Padukan Kearifan Lokal & Teknologi, BMKG Integrasi Kalender Warige Sasak dan Sains Iklim

Rabu, 28 Okt 2026, 22:43 WIB

MATARAM, NUSA TENGGARA BARAT - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendorong integrasi kalender Warige Sasak yang menjadi kearifan lokal masyarakat Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan teknologi informasi cuaca dan iklim agar penentuan pola tanam semakin akurat.

Kepala Stasiun Klimatologi NTB Nuga Putrantijo mengatakan kalender Wariga masih relevan digunakan ketika kondisi iklim normal, tetapi tingkat kecocokan menurun saat terjadi fenomena iklim ekstrem, seperti El Nino dan La Nina.

Ket. Foto: Kalender Warige Suku Sasak Lombok. — Sumber: Dok Majelis Adat Sasak

“Menurut kajian kami waktu itu hanya 30 hingga 35 persen Warige yang cocok untuk kondisi iklim ekstrem,” ujar dia dalam kegiatan Konsultasi Publik Stasiun Klimatologi NTB secara daring dipantau di Mataram, Rabu (28/10).

Pihaknya tidak meninggalkan atau mengesampingkan tradisi lokal yang selama ini menjadi acuan masyarakat dalam menjalankan aktivitas pertanian.

Menurut dia, kearifan lokal perlu tetap menjadi bagian penting dalam pengambilan keputusan mengingat kondisi geografis dan topografi yang beragam turut memengaruhi karakteristik iklim serta pola pertanian tradisional.

“Kami tidak meninggalkan tradisi-tradisi seperti itu karena kearifan lokal adalah faktor yang paling dominan selama ini,” kata dia.

BMKG mendorong adanya diskusi dan kolaborasi dengan pihak-pihak yang selama ini menggunakan kalender Warige agar pengetahuan tradisional tersebut dapat diselaraskan dengan informasi cuaca dan iklim berbasis sains serta teknologi.

Nuga berharap, petani tidak hanya mengandalkan kalender tradisional, tetapi juga mempertimbangkan prakiraan cuaca dan iklim dalam menentukan waktu tanam serta mengantisipasi perubahan musim.

“Kami ingin memberikan pengetahuan baru kepada masyarakat bahwa tidak hanya Wariga saja yang bisa dipakai dalam pola pertanian,” kata dia.

Warige merupakan sistem penanggalan tradisional dan ilmu perbintangan kuno yang dipakai secara konsisten oleh warga Suku Sasak di Pulau Lombok.

Kalender itu memanfaatkan pengamatan rasi bintang, benda-benda langit, dan berbagai tanda alam untuk memprediksi musim dan cuaca.

Bagi sektor pertanian, Warige Sasak menjadi acuan para petani tradisional dalam menentukan waktu yang tepat untuk memulai masa tanam.

Saat ini ilmu membaca Warige masih terus dijaga dan dilestarikan oleh para tokoh adat di Lombok, salah satunya melalui musyawarah adat Sangkep Warige untuk menentukan waktu pelaksanaan tradisi menangkap cacing laut Nyale yang memiliki nama ilmiah Palola viridis. Ant

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Opik

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.