Gempuran AI, Bagaimana Seniman Singapura Perjuangkan Karyanya dan Bertahan Hidup?

Senin, 02 Nov 2026, 00:06 WIB

SINGAPURA - Perkembangan kecerdasan buatan (AI) generatif mulai mengguncang industri kreatif. Karya seni yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam, berhari-hari, bahkan berbulan-bulan, kini bisa dihasilkan hanya dalam hitungan detik melalui sejumlah perintah teks.

Kondisi ini memunculkan keresahan di kalangan seniman Singapura. Ilustrator, animator, desainer grafis, pelukis hingga pendidik seni mulai mempertanyakan masa depan profesi mereka di tengah teknologi yang semakin mampu menghasilkan karya visual secara instan.

Ket. Foto: Sebagian seniman mungkin bisa menolak AI sepenuhnya. Namun, bagi mereka yang bekerja di perusahaan dengan tuntutan penggunaan teknologi tersebut, penolakan bukan pilihan yang mudah. — Sumber: Istimewa

Dalam laporan yang diterbitkan Channel NewsAsia (CNA) pada Minggu (1/11), komunitas kreatif Singapura digambarkan menghadapi situasi yang rumit. Sebagian menolak penggunaan AI, sebagian lainnya mencoba beradaptasi, sementara kelompok lain terpaksa memanfaatkannya karena tuntutan pekerjaan.

Persoalan yang paling banyak disoroti bukan sekadar kemampuan AI menghasilkan gambar, video, poster, sampul buku, atau desain iklan. Lebih jauh, muncul pertanyaan mengenai hak cipta, persetujuan penggunaan karya, hingga nilai kreativitas manusia yang selama ini menjadi fondasi dunia seni.

Profesor Madya Bernhard Schmitt dari Sekolah Seni, Desain, dan Media Universitas Teknologi Nanyang (NTU) menjelaskan, teknologi AI sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru dalam industri kreatif.

Pembelajaran mesin dan berbagai bentuk otomatisasi sudah digunakan dalam produksi animasi selama beberapa dekade.

Namun, AI generatif membawa perubahan jauh lebih besar karena mampu mempelajari pola dari kumpulan data dalam jumlah sangat besar, kemudian menghasilkan gambar, video, dan berbagai konten lain berdasarkan perintah pengguna.

Pann Lim, desainer grafis veteran sekaligus pendiri agensi kreatif Kinetic Singapore, melihat respons para pekerja seni terhadap perkembangan tersebut sangat beragam.

Ada yang menolak mentah-mentah, ada pula yang antusias menggunakannya. Di antara kedua kelompok itu terdapat seniman yang sebenarnya memiliki keberatan, tetapi tetap memanfaatkan AI untuk mencari inspirasi atau memenuhi tuntutan pekerjaan.

Seniman Menilai AI Mengambil Karya Tanpa Izin

Salah satu persoalan paling sensitif adalah penggunaan karya seni yang sudah ada sebagai bahan pelatihan AI generatif.

Banyak seniman mempertanyakan bagaimana teknologi tersebut memanfaatkan karya kreatif mereka tanpa sepengetahuan atau persetujuan penciptanya.

OpenAI, perusahaan di balik ChatGPT dan sejumlah produk AI lainnya, menyatakan bahwa model-modelnya dilatih menggunakan kumpulan data yang mencakup materi daring yang tersedia untuk umum, serta materi yang disediakan atau dihasilkan oleh pengguna dan peneliti.

Namun, penjelasan tersebut belum menghilangkan kekhawatiran para pekerja seni.

Goh Wei Choon, salah satu pendiri sekaligus ilustrator The Woke Salaryman, menilai persoalan utama AI generatif terletak pada penggunaan karya kreator lain tanpa izin.

"Alasan utama saya menentangnya adalah karena hal itu mengambil karya seniman dan kreator lain tanpa izin," katanya.

Goh juga tidak sepakat dengan anggapan bahwa AI hanya belajar dari karya seniman sebelumnya sebagaimana manusia mendapatkan inspirasi dari orang lain.

