Indonesia Terancam Cuma Jadi Pasar Produk Global Jika Industri Tak Naik Kelas
Jumat, 30 Okt 2026, 04:03 WIBDepok, Jawa Barat - Ekonom Universitas Indonesia (UI) Kiki Verico menilai Indonesia perlu mengintegrasikan strategi perdagangan internasional dan investasi untuk menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional.
Integrasi tersebut dinilai penting agar perdagangan tidak hanya meningkatkan volume ekspor, tetapi juga mendorong pertumbuhan industri domestik, penciptaan lapangan kerja, dan transformasi ekonomi yang berkelanjutan.
"Integrasi tersebut dinilai penting agar aktivitas perdagangan tidak hanya meningkatkan volume ekspor, tetapi juga mendorong pertumbuhan industri domestik, penciptaan lapangan kerja, serta transformasi ekonomi yang berkelanjutan," kata Kiki dalam keterangan tertulis di Depok, Kamis (29/10).
Wakil Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UI itu mengatakan perubahan tatanan perdagangan global menuntut Indonesia menyesuaikan strategi ekonominya dengan memperkuat keterkaitan antara perdagangan dan investasi.
âPerdagangan internasional tidak lagi dapat dipandang semata sebagai aktivitas ekspor dan impor, tetapi harus diintegrasikan dengan investasi untuk menciptakan nilai tambah di dalam negeri melalui pengolahan produk, penguatan industri dan pengembangan aktivitas ekonomi domestik, yang harapannya dapat memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi jangka panjang,â ujarnya.
Menurut Kiki, kualitas kebijakan ekonomi turut ditentukan oleh kualitas institusi, termasuk aspek hukum dan regulasi. Dalam perspektif makroekonomi, salah satu indikator yang dapat digunakan untuk menilai efisiensi investasi adalah Incremental Capital Output Ratio (ICOR), yakni rasio antara investasi yang dibutuhkan dan tambahan output yang dihasilkan.
Ia menilai Indonesia perlu menjaga ICOR pada kisaran lima hingga enam agar investasi dapat menghasilkan pertumbuhan ekonomi secara optimal.
Sebagai contoh, Kiki menyoroti industri tekstil dan produk tekstil (TPT) yang hingga semester I 2026 menyerap sekitar 3,8 juta tenaga kerja dan mencatat nilai ekspor sebesar 4,85 miliar dolar AS.
Menurut dia, sektor industri yang memiliki daya serap tenaga kerja tinggi perlu terus diperkuat karena kontribusinya tidak hanya berasal dari ekspor, tetapi juga dari aktivitas ekonomi pendukung.
âKetika sebuah industri berkembang, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh pelaku industri itu sendiri, tetapi juga oleh berbagai sektor penunjang, mulai dari usaha indekos, toko kebutuhan sehari-hari, hingga layanan transportasi,â katanya.
Kiki juga menekankan pentingnya mengarahkan investasi ke sektor-sektor yang masih bergantung pada impor. Produk daging dan kedelai, misalnya, dinilai memiliki potensi menciptakan nilai tambah lebih besar apabila didukung investasi pada rantai produksi dan pengolahan di dalam negeri.
Selain itu, pemerintah perlu mendorong perusahaan nasional memenuhi standar kualitas yang ditetapkan negara mitra dan pasar tujuan ekspor agar daya saing produk Indonesia meningkat di pasar global.
Porsi Produksi Nasional
Sejalan dengan pandangan tersebut, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie menyatakan pihaknya berupaya meningkatkan porsi produksi nasional untuk merek global sekaligus mengembangkan merek Indonesia sendiri.
"Indonesia sudah jadi bagian daripada supply chain global, dan besok kami akan sampaikan bahwa kita juga ingin memperbesar persentase kapasitas di dalam setiap global brand dan mempunyai brand sendiri," kata Anindya.
Menurut Anindya, rencana tersebut akan dibahas dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kadin pada 29-30 Oktober 2026. Namun, ia belum merinci target peningkatan porsi produksi nasional maupun waktu pencapaiannya.
Ia menilai Indonesia perlu meningkatkan kemampuan pengolahan dan penguasaan teknologi agar industri nasional mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi sekaligus memperkuat posisinya dalam rantai pasok global.
"Karena tanpa melakukan suatu pengolahan atau loncatan-loncatan yang tinggi, tentu Indonesia akan hanya menjadi pasar," ujarnya.
Dalam diskusi panel, Anindya mencontohkan industrialisasi Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok yang mampu mengembangkan sumber daya alam menjadi produk akhir melalui penguatan kemampuan manufaktur dan teknologi.
Menurut dia, transformasi industri tersebut membutuhkan tenaga kerja terampil, pembiayaan jangka panjang, serta kemitraan teknologi dengan perusahaan internasional untuk meningkatkan daya saing industri nasional.
Upaya memperbesar peran produsen Indonesia di pasar internasional juga sejalan dengan gerakan Buy from Indonesia yang disiapkan Kadin untuk meningkatkan pembelian barang dan jasa nasional oleh pembeli luar negeri.
Pada 22 Oktober 2026, Kadin menyebut buku We Buy From Indonesia: Behind the World's Greatest Products mendokumentasikan keterlibatan produsen Indonesia dalam rantai pasok sekitar 80 merek global, termasuk Tesla, IKEA, dan Uniqlo.
Buku tersebut menggambarkan kontribusi produsen nasional dalam memasok bahan baku, komponen, hingga barang jadi untuk berbagai sektor, antara lain alas kaki, makanan dan minuman, kosmetik, elektronik, serta kendaraan listrik.
Redaktur: Andes Tanjung
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Virgo Transport 8 Dihantam Ombak, 128 Orang Masih Dicari
-
Messi Cetak Gol Lagi ke Gawang Nashville, Inter Miami Harus Puas Imbang 2-2
-
Momen Emosional, Andika Berterima Kasih Kangen Band Disatukan Lagi di Panggung Synchronize 2026
-
Tembus Ratusan Miliar, Kemenhub Bakal Bangun Terminal Barang Internasional di Perbatasan Malaysia
-
"Sirena: Air Mata dari Lautan", Drama Musikal Angkat Talenta Disabilitas Berkiprah Dalam Ekosistem Ekraf
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.