Erdogan Desak Russia-Ukraina Hentikan Serangan terhadap Kapal Sipil di Laut Hitam

Minggu, 01 Nov 2026, 06:00 WIB

Istanbul - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Sabtu (31/10) mengatakan serangan terhadap kapal-kapal sipil di Laut Hitam tidak dapat diterima. Ia mendesak Russia dan Ukraina untuk "bertindak secara bertanggung jawab".

Meski memiliki hubungan dengan Russia maupun Ukraina, Turki geram atas serangkaian serangan terhadap kapal-kapal komersial di Laut Hitam.

Ket. Foto: Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky bertemu dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Istanbul. — Sumber: AFP

"Jelas bahwa serangan terhadap kapal-kapal sipil dan tindakan yang semakin meningkatkan ketegangan di Laut Hitam tidak menguntungkan siapa pun," kata Erdogan dalam konferensi pers bersama Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di Istanbul.

"Kami tidak dapat menerima serangan-serangan ini dalam kondisi apa pun, terlepas dari siapa yang melakukannya atau alasan apa yang dikemukakan. Kami menyerukan semua pihak untuk bertindak secara bertanggung jawab dalam masalah ini," ujarnya.

Ankara telah mengajukan proposal kepada Russia dan Ukraina untuk menghentikan serangan terhadap kapal-kapal sipil. Namun, Turki menyatakan kedua negara yang bertikai itu belum menindaklanjuti usulan tersebut.

Zelensky menuduh Russia membuat situasi di Laut Hitam semakin sulit. Ia mengatakan sebagian besar pembicaraannya dengan Erdogan secara khusus membahas persoalan keamanan di kawasan tersebut.

"Kami membahas sejumlah gagasan dan usulan yang dapat membantu bersama Presiden Erdogan. Saya secara pribadi berterima kasih kepada Presiden atas dialog ini," katanya.

Erdogan mengatakan pembicaraan untuk memulihkan keamanan pelayaran di Laut Hitam akan terus berlanjut.

"Saya percaya bahwa tercapainya kesepakatan mengenai persoalan ini juga akan memberikan dorongan baru bagi upaya mewujudkan perdamaian yang berkelanjutan di Ukraina," tambahnya.

Turki telah menjadi tuan rumah beberapa putaran perundingan antara Russia dan Ukraina yang bertujuan mencapai gencatan senjata permanen dan kesepakatan damai.

Dalam percakapan telepon dengan Presiden AS Donald Trump pada Rabu, Erdogan mengatakan Turki siap mendukung upaya menghidupkan kembali proses diplomatik antara Ukraina dan Russia serta mengakhiri perang tersebut, menurut keterangan kantor kepresidenan Turki.

Peluang Pertemuan di Turki

Pada Sabtu, Erdogan juga menyambut kembali menguatnya upaya untuk mengakhiri perang Russia-Ukraina melalui "jalur diplomatik", terutama merujuk pada inisiatif Trump.

"Pada tahap ini, kami berpandangan bahwa tidak boleh ada pihak yang kalah dalam perdamaian yang adil," katanya.

"Saya ingin menegaskan bahwa kami siap melakukan segala upaya yang memungkinkan untuk membuka jalan menuju perdamaian," ujarnya.

Menurut Erdogan, perundingan yang sebelumnya digelar di Turki antara kedua pihak yang berperang menunjukkan bahwa "hasil nyata dapat dicapai melalui diplomasi".

Pekan lalu, Kremlin mengatakan putaran perundingan berikutnya antara Russia, Ukraina, dan Amerika Serikat direncanakan kembali digelar pada November di Uni Emirat Arab.

Zelensky mengatakan dirinya telah membahas format perundingan tersebut dengan Erdogan, termasuk berbagai kemungkinan lainnya, "khususnya kemungkinan melibatkan Turki, Eropa, dan seluruh mitra. Termasuk kemungkinan menggelar pertemuan di sini, di Turki".

"Keputusan tegas diperlukan agar perdamaian dapat terwujud," tambahnya.

"Dan di semua tingkatan, perlu disampaikan sinyal kepada Russia bahwa tidak ada alternatif selain perdamaian dan dukungan terhadap Ukraina akan terus berlanjut."

Setelah melakukan pembicaraan dengan Erdogan, Zelensky dijadwalkan bertemu dengan Patriark Ortodoks Yunani Bartholomew.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.