PBB Sebut Komitmen Iklim Dunia Masih Jauh dari Target Paris

Kamis, 22 Okt 2026, 01:00 WIB

PARIS - Komitmen global untuk mengurangi emisi gas rumah kaca masih jauh dari target Perjanjian Paris dan menempatkan dunia pada jalur menuju pemanasan global sebesar 2,6 derajat Celsius pada 2100, demikian peringatan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Rabu (21/10).

Laporan tahunan Emissions Gap Report yang dirilis Program Lingkungan PBB (UNEP) mengungkap kesenjangan antara komitmen dan tindakan nyata dalam mengatasi perubahan iklim, menjelang Konferensi Perubahan Iklim PBB COP31 pada November mendatang.

Ket. Foto: Pemanasan Global — Sumber: afp

Bahkan jika seluruh negara memenuhi komitmen iklim terbaru mereka, suhu global diperkirakan tetap meningkat 2,6 derajat Celsius di atas tingkat praindustri pada akhir abad ini. Sementara itu, jika hanya mengandalkan kebijakan yang berlaku saat ini, pemanasan global dapat mencapai 2,8 derajat Celsius.

Angka tersebut jauh melampaui target Perjanjian Paris untuk membatasi kenaikan suhu global di bawah 2 derajat Celsius dan mengupayakan batas yang lebih aman, yakni 1,5 derajat Celsius.

Dilansir dari AFP, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan dunia tidak lagi dapat menghindari terlampauinya ambang pemanasan 1,5 derajat Celsius, sementara dampaknya sudah dirasakan melalui banjir mematikan, gelombang panas, kebakaran hutan, serta kerugian ekonomi dan korban jiwa.

“Dunia tidak lagi dapat menghindari melampaui batas 1,5 derajat, dan konsekuensinya sudah sangat menghancurkan,” kata Guterres.

Menurut laporan tersebut, emisi gas rumah kaca global pada 2025 secara umum masih setara dengan rekor tertinggi pada 2024. Emisi karbon dari pembakaran batu bara, minyak, dan gas bahkan meningkat tipis dibandingkan tahun sebelumnya.

Guterres menegaskan pemangkasan emisi secara drastis dan segera diperlukan untuk melindungi manusia dari dampak perubahan iklim yang semakin parah. Namun, emisi masih bertahan pada tingkat rekor, sedangkan rencana iklim nasional dan kebijakan yang berlaku belum memadai.

Dunia saat ini telah menghangat sekitar 1,4 derajat Celsius dibandingkan masa praindustri dan diperkirakan melampaui ambang 1,5 derajat Celsius dalam beberapa tahun mendatang. Para ilmuwan memperingatkan setiap tambahan pemanasan meningkatkan risiko cuaca ekstrem dan perubahan yang berpotensi tidak dapat dipulihkan, termasuk kematian terumbu karang dan pencairan lapisan es.

Kelompok negara G20 menyumbang sekitar tiga perempat emisi global. Karena itu, Guterres mendesak seluruh negara, terutama penghasil emisi terbesar, meningkatkan upaya pengendalian pemanasan global.

Emisi Meningkat

Salah satu penulis laporan UNEP, Anne Olhoff, mengatakan proyeksi pemanasan global terbaru lebih buruk dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi tersebut dipengaruhi penarikan resmi Amerika Serikat (AS) dari Perjanjian Paris serta revisi peningkatan estimasi emisi historis.

Data awal 2025 menunjukkan emisi meningkat di AS, Indonesia, dan Tiongkok, sementara India, Russia, dan Uni Eropa mencatat penurunan. Peningkatan emisi AS mencapai 133 megaton setara karbon dioksida, jauh melampaui kenaikan di negara lain, didorong peningkatan permintaan listrik dan kembali meningkatnya penggunaan pembangkit listrik tenaga batu bara.

AS merupakan penghasil emisi terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok. Presiden AS Donald Trump menolak pandangan ilmiah mengenai perubahan iklim dan membatalkan sejumlah kebijakan energi bersih, sekaligus mendorong peningkatan produksi bahan bakar fosil.

Sekretaris Eksekutif UNEP Inger Andersen mengatakan tidak ada negara yang terlindungi dari dampak perubahan iklim, termasuk AS.

Meski peluang membatasi pemanasan hingga 1,5 derajat Celsius semakin kecil, laporan itu memaparkan skenario yang masih memungkinkan suhu kembali ke tingkat tersebut pada 2100 dengan peluang 50 persen.

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: AFP, Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.