Ekonomi RI Masih Bergantung pada Belanja Rumah Tangga, Seberapa Kuat Daya Beli?
Kamis, 05 Nov 2026, 13:55 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA FOTO/ Hafidz Mubarak.
JAKARTA – Konsumsi rumah tangga yang masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi domestik tetap sangat bergantung pada daya beli masyarakat.
Kondisi ini sekaligus mencerminkan pentingnya menjaga stabilitas harga, ketersediaan lapangan kerja, dan pertumbuhan pendapatan agar konsumsi tetap terjaga.
Namun, ketergantungan yang terlalu besar pada konsumsi juga menyimpan kerentanan apabila tekanan biaya hidup dan pelemahan daya beli meningkat.
Karena itu, pemerintah perlu memperkuat sumber pertumbuhan lain, terutama investasi dan produktivitas industri, agar pertumbuhan ekonomi lebih berkualitas, merata, dan berkelanjutan.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 5,04 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada triwulan III-2026, tetap menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,47 persen pada periode tersebut.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga memberikan kontribusi terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional, yakni mencapai 51,97 persen.
“Pada triwulan III-2026, komponen ini tumbuh sebesar 5,04 persen yang menunjukkan masih terjaganya tingkat konsumsi masyarakat,” kata Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M Edy Mahmud dalam konferensi pers Rilis BPS di Jakarta, Kamis.
Jika dilihat dari sumber pertumbuhannya, konsumsi rumah tangga juga menjadi penyumbang terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, dengan andil mencapai 2,62 persen dari total pertumbuhan sebesar 5,47 persen.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pertumbuhan konsumsi rumah tangga terutama ditopang oleh peningkatan pengeluaran masyarakat pada kelompok restoran dan hotel yang tumbuh sebesar 6,59 persen, serta transportasi dan komunikasi sebesar 5,83 persen yang ditopang oleh mobilitas rumah tangga dan berbagai kegiatan pertunjukan dan olahraga.
Di luar konsumsi rumah tangga, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi turut menopang perekonomian dengan kontribusi terhadap PDB sebesar 30,81 persen, dengan pertumbuhan sebesar 6,06 persen.
Pertumbuhan PMTB tertinggi terjadi pada subkomponen kendaraan yang tumbuh sebesar 12,96 persen, baik yang berasal dari produksi domestik maupun impor.
Kinerja positif PMTB juga disebut sejalan dengan peningkatan realisasi investasi Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sebesar 7,59 persen.
Sementara konsumsi pemerintah tumbuh hingga 8,95 persen, lebih tinggi dari pertumbuhan triwulan yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,66 persen. Kontribusi konsumsi pemerintah terhadap PDB yaitu sebesar 7,28 persen.
Edy menyebut perkembangan itu sejalan dengan meningkatnya realisasi belanja pegawai terutama pada gaji dan tunjangan aparatur sipil negara (ASN), serta meningkatnya realisasi belanja barang dan jasa utamanya pada belanja-barang yang diserahkan kepada masyarakat berupa program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!