Menurutnya, ketika seorang seniman terinspirasi oleh karya orang lain, pengaruh tersebut tetap diproses melalui pengalaman, kerentanan, preferensi, dan penilaian artistiknya sendiri.

"Ada upaya transformatif yang dilakukan sehingga membuatnya lebih berbeda dari sekadar sumber daya," ujarnya.

Kekhawatiran serupa disampaikan ilustrator Farihath Samsul yang membuat karya seni digital berdasarkan pesanan khusus.

Ia mengaku pernah menemukan orang menggunakan AI untuk mengubah karya aslinya menjadi bentuk lain.

"Rasanya seolah-olah pemikiran kritis, empati, dan nilai-nilai diabaikan ketika AI digunakan secara tidak bertanggung jawab," katanya.

Ia kemudian melontarkan kritik lebih keras terhadap kemampuan AI menghasilkan karya dalam waktu sangat singkat.

"Itu adalah karya berharga saya yang telah saya kerjakan selama berjam-jam – dan seni AI membuatnya hanya dalam hitungan detik. Bagaimana itu bisa mengesankan? Itu pencurian."

Animator dan desainer gerak lepas Jolene Tan juga menemukan sejumlah animasi buatan AI yang hampir merupakan salinan persis karya lain. Perbedaannya hanya terletak pada detail seperti gaya rambut atau pakaian karakter.

Sementara itu, pelukis mural sekaligus pegiat seni Terence Tan, yang dikenal sebagai Ubin Artist, mempertanyakan apakah karya yang dihasilkan dari materi milik orang lain masih memiliki individualitas.

"Prinsip atau tujuan seni itu sendiri sebenarnya adalah untuk ekspresi individu," katanya.

"Ketika karya kreatif dihasilkan dari materi yang sudah ada, seberapa banyak individualitas itu yang tersisa?"

Berbagai Cara Seniman Melindungi Karya

Di tengah kekhawatiran tersebut, para pekerja kreatif mulai mencari cara untuk melindungi hasil karya mereka.

Felicia Low-Jimenez, salah satu pendiri penerbit komik lokal Difference Engine sekaligus pencipta serial buku detektif anak-anak Sherlock Sam, mengatakan pihaknya terus mengikuti perkembangan fitur AI dalam perangkat lunak seperti Adobe dan Google Workspace.

Ia menegaskan perusahaannya tidak akan memasukkan karya kreator ke dalam sistem AI generatif.

"Kami tidak akan pernah memasukkan karya seorang kreator ke dalam AI generatif," katanya.

Difference Engine juga tidak menerima karya yang dihasilkan AI. Jika seorang kreator keberatan karyanya digunakan bersama teknologi tersebut, perusahaan akan menghormati keputusan itu.

Farihath memilih memberikan perlindungan melalui ketentuan tertulis dalam perjanjian dengan klien.

Ia secara tegas melarang klien memproses karya pesanannya menggunakan AI generatif, termasuk mengubah atau mereproduksinya dengan bantuan teknologi tersebut.

Sebagian seniman juga memanfaatkan perangkat khusus seperti Glaze dan Nightshade yang dikembangkan para peneliti Universitas Chicago.

Glaze bekerja dengan membuat perubahan kecil pada gambar agar model AI lebih sulit meniru gaya khas seorang seniman.

Sementara Nightshade dirancang untuk mengganggu model AI yang dilatih menggunakan gambar tanpa izin.

Meski demikian, kedua perangkat tersebut bukan solusi sempurna. Glaze dan Nightshade tidak bisa menghapus karya yang telanjur digunakan untuk melatih model AI maupun menjamin perlindungan dari seluruh bentuk peniruan.

Pann Lim bahkan meragukan efektivitas perlindungan semacam itu dalam jangka panjang.

Menurutnya, begitu sebuah karya diunggah ke internet, seniman akan kesulitan mengendalikan ke mana gambar tersebut beredar dan bagaimana orang lain memanfaatkannya.

Karena itu, ia mempertanyakan apakah seniman secara realistis mampu mengimbangi perkembangan sistem AI yang semakin canggih, terlebih asal-usul gambar yang dihasilkan teknologi tersebut semakin sulit dilacak.

