Ledakan Produksi Nikel Picu Kejatuhan Harga
Kamis, 05 Nov 2026, 00:00 WIBJAKARTA â Besarnya cadangan nikel Indonesia belum sepenuhnya menjamin keuntungan ekonomi optimal di tengah tekanan harga akibat kelebihan pasokan global. Rencana pemerintah mengendalikan produksi melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) menjadi langkah untuk menyeimbangkan pasokan dan permintaan sekaligus memulihkan harga.
Namun, efektivitas kebijakan tersebut bergantung pada konsistensi pengawasan produksi agar pengendalian pasokan tidak sekadar menjadi kebijakan administratif, tetapi mampu menjaga keberlanjutan industri dan nilai tambah nikel nasional.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi/ Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut harga nikel turun menjadi sekitar 15.800 dollar AS per ton akibat kelebihan pasokan hampir 800 ribu ton, sementara kebutuhan dunia hanya sekitar 3,5 juta ton per tahun. Untuk memulihkan harga, pemerintah mendorong pengendalian produksi melalui RKAB dan meminta pengusaha menahan produksi ketika pasar belum mampu menyerap pasokan.
âKebijakan serupa sebelumnya diterapkan pada batu bara, yang berhasil mengoreksi produksi sekaligus meningkatkan harga dan pendapatan negara,â ujarnya saat membuka Mineral dan Batubara Convention - Expo (Minerba Convex) 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Senin (2/11).
Selain pengendalian produksi, pemerintah mengkaji pendalaman hilirisasi agar industri tidak berhenti pada produk setengah jadi, tetapi menghasilkan produk akhir. Bahlil menyoroti mayoritas produk hilirisasi saat ini masih berada pada tahap 50â60 persen dan jumlah smelter penghasil produk antara semakin banyak.
Sebagai gambaran keberhasilan hilirisasi, nilai ekspor nikel Indonesia meningkat dari sekitar 3,3 miliar dollar AS pada 2017â2019 menjadi sekitar 34 miliar dollar AS setelah larangan ekspor bijih nikel dan pembangunan industri pengolahan dalam negeri. Pemerintah juga mendorong integrasi ekosistem baterai kendaraan listrik dari pertambangan hingga produksi baterai agar nilai tambah dan manfaat ekonomi nikel dapat dinikmati secara optimal serta berkelanjutan oleh generasi mendatang.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Dugaan Rekayasa untuk Menghabisi Karier Prof. Dasaad Mulijono, Justru Berujung Pidana
-
Dorong Budaya Riset, Pemkab Demak Gelar Lomba Penelitian
-
Film Indonesia Berlatar Yogyakarta Menang di Prancis
-
Hati-hati! Terlalu Banyak Konsumsi Protein justru Bisa Berisiko Masalah Kesehatan
-
Manufaktur Melempem, Sinyal Bahaya untuk Ekonomi Nasional!
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.