Tiga Tahun Belajar Beratap Terpal, Mirisnya Potret Siswa SDN Karyamukti Cianjur
Selasa, 03 Nov 2026, 19:56 WIBCIANJUR -Â Setiap pagi, puluhan siswa berseragam putih-merah tampak bersemangat menuju SDN Karyamukti di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Mereka tetap belajar meski sebagian harus menempati ruang kelas beratap terpal tanpa dinding.
Selama tiga tahun terakhir, 60 siswa sekolah tersebut hanya dapat memanfaatkan empat ruang kelas. Kondisi itu terjadi setelah dua ruang kelas lainnya ambruk akibat gempa berkekuatan magnitudo 5,6 pada 2022.
Untuk menampung siswa kelas 5 dan 6, pihak sekolah terpaksa mendirikan ruang kelas darurat beratap terpal di halaman sekolah. Fasilitas sederhana tersebut menjadi alternatif agar kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung.
Tanpa dinding penyekat, ruang kelas darurat berukuran 6 x 4 meter persegi itu hanya mengandalkan papan tulis putih yang sudah rusak sebagai pembatas antarkelas. Tidak jarang kegiatan belajar harus dihentikan sebelum waktunya ketika hujan mulai turun.
Sementara itu, siswa kelas 1 hingga kelas 4 masih menggunakan ruang kelas yang kondisinya tidak layak dan rawan ambruk. Dinding bangunan dipenuhi retakan, mulai dari kerusakan kecil hingga retakan besar yang terlihat di hampir seluruh ruangan.
Bagian atap juga mengalami kerusakan. Sejumlah genting pecah atau bergeser dari tempatnya sehingga menyisakan lubang tanpa langit-langit. Ketika cuaca mulai mendung, pihak sekolah segera menghentikan kegiatan belajar untuk menghindari risiko bagi siswa.
Bangunan sekolah yang berdiri sejak 1965 itu belum pernah mendapat perbaikan menyeluruh. Setelah gempa pada 2022 itu, dua ruang kelas rusak nyaris rata dengan tanah, sedangkan empat ruang kelas lainnya mengalami kerusakan sedang hingga berat.
Hingga 2026, kondisi bangunan yang sebelumnya rusak sedang semakin memburuk dan sebagian yang rusak berat tidak lagi layak digunakan. Namun, ruang-ruang tersebut masih dimanfaatkan karena sekolah belum memiliki fasilitas pengganti.
"Ketika cuaca mendung sudah pasti kelas dibubarkan karena ruangan kelas yang tersisa kondisinya tambah rusak termasuk di bagian atap, sedangkan ketika kemarau anak-anak kerap mengeluh karena kelasnya beratap terpal," kata Kepala SDN Karyamukti Ninu Parwati, akhir Oktober 2026.
Kondisi ruang kelas yang rusak dan fasilitas darurat tidak menyurutkan semangat siswa untuk menuntut ilmu. Mereka tetap berupaya menyelesaikan pendidikan di sekolah yang berjarak sekitar 32 kilometer dari pusat Kabupaten Cianjur.
Ninu mengaku prihatin karena sejumlah sekolah lain yang masih memiliki ruang kelas layak telah beberapa kali mendapatkan perbaikan dan revitalisasi. Sementara itu, keluhan yang disampaikan pihaknya melalui dinas pendidikan selama ini hanya direspons dengan pemberian terpal baru untuk ruang kelas darurat.
"Kami berharap perbaikan agar siswa didik dapat belajar dengan tenang dan nyaman layaknya siswa di sekolah lain, kami bertahan karena sekolah terdekat dari lokasi cukup jauh membuat siswa harus berjalan sekitar 4 kilometer," katanya.
Kondisi SDN Karyamukti menjadi salah satu gambaran persoalan fasilitas pendidikan di Kabupaten Cianjur. Lebih dari 1.000 ruang kelas di daerah tersebut masih membutuhkan penanganan, dengan tingkat kerusakan yang bervariasi akibat bencana alam maupun faktor usia bangunan.
