• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Code Stroke Percepat Penan...

Code Stroke Percepat Penanganan Stroke Akut, Peluang Pemulihan Pasien Lebih Besar

Selasa, 27 Okt 2026, 18:50 WIB

JAKARTA — Kecepatan penanganan menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan pemulihan pasien stroke. Untuk mempercepat diagnosis dan tindakan medis, rumah sakit menerapkan sistem Code Stroke, yakni protokol darurat yang mengoordinasikan berbagai tim medis agar pasien dengan dugaan stroke segera mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang sesuai.

RS Pondok Indah Group telah menerapkan sistem tersebut sejak awal 2023. Sistem ini melibatkan dokter spesialis neurologi, dokter gawat darurat, dokter umum, dokter spesialis radiologi, tim laboratorium, dan farmasi. Seluruh tim bekerja secara terkoordinasi sejak pasien tiba di instalasi gawat darurat (IGD) hingga penentuan tindakan medis lanjutan.

Ket. Foto: Dokter Spesialis Neurologi sekaligus Fellow Neurologi Intervensi RS Pondok Indah – Puri Indah, dr. Sigit Dewanto H. Ia mengatakan sistem Code Stroke mempercepat diagnosis dan tata laksana stroke akut melalui koordinasi multidisiplin, pemanfaatan teknologi pencitraan canggih, serta prosedur medis lanjutan seperti trombolisis dan mechanical thrombectomy. — Sumber: RSPI

Dokter Spesialis Neurologi sekaligus Fellow Neurologi Intervensi RS Pondok Indah – Puri Indah, dr. Sigit Dewanto H., mengatakan penanganan stroke membutuhkan respons cepat karena keterlambatan dapat memperbesar risiko kerusakan otak dan kecacatan permanen.

“Melalui sistem Code Stroke, tim medis dapat segera melakukan evaluasi gejala, pemeriksaan penunjang, dan pencitraan otak untuk menentukan jenis stroke yang dialami pasien. Hasil pemeriksaan tersebut menjadi dasar untuk memilih tindakan yang tepat,” ujarnya.

Mengenali Jenis Stroke dan Batas Waktu Penanganan

Stroke merupakan kondisi darurat medis yang terjadi ketika pasokan darah ke otak terganggu. Secara umum, stroke terbagi menjadi dua jenis, yaitu stroke iskemik akibat penyumbatan pembuluh darah dan stroke hemoragik akibat pecahnya pembuluh darah yang menimbulkan perdarahan di otak.

Kedua jenis stroke tersebut membutuhkan pendekatan penanganan yang berbeda. Karena itu, dokter perlu memastikan penyebab gangguan sebelum menentukan terapi. Pemberian obat untuk melarutkan bekuan darah, misalnya, hanya dapat dipertimbangkan pada pasien stroke iskemik yang memenuhi kriteria medis, bukan pada stroke akibat perdarahan.

Pada stroke iskemik, waktu menjadi salah satu faktor utama dalam menentukan pilihan pengobatan. Terapi trombolisis intravena, yang bertujuan melarutkan bekuan darah penyumbat pembuluh darah, umumnya dapat diberikan kepada pasien yang memenuhi syarat dalam jendela waktu hingga 4,5 jam sejak gejala muncul.

Semakin cepat pasien memperoleh penanganan yang sesuai, semakin besar peluang untuk menyelamatkan jaringan otak yang masih dapat dipulihkan. Meski demikian, keputusan pemberian terapi tidak hanya bergantung pada waktu kemunculan gejala, tetapi juga pada hasil pemeriksaan, kondisi pasien, dan ada tidaknya kontraindikasi.

“Karena itu, masyarakat dianjurkan segera mencari pertolongan medis ketika gejala stroke muncul, tanpa menunggu kondisi memburuk atau berharap gejala menghilang dengan sendirinya,” ujarnya memberi saran.

Alur Penanganan Pasien Melalui Code Stroke

Proses penanganan dimulai ketika pasien dengan gejala yang mengarah pada stroke tiba di IGD. Dokter akan melakukan pemeriksaan awal, mengevaluasi kondisi pasien, serta menanyakan waktu terakhir pasien diketahui dalam keadaan normal atau saat gejala mulai muncul.

Jika pasien dicurigai mengalami stroke, tim medis dapat mengaktifkan Code Stroke. Aktivasi ini membuat berbagai unit terkait segera bersiap melakukan pemeriksaan secara terkoordinasi, termasuk pengambilan sampel darah dan persiapan pemeriksaan pencitraan otak.

Pemeriksaan menggunakan CT scan atau MRI membantu dokter membedakan stroke iskemik dari stroke hemoragik. Informasi tersebut penting untuk menentukan apakah pasien dapat menjalani terapi pelarutan bekuan darah, memerlukan tindakan pengambilan sumbatan, atau membutuhkan penanganan khusus untuk perdarahan otak.

Pada pasien stroke iskemik yang memenuhi kriteria, dokter dapat memberikan trombolisis melalui infus untuk membantu melarutkan bekuan darah. Dalam kondisi tertentu, terutama ketika sumbatan berada di pembuluh darah besar, dokter juga dapat mempertimbangkan mechanical thrombectomy.