Muhammad, videografer dan produser konten di balik Ihasamic!, berpendapat bahwa tanggung jawab perlindungan karya seni tidak semestinya dibebankan sepenuhnya kepada individu.

"Jenis-jenis pengamanan seperti ini dan yang lainnya seharusnya berasal dari gerakan yang terorganisir, bukannya tanggung jawab sepenuhnya dibebankan kepada individu," katanya.

Menurutnya, memperjuangkan hak atas karya seni merupakan hal penting, tetapi juga sangat menguras tenaga.

"Peran seniman adalah menciptakan karya seni, dan meskipun saya pikir ada kekuatan dan signifikansi politik dalam memperjuangkan perlindungan karya seni Anda sampai mati, hal itu sangat melelahkan, dan seseorang hanya bisa menanggungnya sampai batas tertentu."

Sentuhan Manusia Jadi Senjata Menghadapi AI

Di tengah keterbatasan perlindungan teknis, sejumlah seniman memilih memperkuat aspek yang dianggap tidak mudah digantikan AI, yakni keaslian pengalaman dan ekspresi manusia.

Muhammad mengatakan, menghadapi ketidakjujuran yang bisa dihasilkan teknologi AI justru membutuhkan kejujuran yang lebih besar dalam praktik berkesenian.

"Solusi untuk ketidakjujuran yang sangat direkayasa oleh AI adalah kejujuran yang luar biasa," ujarnya.

Baginya, kejujuran tidak hanya berkaitan dengan proses menghasilkan karya. Hal itu juga menyangkut bagaimana para pekerja kreatif memperlakukan sesama, termasuk membayar pekerja lepas secara adil dan tepat waktu, membantu kreator yang mengalami kelelahan, serta membangun komunitas yang saling melindungi.

Cara lain dilakukan Jolene Tan dengan memperlihatkan proses pembuatan animasinya kepada publik.

Ia membagikan video ketika sedang membuat sketsa, menggambar, dan mengembangkan animasi yang prosesnya bisa memakan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.

"Saya berharap dengan berbagi proses ini, lebih banyak orang akan menghargai dan memahami apa yang membuat seni dan AI generatif begitu berbeda," katanya.

Namun, Goh menilai video proses kreatif tersebut lebih tepat dipandang sebagai cara melibatkan penonton daripada pembuktian bahwa sebuah karya sepenuhnya bebas AI.

Sebab, teknologi AI generatif sekarang juga mampu meniru sketsa dan memproses video.

Menurut Goh, keunggulan The Woke Salaryman bukan sekadar gaya ilustrasinya yang mudah dikenali, melainkan juga perspektif dan nilai-nilai yang terkandung di dalam setiap cerita.

"Ini juga merupakan sintesis antara karya seni dan tulisan, yang juga merupakan proses berpikir dan cara pandang kami terhadap dunia yang menjadikan kami seperti sekarang ini," katanya.

Bagi Terence Tan, keunggulan karya manusia justru terlihat dari ketidaksempurnaannya.

Ia mengenang seorang pejalan kaki yang pernah bertanya mengapa mural yang dilukis langsung dengan tangan terasa berbeda dibandingkan karya seni cetak yang ditempel di dinding.

Menurutnya, daya tarik mural terletak pada goresan kuas yang terlihat, garis yang tidak rata, variasi warna, hingga retakan pada permukaan dinding.

"Ketika Anda melihat upaya manusia, yang mencakup kekurangan, Anda akan menghargainya," katanya.

Interaksi dengan lingkungan sekitar juga menjadi sumber inspirasi yang tidak tergantikan.

Suatu ketika, ia melihat seorang perempuan memberi makan kucing di dekat mural yang sedang dikerjakannya. Pemandangan spontan tersebut langsung menginspirasinya untuk memasukkan adegan itu ke dalam karya seni.

"Adegan itu sepenuhnya hasil karya manusia. Sebuah pengalaman yang tidak akan pernah bisa ditiru oleh AI," ujarnya.

