• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Alberta Sekundarti Bagikan...

Alberta Sekundarti Bagikan Lima Pelajaran Servant Leadership untuk Profesional HR

Selasa, 27 Okt 2026, 19:17 WIB

JAKARTA — Peran sumber daya manusia (HR) dalam perusahaan tidak lagi terbatas pada administrasi dan fungsi pendukung. Profesional HR dituntut memahami strategi bisnis, membangun budaya kerja yang sehat, serta membantu organisasi beradaptasi dengan perubahan. Salah satu pendekatan kepemimpinan yang dinilai relevan untuk menjawab kebutuhan tersebut adalah servant leadership atau kepemimpinan yang mengutamakan pelayanan kepada tim.

Country Director of People & Culture Ascott Indonesia, Alberta Sekundarti, membagikan lima pelajaran mengenai kepemimpinan dan pengelolaan sumber daya manusia dalam episode podcast Power Talks dari Jobstreet by Seek bertajuk “Servant Leadership untuk HR”.

Ket. Foto: Alberta Sekundarti membagikan lima pelajaran servant leadership bagi profesional HR, mulai dari memahami strategi bisnis, membangun keamanan psikologis, hingga menyelaraskan budaya perusahaan. — Sumber: Jobstreet by Seek

Dalam perbincangan tersebut, Alberta mengulas pengalamannya memimpin transformasi HR di berbagai industri, termasuk mengelola penyelarasan budaya setelah merger dan menjalankan fungsi people and culture di industri perhotelan.

Menurut Alberta, kepemimpinan yang efektif tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memberikan arahan, tetapi juga bagaimana seorang pemimpin membantu anggota tim berkembang dan berkontribusi terhadap tujuan organisasi.

Pemimpin perlu membantu tim mencapai tujuan

Pelajaran pertama yang disampaikan Alberta adalah pentingnya menerapkan servant leadership. Pendekatan ini menempatkan pemimpin sebagai pihak yang mendukung tim melalui arahan, pendampingan, dan penyediaan sumber daya yang dibutuhkan untuk bekerja secara efektif.

Pemimpin tidak harus selalu mengambil posisi paling dominan dalam tim. Sebaliknya, mereka perlu memahami tantangan yang dihadapi anggota tim, mendengarkan kebutuhan mereka, serta membantu mengatasi hambatan dalam pekerjaan.

“Pada dasarnya servant leadership adalah bagaimana cara menjadi seorang pemimpin yang bisa melayani orang lain, melayani timnya. Seorang pemimpin itu tidak harus ada di atas, tapi ada di bawah,” ujar Alberta melalui siaran pers pada hari Selasa (27/10).

Pendekatan tersebut dinilai relevan ketika perusahaan menjalani perubahan organisasi, termasuk merger atau penyatuan budaya kerja. Dalam situasi seperti itu, komunikasi dan keterlibatan karyawan menjadi penting untuk mengurangi resistensi sekaligus mendorong mereka berpartisipasi dalam proses transformasi.

Pemimpin yang memberikan ruang dialog dapat membantu tim memahami alasan perubahan dan peran masing-masing dalam mencapai tujuan baru. Dengan demikian, anggota tim tidak hanya menjadi penerima kebijakan, tetapi juga berperan aktif dalam pelaksanaannya.

HR harus memahami strategi bisnis

Pelajaran kedua berkaitan dengan perubahan peran HR dari fungsi pendukung menjadi mitra strategis bisnis. Alberta menilai profesional HR perlu memahami arah perusahaan, prioritas bisnis, target pertumbuhan, dan indikator yang digunakan untuk mengukur keberhasilan.

Pemahaman tersebut membantu HR menyelaraskan kebutuhan tenaga kerja dengan strategi perusahaan. Program perekrutan, pengembangan kompetensi, dan pembentukan budaya organisasi dapat dirancang berdasarkan kebutuhan bisnis, bukan semata-mata mengikuti rutinitas administratif.

“HR itu harus bisa jadi enabler bisnis, bukan hanya fungsi support,” kata Alberta.

Menurut dia, profesional HR juga perlu memperluas wawasan di luar bidang yang menjadi keahlian utamanya. Pemahaman tentang operasional, keuangan, pemasaran, dan fungsi bisnis lainnya dapat membantu mereka melihat persoalan organisasi secara lebih menyeluruh.

Dengan cara itu, HR dapat berkontribusi dalam pengambilan keputusan strategis, termasuk mengidentifikasi kompetensi yang dibutuhkan perusahaan untuk menghadapi perubahan pasar dan teknologi.

Adaptasi karier membutuhkan kemauan belajar

Pelajaran ketiga berasal dari perjalanan karier Alberta yang beralih dari jurnalis televisi ke dunia korporasi dan pengelolaan SDM. Perubahan profesi tersebut, menurut dia, membutuhkan keberanian untuk keluar dari zona nyaman sekaligus kemauan mempelajari keterampilan baru.

Pengalaman dari profesi sebelumnya tetap dapat menjadi modal ketika seseorang berpindah industri atau fungsi pekerjaan. Kemampuan berkomunikasi, membangun jejaring, merespons situasi dengan cepat, dan mengelola krisis, misalnya, dapat diterapkan dalam konteks pekerjaan yang berbeda.