“Mechanical thrombectomy merupakan prosedur endovaskular untuk mengambil bekuan darah yang menyumbat pembuluh darah otak. Dalam prosedur ini, dokter memasukkan kateter melalui pembuluh darah dan mengarahkannya ke lokasi sumbatan untuk mengeluarkan bekuan tersebut,” terangnya.

Tindakan ini dapat menjadi pilihan bagi pasien tertentu yang mengalami stroke akibat sumbatan pembuluh darah besar. Pada kasus yang memenuhi kriteria berdasarkan evaluasi klinis dan pencitraan, mechanical thrombectomy dapat dilakukan hingga 24 jam sejak terakhir diketahui normal. Namun, tidak semua pasien dapat menjalani prosedur tersebut karena pemilihan pasien bergantung pada sejumlah pertimbangan medis.

Sementara itu, jika pemeriksaan menunjukkan stroke hemoragik, tim medis akan menentukan penanganan yang sesuai dengan lokasi dan tingkat keparahan perdarahan. Pada kasus tertentu, pasien dapat dikonsultasikan kepada dokter spesialis bedah saraf untuk mengevaluasi kemungkinan tindakan operasi.

Teknologi Pencitraan Membantu Menentukan Terapi

Penerapan Code Stroke di RS Pondok Indah Group didukung teknologi pencitraan, antara lain MRI Brain 3 Tesla dan CT scan kepala 512-slice. Teknologi tersebut membantu dokter memperoleh gambaran kondisi otak dan pembuluh darah untuk mendukung proses diagnosis serta pemilihan terapi.

“Pencitraan otak menjadi bagian penting dalam penanganan stroke akut karena gejala akibat penyumbatan dan perdarahan dapat terlihat serupa. Tanpa pemeriksaan yang memadai, penentuan terapi berisiko tidak sesuai dengan penyebab stroke yang dialami pasien,” tuturnya.

Meski teknologi berperan penting, keberhasilan sistem Code Stroke juga bergantung pada kesiapan sumber daya manusia dan koordinasi antartim. Kecepatan pemeriksaan, komunikasi yang efektif, serta kesiapan memberikan tindakan lanjutan menjadi bagian dari proses penanganan yang harus berjalan secara terpadu.

RS Pondok Indah Group juga bekerja sama dengan World Stroke Organization (WSO) melalui Angels Initiative, sebuah program yang berfokus pada peningkatan kualitas perawatan stroke akut. Kerja sama tersebut mencakup pelatihan tenaga medis mengenai protokol respons stroke, percepatan diagnosis, dan peningkatan kualitas intervensi.

Rumah sakit tersebut juga menerima pengakuan melalui WSO Angels Awards, penghargaan yang diberikan kepada fasilitas kesehatan berdasarkan standar dan indikator mutu pelayanan stroke. Penilaian dalam program ini berkaitan dengan upaya meningkatkan kualitas penanganan, mulai dari diagnosis hingga perawatan pasien.

Masyarakat Perlu Mengenali Gejala Stroke

Selain kesiapan rumah sakit, pengetahuan masyarakat mengenai gejala stroke menjadi faktor penting dalam mempercepat pertolongan. Pasien atau keluarga yang terlambat mengenali gejala dapat kehilangan kesempatan untuk memperoleh terapi tertentu yang manfaatnya bergantung pada waktu.

Gejala stroke dapat muncul secara mendadak, antara lain kelemahan atau kelumpuhan pada satu sisi tubuh, mulut tampak mencong, bicara pelo atau sulit berbicara, gangguan penglihatan, serta kesulitan melakukan aktivitas sederhana yang sebelumnya dapat dilakukan.

Ketika gejala tersebut muncul, masyarakat sebaiknya segera menghubungi layanan kegawatdaruratan atau membawa pasien ke rumah sakit yang mampu menangani stroke. Waktu terakhir pasien diketahui dalam kondisi normal juga perlu disampaikan kepada petugas medis karena informasi tersebut membantu menentukan pilihan pemeriksaan dan terapi.

Penanganan stroke tidak berhenti setelah fase darurat teratasi. Pasien juga dapat memerlukan pemantauan, pengobatan lanjutan, serta rehabilitasi untuk membantu memulihkan kemampuan bergerak, berbicara, dan menjalankan aktivitas sehari-hari.

Melalui penerapan Code Stroke, koordinasi tenaga medis, dan dukungan teknologi pencitraan, rumah sakit berupaya mempercepat proses penanganan sejak pasien tiba hingga tindakan medis ditentukan. Namun, hasil pemulihan tetap dipengaruhi oleh jenis dan tingkat keparahan stroke, kondisi pasien, serta kecepatan pasien memperoleh pertolongan.

“Bagi masyarakat, langkah yang paling penting adalah mengenali gejala stroke dan segera mencari bantuan medis. Dalam kondisi darurat ini, menunda pemeriksaan dapat mengurangi kesempatan untuk memperoleh penanganan yang optimal,” tambahnya.

  • Kesehatan Otak
  • Code Stroke
  • penanganan stroke
  • stroke
  • World Stroke Organization (WSO)
  • RS Pondok Indah
  • stroke iskemik
  • stroke hemoragik
  • neurologi
  • Stroke Akut
  • Gejala Stroke
  • Trombolisis
  • Mechanical Thrombectomy
  • Angels Initiative

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.