Urunan orang tua
Ketika dua ruang kelas darurat beratap terpal dengan penyangga bambu mulai rusak, pihak sekolah mengundang orang tua siswa untuk membahas upaya perbaikan. Mereka sepakat membantu semampunya agar kegiatan belajar mengajar terus berlangsung.
Sebagian besar orang tua menyumbangkan bambu, paku, kawat, dan berbagai bahan bangunan lainnya. Mereka juga bergotong royong memperbaiki ruang kelas agar tetap bisa digunakan, meskipun kondisinya masih jauh dari layak dan nyaman.
Ketika terpal mulai rusak, pihak sekolah kembali menghubungi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cianjur untuk meminta penggantian. Bantuan tersebut diperlukan agar 18 siswa kelas 5 dan 6 bisa mengikuti pelajaran.
Di tengah keterbatasan fasilitas, keberlanjutan pendidikan siswa tetap menjadi perhatian sekolah dan orang tua. Dalam tiga tahun terakhir, sekitar 20 siswa telah lulus dari SDN Karyamukti, 10 orang di antaranya melanjutkan pendidikan ke SMP negeri di Kecamatan Campaka.
Lulusan lainnya memilih melanjutkan pendidikan ke pondok pesantren dan pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) yang berlokasi di SDN Karyamukti.
Meski harus mengikuti pembelajaran hingga ujian akhir semester di ruang beratap terpal, prestasi siswa di sekolah itu tidak kalah dibandingkan dengan siswa yang belajar di sekolah dengan fasilitas lebih memadai.
Pihak sekolah juga mencatat seluruh lulusan tetap melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Bahkan, sejumlah lulusan yang memilih pondok pesantren tetap mengikuti pendidikan formal melalui PKBM Karyamukti.
Kondisi tersebut semakin memperkuat harapan pihak sekolah dan orang tua agar perbaikan ruang kelas yang rusak segera direalisasikan. Terakhir kali, sekolah mendapat perbaikan pada 2023 untuk ruang kelas 1 dan ruang guru.
Rencana penggabungan SDN Karyamukti dengan sekolah lain yang pernah diwacanakan beberapa tahun lalu juga ditolak sebagian besar orang tua. Mereka mempertimbangkan jarak sekolah pengganti yang cukup jauh serta tambahan biaya yang harus dikeluarkan untuk pendidikan anak.
"Kami berharap perhatian pemerintah daerah hingga pusat agar sekolah kami mendapat bantuan pembangunan, karena kondisinya sudah rusak berat dan siswa belajar dalam ancaman terutama ketika musim hujan," kata Ninu.
Sekolah rusak di Kabupaten Cianjur
Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Cianjur mencatat terdapat 8.984 ruang kelas sekolah dasar (SD). Dari jumlah tersebut, sebanyak 5.045 ruang dalam kondisi baik, 1.605 rusak ringan, 1.952 rusak sedang, dan 382 rusak berat.
Sementara itu, ada 458 sekolah menengah pertama (SMP) dengan 3.534 ruang kelas untuk menampung 97.183 siswa yang tersebar dalam 3.816 rombongan belajar. Pada jenjang tersebut, masih terdapat kekurangan sekitar 282 ruang kelas.
Dari total ruang kelas SMP, 2.287 ruang dalam kondisi baik, 676 rusak ringan, 282 rusak sedang, dan 289 rusak berat.
Penanganan ruang kelas yang mengalami kerusakan ringan menjadi tanggung jawab masing-masing sekolah. Perawatannya dapat menggunakan anggaran Bantuan Operasional Sekolah (BOS) sesuai ketentuan yang berlaku.
Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 8 Tahun 2026, anggaran BOS untuk biaya perawatan sekolah dibatasi maksimal 20 persen. Adapun ruang kelas dengan kerusakan sedang hingga berat menjadi tanggung jawab pemerintah untuk mendapatkan penanganan.
Bagi sekolah yang mengalami kekurangan ruang kelas, kegiatan belajar sementara diatur melalui sistem jadwal bergilir. Pengaturan tersebut dilakukan tanpa mengurangi jumlah jam belajar, terutama bagi siswa kelas 1 dan 2.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cianjur menargetkan perbaikan ruang kelas yang rusak sedang dan berat serta pemenuhan kekurangan ruang belajar jenjang SD dapat dituntaskan dalam dua tahun.
