Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
pasang iklan di koran jakarta
Ads

Mentan Amran Kecam Dugaan Oplos Beras SPHP, Minta Polisi Usut Tuntas

28 Rabu, 28 Okt 2026, 13:25 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Mentan Amran Kecam Dugaan Oplos Beras SPHP, Minta Polisi Usut Tuntas Mentan Amran Kecam Dugaan Oplos Beras SPHP, Minta Polisi Usut Tuntas Doc: istimewa
Ket. Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengecam keras dugaan penyalahgunaan beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang dioplos menjadi beras premium. Hal itu ditemukan saat sidak di Toko Beras Kayumanis, Jalan Kayumanis X No.46A, Pisangan Baru, Matraman, Jakarta Timur, Rabu (28/10)

JAKARTA– Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengecam keras dugaan penyalahgunaan beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang dioplos menjadi beras premium. Hal itu ditemukan saat sidak di Toko Beras Kayumanis, Jalan Kayumanis X No.46A, Pisangan Baru, Matraman, Jakarta Timur, Rabu (28/10).

Amran menilai praktik tersebut merugikan masyarakat kecil yang seharusnya menjadi penerima manfaat program subsidi pemerintah.

"Ini jatah beras untuk orang miskin, barang disubsidi, kemudian dioplos dan dijual lagi dengan harga tinggi. Ini merampok hak rakyat," tegas Amran di lokasi.

Menurutnya, beras SPHP merupakan instrumen pemerintah untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga agar tetap terjangkau. Modus yang ditemukan, beras subsidi seharga Rp12.500 per kg dibongkar dan dikemas ulang menjadi beras premium seharga Rp17.000 per kg.

Dari hasil awal, jumlah beras yang diamankan sekitar 600 ton. Mentan menduga total volume terkait praktik tersebut bisa mencapai ribuan ton.

"Yang ditemukan sekarang 600 ton, indikasinya bisa ribuan ton. Ini sudah tidak sehat dan mengganggu tata niaga," ujarnya.

Amran menegaskan praktik ini mencederai upaya pemerintah dan petani dalam menjaga ketahanan pangan nasional di tengah krisis pangan global.

"Kita bekerja siang malam untuk swasembada beras, tapi masih ada yang menyalahgunakan beras negara. Beras ini untuk saudara kita di kelompok ekonomi terbawah, desil 1 sampai 5," katanya.

Ia meminta kepolisian mengusut tuntas kasus ini, mulai dari asal beras, jalur distribusi, hingga kemungkinan keterlibatan jaringan yang lebih luas. Informasi awal mengarah pada gudang Bulog di Kelapa Gading, namun masih perlu pendalaman.

"Kami mohon kepolisian bongkar sampai akar-akarnya," ujarnya.

Terkait potensi keterlibatan internal, Mentan menegaskan akan bertindak tegas.

"Kalau ada pegawai Kementan yang terlibat, saya pecat. Tidak boleh ada toleransi," tegasnya. Hal yang sama, menurutnya, harus berlaku untuk pihak Bulog jika terbukti.

Amran juga menyampaikan apresiasi kepada Kapolres Jakarta Timur dan jajaran atas pengungkapan kasus tersebut.

"Beras ini komoditas vital bagi 286 juta orang. Kalau krisis pangan, dampaknya bisa ke krisis politik dan konflik sosial. Penindakan ini untuk menyelamatkan pangan kita," tutupnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...
  • Polisi Jambi Tangkap Tiga Pelaku Pembobol Pipa Pertamina
    percayalah pencurian tidak akan terjadi kalau biaya hidup ...
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Megapolitan
Sampah Jadi Ladang Bisnis, ...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
RI Bidik E50, 320 Pabrik Etanol Baru Dibutuhkan untuk Pangkas Impor Energi  Triliunan Rupiah

RI Bidik E50, 320 Pabrik Etanol Baru Dibutuhkan untuk Pangkas Impor Energi Triliunan Rupiah

28 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.