DPR Minta Kemenkes Perkuat Layanan Medis bagi Korban Karhutla

Kamis, 05 Nov 2026, 16:28 WIB

JAKARTA - Anggota Komisi IX DPR RI Asep Romy Romaya meminta Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperkuat layanan medis bagi masyarakat yang terdampak kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Menurut Asep, langkah tersebut mendesak untuk dilakukan mengingat kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) telah menembus angka 401.586 kasus di tujuh provinsi dan 63 kabupaten/kota terdampak karhutla.

Ket. Foto: Asap akibat karhutla mengganggu pengendara di jalan raya. — Sumber: antara foto

“Laporan Kemenkes mengenai tingginya angka ISPA akibat karhutla harus menjadi perhatian serius. Kami meminta Kemenkes memperkuat pelayanan kesehatan, memastikan ketersediaan obat-obatan, masker respirator, hingga tabung oksigen bagi masyarakat,” ujarnya di Jakarta, Kamis (5/11).

Asep merujuk pada data pemantauan Kemenkes hingga awal November 2026 yang mencatat lonjakan drastis kasus ISPA, termasuk tambahan 3.906 kasus baru hanya dalam tempo satu hari. Lonjakan kasus itu diketahui paling banyak mengancam kelompok rentan, seperti balita sebanyak 91.913 kasus, lansia 56.092 kasus, hingga ratusan ibu hamil.

“Jangan sampai masyarakat yang terpapar asap kesulitan mendapatkan pertolongan medis. Puskesmas dan rumah sakit di wilayah terdampak harus memiliki kesiapan tenaga medis, obat-obatan, serta fasilitas oksigen yang memadai,” katanya.

Asep juga menyoroti tren peningkatan kasus yang masih terjadi di Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat, meskipun beberapa wilayah lain mulai membaik. Kemenkes dan pemerintah daerah lalu diminta untuk memprioritaskan penerjunan posko medis keliling ke daerah terpencil yang jauh dari fasilitas kesehatan.

Ia juga menekankan penanganan kabut asap tidak boleh berfokus pada upaya pemadaman titik api di lapangan semata tanpa menghiraukan krisis kesehatan publik. Distribusi masker berstandar respirator yang mampu menyaring partikel halus asap wajib disalurkan secara gratis dan merata kepada pekerja luar ruangan serta warga sekitar.

“Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta pekerja luar ruangan, harus mendapatkan perhatian khusus karena paparan asap memperburuk kesehatan. Jangan menunggu kondisi mereka memburuk baru ada penanganan,” ucapnya.

Sebelumnya Kemenkes telah menyiapkan ratusan fasilitas rumah oksigen serta layanan mobil keliling guna memberikan pertolongan cepat bagi masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan akibat paparan kabut asap kebakaran hutan dan lahan.

Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes Ten Suyanti menjelaskan rumah oksigen dihadirkan dalam bentuk ruangan atau bangunan khusus yang dilengkapi dengan pasokan oksigen, baik menggunakan oksigen konsentrat maupun tabung oksigen konvensional.

Dalam operasionalnya, kata dia, keberadaan rumah oksigen di berbagai daerah tidak hanya menyediakan pasokan oksigen, tetapi juga disiagakan tenaga kesehatan berupa perawat untuk melakukan pemantauan kondisi pasien serta memberikan obat-obatan simtomatis apabila diperlukan.

Redaktur: Sriyono

Penulis: Sriyono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.