Hujan Tak Kunjung Turun, Cianjur Antisipasi Dampak Kemarau Panjang

Kamis, 22 Okt 2026, 01:02 WIB

CIANJUR – Sebenarnya kemarau telah berlangsung lama, pertanyaannya mengapa Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, baru melakukan koordinasi dengan berbagai pihak untuk mengantisipasi dampak musim kemarau terhadap lahan pertanian terutama yang bergantung pada pasokan air irigasi.

Kepala Bidang Tanaman DTPHP Cianjur Dandan Hendayana di Cianjur, Rabu, mengatakan koordinasi dilakukan lintas sektor mulai dari pemerintah pusat, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), Dinas PUTR Cianjur hingga pemerintah provinsi.

Ket. Foto: menanti hujan turun — Sumber: ist

Salah satu langkah yang dilakukan adalah memperbarui jadwal pembagian air agar lahan persawahan tetap mendapatkan pasokan air selama musim kemarau panjang yang masih terjadi hingga pertengahan Oktober.

“Kami sudah melakukan pertemuan dengan BBWS untuk memutakhirkan jadwal pembagian air, sehingga saat terjadi kekeringan lahan sawah tetap dapat teraliri air dan masih bisa berproduksi,” katanya.

Saat ini, tutur dia, debit air Sungai Citarum dan Cisokan mengalami penyusutan meski hujan sudah mulai turun di sejumlah kecamatan di Cianjur pada akhir September menjadi faktor yang diharapkan dapat membantu menjaga ketersediaan air.

Pihaknya mengoptimalkan program yang telah tersedia termasuk kegiatan di bidang irigasi dari sisi anggaran karena tidak terdapat pos khusus dalam APBD yang dialokasikan untuk penanganan kekeringan khusus lahan pertanian.

Terdapat dukungan dari pemerintah pusat berupa bantuan pompa air untuk mengantisipasi kekeringan yang dapat dipinjam kelompok tani di seluruh wilayah di Cianjur, dimana selama musim kemarau pihaknya telah meminjamkan ke kelompok tani di delapan kecamatan.

Pelaksanaannya dilakukan melalui koordinasi lintas sektor dengan instansi terkait, sehingga menghadapi potensi kemarau yang berkepanjangan, pihaknya kembali berkoordinasi dengan BBWS dan PUPR untuk memetakan jaringan irigasi yang membutuhkan perbaikan.

"Ini dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga pasokan air bagi lahan pertanian terutama menjelang musim tanam pertama di  Oktober dan Desember," katanya.

Meskipun BMKG menyatakan El Nino berpotensi berlanjut hingga awal 2027, pihaknya telah mempersiapkan sejumlah penanganan termasuk meminjamkan pompa ke wilayah yang masih memiliki persediaan atau sumber air serta memetakan jaringan irigasi yang perlu diperbaiki.

  • Antisipasi Kemarau

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Aloysius Widiyatmaka

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.