Tanggul Sungai Jebol, Petani Aceh Panen Padi yang Terendam Banjir
Minggu, 25 Okt 2026, 15:13 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA
ACEH TAMIANG - Petani di Kecamatan Bendahara Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, terpaksa memanen padi secara manual menggunakan sabit di tengah banjir yang masih tinggi menggenangi sawah, akibat jebolnya tanggul sungai di wilayah setempat.
Salah seorang petani Desa Teluk Halban, Sugiono (36), Ahad, mengatakan sawah mulai terendam sejak air dari tanggul yang jebol di Desa Marlempang mencapai permukiman dan kawasan pertanian setempat.
"Sudah lebih dari sepekan sawah terendam. Awalnya ketinggian air sekitar satu meter lebih sehingga kami belum bisa memanen padi,” kata Sugiono.
Sebagai informasi, banjir akibat jebolnya tanggul sungai di Desa Marlempang, Kecamatan Bendahara, Kabupaten Aceh Tamiang telah menyebabkan areal persawahan di Desa Teluk Halban terendam saat padi memasuki masa panen.
Sugiono mengatakan, petani baru dapat memulai panen secara bertahap hari kesembilan setelah sawah terendam. Tetapi, kondisi tanaman yang terlalu lama terendam menyebabkan batang padi mulai membusuk dan bulirnya berguguran.
Untuk menyelamatkan hasil panen yang tersisa, petani menggunakan perahu karet atau perahu berbahan terpal saat memotong padi untuk dibawa ke darat. Cara tersebut ditempuh karena alat panen (mesin combine) tidak dapat beroperasi di tengah genangan banjir.
Sugiono menuturkan, petani juga kesulitan mendapatkan tenaga kerja. Sebagian pekerja menolak memanen karena kondisi sawah yang berat, air berbau, serta menimbulkan rasa gatal.
Keterbatasan alat panen dan sulitnya mencari tenaga kerja membuat proses panen membutuhkan waktu hingga beberapa pekan.
Sebelumnya, biaya panen mencapai Rp150 ribu per rantai. Namun, dalam kondisi saat ini, petani dan pekerja memilih sistem bagi hasil dengan pembagian masing-masing 50 persen dari hasil panen.
“Kalau tidak menggunakan sistem bagi hasil, padi kami terancam membusuk begitu saja karena tidak ada yang sanggup memanennya,” ujarnya.
Menurut Koordinator Kecamatan (Korcam) Kelompok Tani Merdeka ini, areal persawahan yang terdampak dikelola empat kelompok tani dengan luas masing-masing sekitar 25 hektare, dan jumlah petani lebih dari 100 orang.
Sebelum padi tenggelam, Sugiono mengaku telah berkoordinasi dengan petugas Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) untuk mengupayakan ketersediaan alat panen sebelum banjir mencapai persawahan.
Petani juga sempat bergotong royong memperkuat tanggul seadanya, tetapi derasnya aliran air tidak mampu dibendung.
“Kami berharap pemerintah memperbaiki tanggul sungai jebol secara permanen dan menyediakan alat panen yang bisa langsung dimanfaatkan petani agar kejadian serupa tidak terulang,” kata Sugiono.
Sementara itu, Datok Penghulu Desa Teluk Halban, Abdullah Boyak mengatakan genangan air mulai surut, tetapi sebagian besar persawahan masih terendam karena air belum dapat mengalir keluar secara optimal.
Ia menyebutkan, luas areal persawahan produktif di Desa Teluk Halban mencapai 62 hektare dengan pola tanam dua kali setahun. Sekitar 70 persen areal persawahan terdampak banjir ketika tanaman padi hampir memasuki masa panen.
“Petani seharusnya tinggal menunggu waktu panen, tetapi tingginya genangan membuat alat pertanian tidak bisa masuk. Sekarang mereka berusaha menyelamatkan hasil panen dengan peralatan seadanya,” kata Abdullah.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!