Kepala Disdikpora Cianjur Ruhli Solehudin mengatakan pemerintah daerah memberikan perhatian serius terhadap peningkatan kualitas sarana pendidikan. Pada 2026, anggaran akan dimaksimalkan untuk memperbaiki ruang kelas rusak sedang dan berat melalui APBD maupun APBN.
"Ini menjadi perhatian serius Pemkab Cianjur guna meningkatkan kualitas sarana pendidikan, di mana anggaran tahun 2026 akan dimaksimalkan untuk perbaikan ruang kelas rusak sedang dan rusak berat melalui APBD atau APBN," kata Ruhli.
Selain mengandalkan anggaran pemerintah, Disdikpora juga berupaya menghimpun dukungan dari berbagai sumber, termasuk pihak swasta. Pemerintah daerah turut mengusulkan bantuan kepada pemerintah pusat melalui program revitalisasi satuan pendidikan serta mengajukan bantuan keuangan kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat.
Ruhli berharap sinergi pendanaan dari pemerintah dan pihak swasta dapat mempercepat penanganan seluruh ruang kelas yang rusak dan kekurangan ruang belajar. Dengan demikian, target penyelesaian dalam dua tahun dapat tercapai.
Untuk sementara, keterbatasan ruang kelas di sejumlah sekolah diatasi dengan memanfaatkan bangunan yang masih layak atau mengalihfungsikan ruang penunjang pembelajaran.
"Saat ini, untuk menutupi kekurangan ruang kelas, kami meminta pihak sekolah memaksimalkan penggunaan ruangan penunjang seperti laboratorium, ruang perpustakaan dan ruang lainnya disulap menjadi kelas untuk sementara," katanya.
Mengejar target perbaikan sekolah
Tingginya jumlah ruang kelas yang membutuhkan perbaikan membuat pemerintah daerah harus melaksanakan pembangunan dan revitalisasi secara bertahap. Keterbatasan alokasi anggaran dalam APBD menjadi salah satu tantangan dalam mempercepat penanganan.
Pemkab Cianjur terus berkoordinasi dengan Pemprov Jawa Barat dan pemerintah pusat agar memperoleh dukungan program pembangunan serta revitalisasi sekolah dalam jumlah lebih besar setiap tahun.
Pada 2026, pemerintah daerah menargetkan peningkatan penanganan sarana dan prasarana sekolah rusak sebesar 20 persen. Kerusakan ruang kelas SD masih mendominasi, sebagian besar disebabkan bencana alam dan bangunan yang telah lapuk dimakan usia.
Pemkab juga menargetkan pembangunan dan revitalisasi ribuan sekolah di Cianjur dapat diselesaikan pada 2028, sehingga pada 2029 tidak ada lagi ruang kelas atau sekolah dalam kondisi rusak.
Bupati Cianjur Mohammad Wahyu Ferdian mengatakan berbagai upaya terus dilakukan untuk mengurangi jumlah sekolah rusak. Sebagian besar wilayah Cianjur merupakan kawasan rawan bencana, mulai dari banjir, tanah longsor, pergeseran tanah, hingga gempa bumi. Kondisi tersebut turut menyebabkan kerusakan fasilitas pendidikan.
"Perbaikan sarana dan prasarana sekolah yang rusak dari berbagai sumber mulai dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD), Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), pemerintah pusat, hingga bantuan dari berbagai pihak termasuk swasta," kata Wahyu.
Ia mengungkapkan keyakinannya jumlah sekolah yang diperbaiki akan meningkat dengan dukungan Pemprov Jawa Barat dan pemerintah pusat. Pemkab juga terus berupaya mengakses berbagai sumber pendanaan, termasuk dukungan perusahaan swasta di Cianjur.
- disdikpora cianjur
- sdn karyamukti
- sekolah rusak cianjur
- gempa cianjur
Redaktur: alfred
Penulis: Alfred, Antara
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.