Namun, keterampilan yang dapat ditransfer perlu dilengkapi dengan pemahaman terhadap kebutuhan industri yang dituju. Karena itu, profesional perlu mengenali kompetensi yang dibutuhkan, mengambil kesempatan untuk mengerjakan hal baru, serta memperbarui pengetahuan melalui pelatihan dan sertifikasi yang relevan.

“Never stop learning. Apa pun yang menjadi konteks dari industri yang mau kita capai, kita harus tahu apa yang dibutuhkan,” ungkap Alberta.

Pembelajaran berkelanjutan juga menjadi penting ketika perubahan teknologi dan model bisnis memengaruhi kebutuhan tenaga kerja. Kemampuan untuk terus belajar membantu profesional menyesuaikan diri tanpa harus terpaku pada pengalaman atau keahlian yang dimiliki saat ini.

Keamanan psikologis mendorong inovasi

Pelajaran keempat menyoroti pentingnya psychological safety atau keamanan psikologis di tempat kerja. Konsep ini merujuk pada kondisi ketika anggota tim merasa aman untuk menyampaikan pendapat, mengajukan ide, bertanya, atau mengakui kesalahan tanpa khawatir langsung dipermalukan atau dihakimi.

Menurut Alberta, lingkungan kerja yang terbuka dapat dibangun melalui kebiasaan mendengarkan dan pendekatan coaching. Dalam pendekatan tersebut, pemimpin tidak selalu memberikan jawaban secara langsung, tetapi membantu anggota tim mengembangkan kemampuan berpikir dan mengambil keputusan.

Misalnya, ketika seorang karyawan mengajukan usulan, pemimpin dapat mengajaknya mengevaluasi sejumlah alternatif, mempertimbangkan risiko, dan menjelaskan konsekuensi dari setiap pilihan. Proses ini memberi kesempatan kepada anggota tim untuk mengembangkan penalaran dan tanggung jawab terhadap keputusan yang diambil.

Pendekatan tersebut juga membantu membangun kepercayaan diri dan rasa memiliki terhadap pekerjaan. Ketika karyawan merasa pendapatnya didengar, mereka berpeluang lebih besar untuk terlibat dalam diskusi dan menyampaikan gagasan baru.

Meski demikian, keamanan psikologis bukan berarti menghilangkan standar kinerja atau menghindari evaluasi. Lingkungan kerja yang sehat tetap membutuhkan akuntabilitas, umpan balik yang jelas, dan kesediaan untuk memperbaiki kesalahan.

Budaya perusahaan harus tercermin dalam pengalaman pelanggan

Pelajaran kelima berkaitan dengan penyelarasan budaya organisasi, terutama di industri perhotelan. Alberta menilai budaya perusahaan perlu terhubung dengan perilaku karyawan dan pengalaman yang diterima pelanggan.

Dalam industri hospitality, karyawan berperan penting dalam menerjemahkan nilai dan identitas merek ke dalam pelayanan sehari-hari. Karena itu, penyelarasan antara people dan brand perlu dilakukan secara konsisten, meskipun setiap properti atau merek memiliki karakteristik berbeda.

Penyelarasan tersebut tidak cukup hanya melalui pernyataan nilai perusahaan atau komunikasi internal. Nilai organisasi perlu diterapkan dalam perilaku kerja, didukung pelatihan, serta diperkuat melalui komunikasi yang berkelanjutan.

Alberta juga mengingatkan bahwa transformasi organisasi tidak selalu harus dilakukan melalui perubahan besar sekaligus. Perbaikan bertahap yang dilakukan secara konsisten dapat membantu perusahaan menyesuaikan diri dengan perkembangan bisnis dan teknologi.

“Transformasi itu tidak harus revolusi. It’s an evolution, kecil-kecil. Transformasi itu yang akan jadi gunung dan yang pastinya harus terus relevan dengan perkembangan teknologi,” jelas Alberta.

Pandangan tersebut menekankan pentingnya menjadikan perubahan sebagai proses berkelanjutan. Organisasi perlu mengevaluasi cara kerja, mengembangkan kemampuan karyawan, dan menyesuaikan budaya agar tetap relevan dengan kebutuhan bisnis.

Jobstreet by Seek hadirkan diskusi dunia kerja

Diskusi mengenai servant leadership tersebut merupakan bagian dari podcast Power Talks yang digagas Jobstreet by Seek. Program ini menghadirkan profesional dan ahli di bidang rekrutmen serta sumber daya manusia untuk membahas tantangan dan perkembangan dunia kerja di Indonesia.

Episode “Servant Leadership untuk HR” dipandu Sawitri, Head of Country Marketing – Indonesia Jobstreet by Seek. Melalui diskusi tersebut, program ini membahas bagaimana kepemimpinan yang mengutamakan pelayanan dapat membantu organisasi membangun kepercayaan, menghadapi perubahan, serta mendorong perkembangan karyawan dan bisnis.

“Melalui Power Talks, kami ingin membawa percakapan yang lebih jujur, praktis, dan dekat dengan realitas dunia kerja. Harapannya, para profesional HR, pemimpin bisnis, dan pencari kerja bisa mendapatkan perspektif baru yang dapat langsung diterapkan,” ujar Sawitri.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.