Maskapai AS Terpuruk, Harga Bahan Bakar Meroket bikin Laba Mulai Tergerus

Minggu, 25 Okt 2026, 16:00 WIB

NEW YORK - Saat maskapai-maskapai besar Amerika Serikat (AS) melaporkan hasil operasional kuartal ketiga (Q3) 2026 mereka, kenaikan biaya bahan bakar menekan margin keuntungan, meskipun permintaan perjalanan kuat.

Meski pendapatan mencetak rekor dan permintaan perjalanan kuat, biaya operasional yang lebih tinggi terus menggerus keuntungan dan melemahkan ekspektasi laba menjelang kuartal terakhir 2026.

Ket. Foto: — Sumber: AFP/Daniel Slim/Getty Images

American Airlines melaporkan rugi bersih sebesar 269 juta dollar AS pada Q3 2026, meskipun membukukan rekor pendapatan sebesar 16,3 miliar dollar AS.

Biaya bahan bakarnya naik 1,9 milliar dollar AS, atau 67,5 persen, dengan rata-rata biaya bahan bakar sebesar 3,85 dollar AS per-galon.

Maskapai tersebut memperkirakan akan membayar 4,7 dollar AS per galon pada kuartal keempat (Q4) 2026, hampir dua kali lipat harga yang dibayar pada Q4 2025, dengan beban bahan bakar kuartalan diproyeksikan naik sekitar 2,8 miliar dollar AS secara tahunan (year on year/yoy).

American Airlines juga menurunkan proyeksi setahun penuh, dengan memperkirakan kerugian yang disesuaikan sebesar 1 hingga 1,6 dollar AS per saham, dibandingkan proyeksi sebelumnya yaitu rugi 65 sen hingga laba 65 sen per saham.

Sementara itu, Southwest Airlines melaporkan tantangan serupa meskipun laba Q3-nya melampaui ekspektasi Wall Street.

Menurut siaran pers Southwest Airlines, maskapai yang berbasis di Dallas itu, membukukan laba bersih sebesar 270 juta dollar AS dengan pendapatan operasional naik 21,2 persen menjadi 8,4 miliar dollar AS, rekor Q3 bagi perusahaan.

Namun, beban bahan bakar Southwest Airlines naik 821 juta dollar AS dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dan biaya bahan bakar Q3-nya mencapai 3,92 dollar AS per galon, di atas asumsi sebelumnya yang sebesar 3,7-3,75 dollar AS per galon.

"Permintaan tetap kuat seiring kami melewati periode penerapan biaya bagasi tahun lalu dan inisiatif komersial lainnya, yang memperkuat keyakinan kami bahwa kekuatan laba yang telah kami bangun bersifat tahan lama, bahkan dengan biaya bahan bakar yang jauh lebih tinggi," kata CEO Southwest Airlines Bob Jordan dalam siaran pers mengenai pendapatan Q3 2026 perusahaan tersebut.

"Kami tetap yakin akan kemampuan kami untuk memperkuat laba, meningkatkan imbal hasil, dan memperluas margin seiring waktu," kata Bob.

Southwest Airlines mengasumsikan biaya bahan bakar Q4 2026 sekitar 4,55 dollar AS per galon, berdasarkan kurva berjangka (forward curve) per 15 Oktober 2026.

United Airlines pada Selasa (20/10) melaporkan pendapatan Q3 2026 sebesar 17,9 miliar dollar AS, naik 17,4 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, dengan laba bersih mencapai 1 miliar dollar AS. Namun, beban bahan bakarnya naik 1,8 miliar dollar AS, atau 62 persen, dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menurut laporan laba Q3 2026 perusahaan tersebut.

United Airlines memperkirakan akan membayar sekitar 4,8 dollar AS per galon untuk bahan bakar pada Q4 2026, dibandingkan 3,9 dollar AS pada Q3 2026. Maskapai tersebut memproyeksikan laba yang disesuaikan sebesar 50 sen hingga 1,5 dollar AS per saham untuk Q4 2026, di bawah ekspektasi Wall Street. Ant

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Deri Henriawan

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.