Karena itu, ia berharap seniman mendapatkan lebih banyak kesempatan berkarya di ruang publik, berinteraksi dengan masyarakat, sekaligus memperlihatkan proses kreatif mereka secara langsung.

Pann Lim juga mengingatkan bahwa kemajuan teknologi tidak harus membuat seniman kehilangan identitasnya.

"Anda bisa menggunakan AI, tetapi Anda tidak perlu mengorbankan jiwa Anda," katanya.

Dilema Seniman: Menolak AI atau Kehilangan Pekerjaan?

Meski memiliki keberatan terhadap AI generatif, tidak semua seniman memiliki keleluasaan untuk menolaknya.

Persoalan ekonomi menjadi tantangan tersendiri. Banyak pekerja kreatif harus mempertimbangkan kebutuhan mencari nafkah ketika perusahaan mulai mengandalkan AI untuk menghasilkan materi visual dengan biaya lebih murah dan waktu lebih singkat.

Pann Lim melihat adanya perbedaan antara ekspresi artistik dan pekerjaan kreatif yang menjadi sumber penghasilan.

Sebagian seniman mungkin bisa menolak AI sepenuhnya. Namun, bagi mereka yang bekerja di perusahaan dengan tuntutan penggunaan teknologi tersebut, penolakan bukan pilihan yang mudah.

Goh Wei Choon juga memahami dilema tersebut.

"Menurutku itu sangat kejam jika aku hanya mengatakan bahwa jika seorang seniman menggunakan AI, mereka 'mengkhianati' kita semua," katanya.

Ia mengakui The Woke Salaryman memiliki keuntungan karena sudah berdiri sejak 2019, sebelum AI generatif berkembang pesat.

Perusahaan itu telah memiliki audiens, reputasi, dan basis klien. Keunggulan tersebut belum tentu dimiliki seniman muda yang baru mencoba membangun karier.

Persoalan serupa juga muncul di lingkungan pendidikan seni.

Noor Iskandar, seniman multidisiplin yang mengajar di Akademi Seni Rupa Nanyang (NAFA), mengakui memiliki keraguan pribadi terhadap AI generatif. Namun, ia menyadari teknologi tersebut semakin sulit dipisahkan dari pendidikan seni.

Salah satu persoalan yang muncul adalah penggunaan formulir deklarasi AI, yang mewajibkan mahasiswa menjelaskan bagaimana teknologi tersebut digunakan dalam pengerjaan tugas.

Kebijakan itu sekaligus menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana pengajar harus menilai tingkat keterlibatan AI dalam sebuah karya.

Rektor sekaligus Wakil Presiden Bidang Akademik NAFA, Chong Keng Hua, mengatakan institusinya ingin mahasiswa mampu berkarya dengan maupun tanpa AI.

"Kami menyadari bahwa mahasiswa memiliki pandangan yang berbeda tentang AI, dan peran kami bukanlah untuk menetapkan satu posisi tunggal, tetapi untuk memberi mereka ruang untuk mengkaji isu-isu ini secara kritis dan membuat pilihan yang tepat tentang praktik mereka," katanya.

Ia menegaskan, mahasiswa perlu mengenal berbagai bentuk teknologi agar kreativitas mereka semakin berkembang.

"Kami ingin lulusan kami menjadi inovatif tanpa melupakan apa yang membuat mereka unik sebagai manusia. AI dapat mendukung perjalanan kreatif, tetapi tanggung jawab atas karya tersebut tetap berada di tangan seniman."

Profesor Madya Schmitt dari NTU memperkirakan sejumlah pekerjaan kreatif, terutama desain komersial yang bersifat rutin, akan mengalami gangguan besar.

Perusahaan bisa saja beralih ke AI karena mampu menghasilkan materi fungsional dengan lebih murah dan cepat.

Namun, menurutnya, tidak setiap pekerjaan kreatif komersial harus diperlakukan sebagai karya seni yang memiliki pernyataan artistik mendalam.

"Tidak setiap karya kreatif komersial harus berupa pernyataan artistik yang mendalam, dan teknologi dapat berperan dalam menghasilkan materi fungsional," katanya.

