang dominan, seperti Kiribati dan Republik Kepulauan Marshall (RMI), melampaui tingkat prapandemi pada tahun 2021 karena sektor perikanan tidak terlalu terpengaruh oleh penutupan perbatasan," itu dicatat laporan dimaksud.

Laporan tersebut menambahkan risiko tetap ada termasuk ketidakpastian dalam pergerakan harga komoditas global dan ketegangan geopolitik berfungsi sebagai risiko penurunan pemulihan ekonomi Pasifik.

"Mengingat kerentanan kawasan terhadap bencana, perubahan iklim merupakan risiko utama yang terus-menerus terjadi," katanya.

Sebelumnya, Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) mengatakan utang publik dan swasta global mengalami penurunan terbesar dalam 70 tahun pada 2021 setelah mencapai rekor tertinggi karena dampak Covid-19, tetapi secara keseluruhan tetap jauh di atas tingkat prapandemi.

Dalam sebuah blog yang dirilis bersama Global Debt Monitor perdananya, IMF mengatakan total utang publik dan swasta turun 10 poin persentase menjadi 247 persen Produk Domestik Bruto (PDB) global pada 2021 dari puncaknya 257 persen pada 2020. Bandingkan dengan sekitar 195 persen dari PDB pada 2007, sebelum krisis keuangan global.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
Keren, Unika Atma Jaya Masu...
Daerah
BPJS Kesehatan Edukasi Pold...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.