Pann Lim menawarkan sudut pandang lain bagi seniman yang merasa terjebak antara idealisme dan kebutuhan ekonomi.

Menurutnya, ada perbedaan antara menggunakan kreativitas untuk mencari nafkah dan menggunakannya demi kepuasan pribadi.

"Idealnya, keduanya saling tumpang tindih. Tetapi tidak selalu harus demikian," ujarnya.

Ia menggambarkan seorang seniman yang mungkin bekerja menggunakan AI untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi tetap melukis, membuat ilustrasi, menganimasikan, atau mengerjakan proyek pribadi tanpa bantuan teknologi tersebut di luar jam kerja.

"Jika Anda merasa cukup mencintai pekerjaan kreatif, Anda akan menemukan cara untuk terus melakukannya."

AI Belum Tentu Bisa Menggantikan Identitas Seniman

Di tengah kekhawatiran mengenai masa depan industri kreatif, Schmitt menilai dampak AI generatif tidak selalu sesuram yang dibayangkan.

Menurutnya, teknologi tersebut menghasilkan keluaran berdasarkan pola dan probabilitas dari data yang sudah tersedia.

Karena itu, AI sangat baik dalam menghasilkan sesuatu yang secara statistik dianggap mungkin atau sudah familier.

Namun, karakteristik tersebut justru bisa menjadi peluang bagi seniman untuk menciptakan sesuatu yang berbeda.

Schmitt mendorong mahasiswanya menggunakan AI secara kritis, bukan sekadar menerima hasil yang diberikan teknologi tersebut.

Salah satu pendekatannya adalah meminta AI menghasilkan gambar, mengidentifikasi pola atau hasil yang mudah diprediksi, kemudian sengaja membuat sesuatu yang berbeda dari keluaran teknologi itu.

"Ide itu harus berasal dari Anda," katanya.

Namun, ia juga mengingatkan seniman harus mampu menghasilkan karya yang berbeda dan lebih baik daripada hasil rata-rata AI generatif.

Bagi seniman yang memilih menolak teknologi tersebut sepenuhnya, Schmitt menyarankan agar keputusan itu dijadikan identitas atau ciri khas mereka.

"Tolak saja. Jadikan itu merek Anda," katanya.

Artinya, seniman yang memilih jalur tanpa AI harus mampu mengembangkan karakter karya yang cukup kuat agar tetap menonjol di tengah persaingan.

Goh memberikan contoh menarik mengenai keterbatasan AI dalam menangkap identitas budaya lokal.

Ia menyinggung sebuah film yang dihasilkan AI dan dirilis pada perayaan Hari Nasional Singapura.

Menurutnya, film tersebut gagal menangkap nuansa kehidupan masyarakat setempat.

Ia menemukan penggunaan istilah yang terlalu formal untuk menyebut rumah susun milik Housing & Development Board (HDB), serta sejumlah ungkapan yang terasa terlalu bergaya Amerika.

Padahal, warga Singapura memiliki cara tersendiri dalam membicarakan rumah dan kehidupan sehari-hari mereka.

Contoh tersebut memperlihatkan bahwa kemampuan menghasilkan konten dalam jumlah besar tidak otomatis membuat AI mampu memahami pengalaman sosial dan budaya masyarakat.

Karena itu, Goh berpendapat seniman Singapura tidak perlu berlomba dengan AI dalam hal kecepatan dan volume produksi.

Sebaliknya, mereka harus lebih percaya diri mengangkat pengetahuan, pengalaman, dan perspektif budaya sendiri.

Sebab, justru identitas lokal, pengalaman hidup, serta cara masyarakat memandang dunia itulah yang membuat cerita dan karya seni manusia memiliki karakter berbeda.

Di tengah teknologi yang mampu menghasilkan karya dalam hitungan detik, tantangan terbesar seniman bukan sekadar mempertahankan pekerjaan, melainkan membuktikan bahwa kreativitas, pengalaman, dan jiwa manusia tetap memiliki nilai yang tidak bisa diukur dari kecepatan produksi.

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.